Urgensi Penguasaan Bahasa Pergaulan Dunia

Redaksi 30 Mei 2019

Mengangkat strategi menulis kisah perjalanan di Gemes (Gerakan Menulis Siswa) sama Guru pada Semarak Hardiknas Jatim 2019 pada 23 April 2019 bukan tanpa alasan.

Materi-materi menarik seperti mendokumentasikan jalan-jalan lewat tulisan, tidak bertele-tele dalam menulis kisah perjalanan, kreatif memanfaatkan kisah perjalanan untuk penguatan pendidikan karakter di kelas, ke mancanegara gratis dengan menulis, tren literasi yang berkembang di mancanegara dan membangun jejaring literasi internasional sebenarnya untuk memancing serta memotivasi peserta agar semakin tertarik belajar berbagai macam bahasa khususnya bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional

Mau tidak mau, kehidupan ini makin mengglobal, manusia makin mudah melintas dari satu negara ke negara yang lain terlebih dimanjakan oleh maju dan canggihnya teknologi internet saat ini.

Untuk itu literasi terhadap bahasa internasional pun sudah tidak lagi dapat dinomorduakan. Demi mampu bekerjasama/bermitra dan menjalin pertemanan dengan masyarakat dunia yang bahasa kesehariannya berbeda, tentunya menuntut bangsa ini menguasai bahasa penghubung antar negara baik lisan maupun tulisan

Dengan begitu, untuk menjawab semua tantangan tersebut, sekolah perlu mengadopsi konsep literasi global pada aktivitas literasi di sekolah, diantaranya peduli akan penguasaan anak didik (siswa) terhadap bahasa internasional dan strategi membangun jejaring internasional melalui diplomasi budaya.

Hasil UN bahasa Inggris

Penerapan literasi global di Indonesia pada kenyataannya masih menjadi tantangan tersendiri bagi Kemendikbud. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah masih kurangnya pemahaman serta penguasaan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional oleh siswa SMP dan SMA.

Nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) 2019 jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sendiri menunjukkan hasil ‘kurang’ pada ujian bahasa Inggris. Berdasarkan laporan hasil UN di situs www.puspendik.kemdikbud.go.id, capaian nilai rata-rata nasional untuk mata pelajaran bahasa Inggris jenjang SMP 50,2 dan MTs 45,9.

Sementara itu, nilai rata-rata bahasa Inggris jenjang SMA jurusan Bahasa mencapai 47,4, jurusan IPA 53,5 serta jurusan IPS 44,6. Untuk SMK, nilai rata-rata bahasa Inggrisnya 41,7. Angka ini dinyatakan masih kurang sebab di bawah standar kompetensi nilai UN yaitu 55.

Khusus di Provinsi Jawa Timur, nilai rata-rata bahasa Inggris untuk SMP/MTs 51,15. Untuk jenjang SMA jurusan Bahasa nilai rata-rata bahasa Inggris 53,6; SMA jurusan IPA 56,5; serta SMA jurusan IPS 44,9.

Meski demikian, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Totok Suprayitno, menyatakan nilai rata-rata UN jenjang SMP dan SMA/SMK ada kenaikan. Dibanding tahun 2018, nilai UN Bahasa Inggris jenjang SMA/SMK naik 1,19 poin, sedangkan untuk SMP kenaikannya tipis yaitu di bawah satu poin.

Bahasa ilmu pengetahuan & teknologi

Bahasa Inggris bukan hanya elemen dasar melakoni pergaulan internasional. Namun juga sebagai sumber dari revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi. Setuju atau tidak, jelas di hadapan kita jurnal maupun buku-buku ilmu pengetahuan terbaru terbit dalam bahasa Inggris

Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan memudahkan masyarakat Indonesia lebih mandiri. Dasar-dasar teori ilmu pengetahuan dan teknologi memang sebagian sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun yang belum diterjemahkan masih lebih banyak.

Masyarakat Indonesia tidak harus menunggu artikel atau buku terjemahan, karena dengan membaca artikel atau buku teks asli bisa lebih cepat dan tepat.

Sisi lainnya, penguasaan bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat Indonesia dapat memudahkan mereka mengenal beberapa perangkat teknologi komunikasi internasional yang baik.

Hasilnya masyarakat dapat melakukan koneksi dan membangun jaringannya sendiri ke luar negeri secara fisik maupun daring/online baik untuk kemajuan pendidikan/ilmu pengetahuan, teknologi, industri kreatif, seni - budaya dan berbagai hal positif lain

Mengutip pendapat mantan Mendikbud Anies Baswedan di http://lampung.antaranews.com/, pendidik yang mampu melatih kemampuan bahasa asingnya lebih baik, akan dapat pula melakukan transfer ilmu dari sumber luar dengan baik dan terhindar dari distorsi pemahaman intelektual

Tentunya hal tersebut akan memperluas pengetahuan siswa. Hasilnya, mereka akan siap jika harus bersaing dengan orang asing saat bekerja karena telah memiliki pemahaman kelimuan yang luas dan kemampuan bahasa asing yang baik

Semoga dengan kepedulian dunia pendidikan akan penguasaan bahasa internasional dan strategi membangun jejaring internasional melalui diplomasi budaya, generasi muda Indonesia tidak KO (knockout) dalam pergaulan dunia, karena kemampuan yang OK terhadap kedua hal tersebut ke depan. (Bagus Priambodo)

Tags: