Zhongzhua Primary School

Redaksi 03 Juni 2018

 Anjuran untuk membaca telah bergaung sejak lama. Mungkin sejak manusia mengenal peradaban baca-tulis. Tak terhitung tokoh-tokoh terkemuka yang menganjurkan supaya kita membaca. Bahkan perintah Tuhan sekaligus ayat pertama dalam Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad berbunyi, “Bacalah”.

 Namun membuat kita gemar membaca ternyata bukan perkara gampang. Meskipun sudah banyak bukti yang menunjukkan betapa kebiasaan membaca ini memiliki dampak yang luar biasa. Kita bisa mengetahuinya melalui kisah hidup orang-orang hebat dan kaitannya dengan kebiasaan mereka membaca. Misalnya Abraham Lincoln. Terlahir dari keluarga petani miskin, Lincoln sangat gemar membaca. Dia banyak belajar tentang hukum dari buku-buku yang dipinjamkan oleh seorang pengacara yang melihat semangat belajarnya yang besar. Sampai dia berhasil menjadi pengacara meskipun tidak melalui pendidikan formal. Hingga akhirnya terpilih menjadi presiden ke-16 Amerika Serikat dan berhasil menghapus perbudakan di negeri Paman Sam tersebut. Dia adalah salah satu presiden yang paling dihormati oleh rakyat Amerika hingga sekarang.

Di Indonesia, kita punya Bung Hatta. Beliau sangat gemar membaca sehingga koleksi bukunya begitu banyak. Ketika di buang ke Banda Neira oleh Belanda, Bung Hatta membawa tak kurang dari 14 peti buku. Dari bacaannya yang luas itulah, Bung Hatta dianggap sebagai salah satu pemikir utama dibalik kemerdekaan Indonesia sekaligus peletak dasar-dasar kehidupan bernegara kita.

 Masih banyak sekali contoh yang lain. Kalau Anda berkenan, silahkan telusuri nama-nama berikut di google: Andrew Carnegie (raja baja abad 18 di Amerika Serikat), Stephen Hawking (pencetus teori Lubang Hitam), Bill Gates (pendiri Microsoft), Elon Musk (pendiri Tesla Motor) dan Mark Zukerberg (pendiri Facebook). Kehidupan dan keberhasilan mereka tidak lepas dari kegemaran membaca.

Budaya membaca dan terampil membaca

Sayangnya, masyarakat kita tetap saja belum suka membaca. Riset yang dilakukan UNESCO mengungkapkannya. Pada 2012, dimana angka melek huruf kita sudah tinggi yaitu di kisaran 95% (bps.go.id), indeks minat baca kita hanya 0,001 (unesco.org). Artinya, dari setiap 1.000 orang hanya 1 orang yang minat bacanya tinggi. Jika jumlah penduduk Indonesia pada 2012 adalah 248,9 juta jiwa (worldbank.org) maka hanya ada 233.966 orang yang minat bacanya serius. Dibandingkan dengan Singapura yang memiliki indeks minat baca di angka 0,45 (45 dari 100 orang memiliki minat baca yang tinggi), kita begitu jauh tertinggal.

Data penjualan buku di Gramedia juga mengkonfirmasi rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Pada 2014, Gramedia mampu menjual sekitar 20 juta buku non-pelajaran sekolah dengan nilai sekitar 1 triliun rupiah. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Sayangnya, jika diasumsikan pembeli 20 juta buku tersebut adalah kalangan kelas menengah Indonesia yang pada 2014 berjumlah sekitar 150 juta (worldbank.org), maka prosentasenya baru mencapai kisaran 13,3%. Artinya, jika dirata-rata, dari setiap 100 orang hanya ada 13 orang yang masing-masing membeli 1 buku dalam satu tahun. Atau, kurang lebih hanya 1 orang dari tiap 10 orang yang membeli 1 buku dalam satu tahun. Meminjam istilahnya Bang Haji Rhoma Irama: ter-la-lu……   

Karena itulah, kita semestinya tidak terkejut melihat hasil perbandingan keterampilan membaca masyarakat kita dengan negara-negara lain. Kita lihat saja survey international PIAAC (Programme for International Assessment of Adult Competency) dan PISA (Programme for International Students Assessment) yang digelar oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). PIAAC adalah survey yang digelar untuk mengukur kompetensi orang dewasa berusia 16-65 tahun untuk keterampilan membaca, sains dan matematika. Sedangkan PISA bertujuan mengukur keterampilan membaca, sains dan matematika pelajar berusia 15 tahun.

Untuk keterampilan membaca, hasil PIAAC (OECD.org) yang digelar pada 2015 menempatkan Indonesia pada peringkat terakhir dari 34 negara yang berpartisipasi. Jauh di bawah Singapura (24), Korea (15), dan Jepang (1). Mirisnya, dari 4 level keterampilan membaca yang dibuat, 70% responden berada di bawah level 1. Pada level ini, pembaca hanya mampu membaca teks singkat yang topiknya familiar untuk menemukan satu buah informasi saja. Level ini hanya membutuhkan penguasaan kosakata tingkat dasar dan tidak perlu memahami struktur kalimat atau paragraph. Parahnya lagi, pembaca yang berada pada level 4 (tertinggi) tidak sampai 1%. Padahal, seluruh responden diambil hanya dari wilayah Jakarta.

 Bagaimana dengan keterampilan membaca pelajar usia 15 tahun kita? Pada tahun 2015 kita juga berpartisipasi dalam program PISA. Secara umum, OECD menyimpulkan bahwa keterampilan membaca siswa kita tidak berubah sejak 2006. Dengan skor di bawah rata-rata keterampilan membaca siswa dari 72 negara yang berpartisipasi sebesar 490, kita berada di urutan 66 dengan skor 397. Kita berada di bawah Thailand di urutan 59 (skor 409), Malaysia di urutan 49 (skor 431), Vietnam di urutan 32 (skor 487), dan Singapura di urutan 1 (skor 535).

Belajar dari Singapura: menjadi pembelajar seumur hidup

Tentu saja ada seabrek alasan untuk membela diri. Tapi dari pada sibuk mencari pembenaran, alangkah baiknya kita belajar dari Singapura. Berada di peringkat 1 mengalahkan Finlandia, Kanada dan Jepang bukan perkara mudah bukan? Barangkali, ada cara-cara Singapura yang bisa kita adaptasi agar bisa diterapkan di Indonesia. Pada tataran kebijakan atau manajemen, mungkin para pengambil kebijakan di kementerian terkait sudah belajar dari Singapura. Karena itu saya akan menceritakan apa yang terlihat di lapangan.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya bersama sejumlah guru sekolah dasar swasta di Surabaya berkunjung ke sebuah sekolah dasar di Singapura. Dalam salah satu sesi acara, kami diajak ke perpustakaan. Koleksi bukunya mencapai 18 ribu buah. Untuk ukuran sekolah dasar, jumlah ini tentu sangat banyak. Semua bukunya bagus dan bermutu. Kebanyakan keluaran penerbit internasional. Koleksinya juga selalu up-to-date. Penataan rak-raknya dan pembagian ruangannya benar-benar bagus. Masuk ke sana serasa masuk ke sebuah toko buku ternama di Indonesia. Luas, bersih, dingin dan nyaman. Menurut Wakil Kepala Sekolah yang mendampingi kami, semua perpustakaan di sekolah dasar di Singapura seperti itu. Karena memang seperti itulah standar perpustakaan sekolah dasar di sana.  

Siswa didorong agar suka membaca dan mengunjungi perpustakaan. Setiap bulan, dari setiap level kelas, dipilih satu siswa yang paling banyak meminjam buku. Nama-nama siswa tersebut dicetak dan dipajang di papan pengumuman yang ada di perpustakaan. Siswa juga didorong membuat beragam kegiatan di dalam perpustakaan. Bisa berupa riset sederhana atau main drama. Risetnya biasanya juga berkaitan dengan buku-buku yang tersedia. Misalnya membuat daftar buku seorang penulis ternama yang dikoleksi perpustakaan. Begitupun dengan main drama, yang disediakan tempat khusus di dalam perpustakaan. Drama yang dimainkan adalah cerita dari buku yang dipinjam di perpustakaan. Kegiatan-kegiatan tersebut juga diapresiasi. Setiap bulan akan dipilih 1 pelaku kegiatan dari tiap level kelas yang kegiatannya dianggap paling bagus. Namanya akan dicetak dan dipajang di papan pengumuman.

Selain itu, buku-buku yang disediakan sangat beragam dan diberi ‘grade’. Dari yang gradenya rendah (untuk pembaca pemula) hingga yang gradenya tinggi tersedia dalam jumlah yang memadai. Hal ini bertujuan agar siswa bisa menikmati kegiatan membaca karena tidak kesulitan memahami kosakata dan struktur kalimat bacaan. Jika di dalam kelas siswa diajarkan membaca untuk menghadapi tes (intensive reading), maka di perpustakaan siswa didorong agar suka dan menikmati kegiatan membaca (extensive reading).

Para petugas perpustakaan juga sangat menguasai koleksi perpustakaan dan ringan tangan jika ada siswa yang kesulitan dan membutuhkan bantuan. Meski sangat tegas menegakkan peraturan, mereka tidak akan bermuka masam apabila dimintai pertolongan.

Pada beberapa bagian dinding perpustakaan, dibuat semacam mural gambar orang-orang terkenal dari seluruh dunia dan anjuran mereka untuk membaca. Mulai dari Mark Twain, J. K. Rowling, hingga mendiang Perdana Menteri Lee Kwan Yew tergambar di mural tersebut. Berikut adalah kutipan dari mendiang Lee Kwan Yew: “You must read. It’s one way of getting information. But you’ve got to read what’s relevant, not only what you are interested in.”  Mungkin ini salah satu yang membedakan dengan Indonesia. Bapak pendiri negara menganjurkan langsung agar rakyatnya mau membaca. Anjuran yang seperti perintah.

Pada waktu-waktu yang telah dijadwalkan, para siswa juga diminta untuk berdandan, mengenakan pakaian atau aksesoris tokoh yang mereka suka dari buku yang telah mereka baca ketika datang ke sekolah. Bakal ada Harry Potter, Winnie the Pooh, Cinderella, Percy Jackson, dan ratusan tokoh lain yang akan muncul, belajar dan bermain di sekolah. Dibayangkan saja bakal seru, apalagi dilaksanakan.

Satu hal lagi, secara berkala pihak sekolah akan mengundang penulis ternama datang ke sekolah. Tidak hanya berjabat tangan, minta tanda tangan atau foto bersama, para siswa akan diajak berinteraksi langsung dengan penulis ini. Mereka bisa bertanya dan mendengar secara langsung beragam tips menulis dan suntikan semangat dari sang penulis.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah dasar di Singapura di atas hampir semuanya bertujuan membuat siswanya suka membaca (extensive reading). Dan itu bukannya tanpa alasan. Mereka memahami bahwa siswa yang suka membaca tidak akan berhenti membaca meskipun sudah tidak sekolah lagi. Sehingga mereka akan menjadi pembelajar seumur hidup. Dan bisa menjaga Singapura tetap menjadi negara maju yang sejahtera.

Bersediakah kita mencontoh merekamereka? (Achmad Nurjubaedi, Manajer Lembaga Kursus Bahasa Inggris 'English Light' Surabaya)

Tags: