Watanabe, Inspirasi untuk Indonesia

Redaksi 27 Januari 2019

“Saya akan tetap belajar bahasa Indonesia seminggu sekali agar saya tidak pikun,“ kata Watanabe (94), salah satu mantan murid Imelda saat makan siang bersama. Imelda pun mencoba menahan tangis haru mendengar pernyataannya yang telah membuatnya terus belajar di tengah aktifitas Imelda mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Senshu, Kanagawa dan Universitas Waseda, Tokyo, Jepang. 

Empat tahun lamanya dirinya dan Watanabe tak saling jumpa. Sepekan lalu, Imelda memutuskan menghubungi Watanabe pria kelahiran 18 April 1915. Meskipun umur mulai uzur, namun ingatannya tetap “tedas” mengingat setiap suara dalam telpon. 

Watanabe mengajaknya minum kopi. Dirinya pun menerima jadwal minum kopi berdua di Stasiun Meguro jam 11 siang waktu setempat. Tapi sebelumnya Imelda harus menuntaskan urusan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang. 

Keesokan harinya, usai menyelesaikan urusannya, dia berjalan terengah menuju Stasiun. Imelda berjanji untuk tepat waktu agar tidak mengecewakan Watanabe. Jam 11 kurang lima menit dirinya pun sampai stasiun, ternyata Watanabe sudah menunggu.

“Sensei… ,” teriak Watanabe. Tanpa basa-basi, ia menjabat tangan kemudian memeluk Imelda. 

Imelda terharu, tetapi juga keheranan melihat lelaki Jepang memeluk perempuan di tempat umum. Suatu yang tidak lazim dilakukan oleh lelaki manapun juga di Jepang, meskipun istrinya sendiri. 

Watanabe masih sehat di usia senjanya. Matanya awas, pendengarannya tajam. Meskipun kakinya mulai lemah, ia menolak memakai tongkat. Imelda sangat menghormati Watanabe yang dianggapnya sebagai bapaknya sendiri. Imelda sangat amat nyaman berjalan dengannya, sebagai seorang guru dan murid juga anak dan orangtua. 

Mereka pun berjalan menuju lantai atas gedung stasiun.  Tiba-tiba “Bruk….” , Watanabe terjatuh saat menaiki tangga eskavator. Ia tidak mengeluh, hanya mengisap jari tengahnya yang berdarah.   

“Tidak apa-apa, biasa ini,“ kata Watanabe. 

Sambil menunggu pesanan Soba, Imelda memasangkan plester luka di jari Watanabe. 

“Aku pernah berdosa besar padanya. Waktu aku masih mengajarnya, dia memberikan aku tiket makan di restoran soba dekat rumahku. Tapi aku tidak pakai sampai hangus dan aku menyesal,“ kata Imelda dalam hati. 

“Tidak apa sensei, memang kalau sudah tua suka begini gampang jatuh! Tidak apa-apa. Nanti juga kering lukanya,”  kata Watanabe sambil melirik lukanya. 

Tak lama kemudian, Soba sudah terhidang di depan mereka. Aroma makanan khas Jepang itu menggoyahkan rasa lapar. Imelda sendiri sebenarnya agak kehilangan nafsu makan. Bukan lantaran dia takut melihat luka dan darah yang terus mengucur di jari Watanabe. Bisikan pun berkecambuk dalam hatinya; manusia yang renta mudah luka, mudah jatuh, mudah goyah dan sewaktu-waktu bisa saja si renta itu tiba-tiba tidak ada lagi di hadapannya. 

Imelda berusaha bercakap-cakap ringan, sambil memperhatikan Watanabe makan, jangan sampai tersedak. Jangan sampai dia emosi waktu menjawab, bisa-bisa nanti salah masuk. Imelda selalu tunggu dia selesai mengunyah dulu baru diajaknya bercakap-cakap. 

Watanabe bukanlah orang biasa. Kariernya di perusahaan dagang Mitsui Bussan sangatlah luar biasa. Lulusan Ekonomi Universitas Tokyo Teikoku itu pernah bertugas di Hamburg, Jerman selama 4 tahun. Karena pengalaman di Jerman ini, dia bisa berbahasa Jerman dan anak lelakinya yang sekarang tinggal bersamanya juga bisa berbahasa Jerman dan menjadi penerjemah.

Perusahaan tempat Watanabe bekerja itu punya jaringan yang luas, termasuk di Indonesia. Imelda sering mengajar bahasa Indonesia kepada pengawai Mitsui Bussan yang akan ditugaskan ke Indonesia. Meskipun hingga akhir pensiun, Watanabe tak pernah mendapat tugas ke Indonesia. Namun, Ia kagum dengan bahasa Indonesia.  

Awalnya, saat ia berusia 83 tahun, tanpa sengaja ia mendengar bahasa Indonesia yang diajarkan di salah satu sekolah di Tokyo. Keinginan untuk belajar bahasa Indonesia kian bertambah setelah ia bertemu dengan salah satu orang Indonesia yang saat itu mengajar bahasa Jepang sebagai volunter di Kelurahan Meguro. 

“Bahasa Indonesia indah bunyinya,” cerita Watanabe kepada . Imelda 

Rasa ingin tahu yang memuncak itulah yang menggerakkan kaki Watanabe ke rumah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Ia pun mendapat informasi dari Herlino Suleman, pengarang buku “Pintu Tertutup Salju”, soal kursus bahasa Indonesia di Kedutaan RI yang diadakan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. 

Herlino juga mengajar di KOI (Kursus Orientasi Indonesia), tapi ia tidak mengajar Watanabe yang harus masuk kelas pemula bahasa Indonesia yang diajar oleh Imelda. Watanabe pun masuk kelasnya yang jumlah muridnya mencapai 40 orang.  

Saat Watanabe belajar bahasa Indonesia itulah masa dimana bahasa Indonesia banyak digemari masyarakat Jepang. Semua kursus dipenuhi peserta, sampai membludak. Guru Bahasa Indonesia dicari-cari. Dan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat aku mengajar di lobby SRIT, karena itu satu-satunya tempat yang bisa menampung 40 orang. 

Seiring bertambahnya hari, entah mengapa, jumlah siswa pun menurun. Tapi Watanabe tak pernah absen bahkan Ia menekuninya sampai ke level tinggi.

Hingga akhirnya, Watanabe berhenti belajar di KOI setelah ia tahu Imelda mengajar kelas lanjutan di sebuah Culture Center. Ia pun mengikuti Imelda di Culture Center, dimana Imelda harus mengajar 3 lansia dari 9 murid bahasa Indonesia. Selain Watanabe, ada juga Fukuoka dan Asaga. 

Watanabe masih terus belajar di Culture Center itu sampai sekarang. Meskipun Imelda sendiri sudah berhenti mengajar di sana sejak 5 tahun yang lalu. Bagi Watanabe, bahasa Indonesia itu sangatlah menarik dipelajari, meskipun hingga kini ia belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia. 

Kalaupun Imelda punya hak untuk mencalonkan penerima Bintang Maha Putra atau penghargaan lainnya, ingin dia calonkan nama bapak Watanabe ini dalam nominasi. Yang pasti, semangatnya akan selalu Imelda patri dalam ingatannya. 

“Seharusnya para alumni KOI membuat reuni ya,” kata Watanabe membuka percakapan. 

Tapi Ketua persatuan alumni Fukuoka sudah meninggal…. “OK nanti saya coba bicara dengan ibu Hikita, supaya kita mengadakan acara reuni.  Nanti saya kasih tahu hasilnya,” jawab Imelda. 

Mereka pun mengakhiri pertemuan dengan berjabat tangan dan berpelukan lagi. Tapi Imel tahu pelukan ini agak lemah dibanding waktu berjumpa tadi. Imelda cuma bisa berdoa, Tuhan lindungi dia dalam perjalanannya setiap hari Sabtu untuk belajar bahasa Indonesia. Dirinya tahu di usia Watanabe yang uzur, ia harus naik kereta dan berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya sampai tempat kursus. 

Imelda berbalik ke arah stasiun dan melepaskan tangisan yang sejak tadi ditahannya. 

Lalu dirinya berkata dalam hati, “jika aku bisa hidup sampai 94 tahun, masihkah aku akan belajar terus seperti halnya Watanabe yang kukagumi?“ (Pengalaman Imelda Emma Veronica Coutrier-Miyashita Indonesian Language Lecturer at Senshu and Waseda University, Japan Former Radio Personality at InterFM)

Tags: