Upaya Pembuatan Kebijakan Berdasarkan Data & Riset

Redaksi 06 Desember 2021

Bandung, 4 Desember 2021 --- Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengadakan seminar hasil penelitian tahun 2021 dengan mengusung tema “Memulihkan Pembelajaran dan Kebudayaan di Tengah Pandemi” pada tanggal 29 November - 2 Desember 2021. Dalam forum ini, para peneliti dan analis kebijakan PSKP serta lembaga penelitian mitra menyampaikan hasil penelitian selama tahun 2021 kepada para pemangku kepentingan bidang pendidikan dan kebudayaan.

Kepala BSKAP, Anindito Aditomo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kebijakan harus berbasis data dan riset sehingga pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan dan dampak program yang dijalankan. “Kami berharap para peneliti dapat lebih tajam menangkap isu untuk melakukan analisis dan evaluasi guna perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dan pemajuan kebudayaan dalam upaya memulihkan pembelajaran dan kebudayaan di tengah pandemi. Para peneliti diharapkan pula dapat menyampaikan hasil penelitian secara komunikatif dan persuasif agar hasil penelitian yang dilakukan dapat berguna dan bermanfaat bagi publik secara lebih luas,” jelas Anindito.
 
Podcast MSG (Mikir Sing Genah) untuk Pendidikan: Cara Menumbuhkan Kegemaran Membaca pada AnakMenumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak dengan Membuka Ruang Rasa dan Emosinya4 Strategi Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak Usia SD dan RemajaMemetakan Kemampuan Numerasi Siswa SD Kelas Awal melalui Asesmen Diagnosis dan Mengajak Anak Usia SD Menyukai Menulis, Tidak Cukup dengan Memintanya Duduk Tenang dan Menulis

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala PSKP, Irsyad Zamjani menyebutkan terdapat 38 judul penelitian yang didiseminasikan dalam seminar ini. “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi lembaga penelitian mitra maupun kementerian/lembaga yang ikut terlibat dalam penelitian bidang pendidikan dan kebudayaan. Hasil seminar ini harapannya dapat menginspirasi upaya dan inisiatif pemulihan pembelajaran dan tantangan yang muncul di masa pandemi,” jelas Irsyad.

Seminar hasil penelitian kali ini mengangkat sembilan kelompok tema. Enam kelompok tema yang dipaparkan para penyaji pada hari pertama yaitu Pendidikan Tinggi dan Tantangan Dunia Kerja, Tetap Belajar di Tengah Pandemi, Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Menyiapkan Guru yang Inovatif, Inovasi Strategi Pemajuan Kebudayaan, dan Merawat Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya. Selanjutnya pada hari kedua, dipaparkan tema Teknologi dan Tata Kelola Pendidikan, Inovasi untuk Pembelajaran yang Berkualitas, dan Menciptakan Lingkungan Belajar yang Inklusif.

Pendidikan tinggi dan tantangan dunia kerja

Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret, Ghufronudin, dalam paparannya tentang “Karakteristik Wirausaha Mahasiswa pada Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia” mengungkapkan tentang karakteristik kewirausahaan mahasiswa. “Karakteristik tersebut mencakup ketekunan, kepribadian proaktif, kesadaran terhadap isu sosial, kepuasan hidup, efikasi diri, literasi digital, motivasi wirausaha, sikap kritis, pragmatis, dan berorientasi ketidakpastian”, papar Ghufronudin. Dia juga memberikan beberapa rekomendasi kebijakan, salah satunya adalah terkait dengan penciptaan inkubator bisnis rintisan (start-up) berbasis digital dengan mengedepankan penyederhanaan teknis dan penguatan keberlanjutan program dalam jangka panjang.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti PSKP, Novrian Satria Perdana, dalam penelitiannya berjudul “Pemetaan Jenis Pekerjaan dan Keterampilan Masa Depan yang Relevan dengan Kebutuhan Industri 4.0” menyampaikan perlunya mengantisipasi situasi masa depan pasar kerja terutama tentang jenis pekerjaan apa yang akan berkurang bahkan hilang karena perkembangan teknologi dan perubahan hubungan antar-negara. Ia juga menyoroti tentang pekerjaan apa yang nantinya akan sangat diperlukan. “Perlunya kebijakan sektor pendidikan dalam upaya pengembangan SDM seperti memiliki kemampuan bahasa internasional sejak dini, memperbaiki gaya berpikir siswa menjadi berbasis data, kurikulum disusun bersama dan berstandar DUDI; pembelajaran berbasis proyek riil dari DUDI; peningkatan jumlah dan peran guru/dosen ahli dari industri, magang/prakerin minimal 1 semester, sertifikasi kompetensi guru/dosen, pelatihan rutin peningkatan kapasitas guru/dosen, riset terapan kolaborasi SMK dengan DUDI, dan komitmen serapan lulusan oleh DUDI,” jelas Novrian.

Revitalisasi pendidikan vokasi

Banyak hal terjadi dalam proses pembelajaran dari rumah (BDR) yang menyebabkan menurunnya kompetensi dan produktivitas siswa lulusan pendidikan vokasi. Peneliti PSKP lainnya, Widodo, dalam kajiannya berjudul “Pembelajaran Praktik dan Hasilnya di Kelas XII SMK pada Masa Pandemi Covid-19”, mengungkap gambaran tentang penyelenggaraan BDR di SMK, tingkat capaian pembelajaran di SMK selama BDR, dan solusi peningkatan hasil pembelajaran selama BDR.

Widodo melalui penelitiannya tersebut merekomendasikan agar pembelajaran luring kembali dilakukan, mendatangkan guru tamu dari perusahaan, melakukan pembelajaran remedial, membentuk team teaching, menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri, memperbanyak pengalaman praktik, dan menguatkan kerja sama dengan industri.

Selanjutnya, Peneliti PSKP, Sudiyono, dalam penelitian bertajuk “Dampak Pandemi terhadap Transisi Lulusan Pendidikan Vokasi ke Dunia Kerja” menjabarkan bagaimana pandemi berdampak pada transisi pendidikan vokasi ke dunia kerja. Dia menjelaskan ada tiga faktor yang mempengaruhi seorang lulusan mendapatkan pekerjaan, yakni kompetensi keahlian, motivasi mereka dalam mencari pekerjaan, dan kegiatan yang dilakukan di masa transisi. “Semakin banyak seseorang memasukkan lamaran pekerjaan, semakin cepat ia mendapat pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan pada masa transisi (belajar berwiraswasta, ikut pelatihan, melanjutkan studi) berpengaruh terhadap kebekerjaan seorang lulusan,” papar Sudiyono.

Di sisi lain, Sudiyono mengungkapkan bahwa pandemi memantik lulusan pendidikan vokasi untuk melanjutkan studi mereka ke jenjang pendidikan tinggi. Para lulusan semakin menyadari pentingnya membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dan lebih kompleks. Sudiyono kemudian merekomendasikan agar kebijakan program pembelajaran vokasi dapat diselenggarakan dengan lebih fleksibel, mengoptimalisasi Bursa Kerja Khusus (BKK), dan memperbanyak jumlah pembelajaran kursus di masa transisi bagi lulusan pendidikan vokasi.

Tetap belajar di tengah pandemi

Guru Besar Universitas Indonesia, Paramita Atmodiwirjo, melalui penelitiannya “Strategi Adaptasi Bangunan Sekolah untuk Mendukung Pembelajaran Pasca-Pandemi Covid-19”, menemukan bahwa masih banyak sekolah yang belum dapat beradaptasi dalam menggunakan halaman sekolah, teras, selasar/koridor, dan ruang terbuka lainnya sebagai alternatif ruang belajar di masa pandemi Covid-19. Namun di sisi lain, ruang kelas eksisting dinilai fleksibel untuk perubahan tata letak dengan furnitur yang mudah diubah, dan cukup fleksibel untuk penggabungan atau perluasan. “Penggunaan ruang kelas dengan tata letak jaga jarak tidak terlalu menimbulkan masalah dalam pengawasan, konsentrasi, penyampaian materi, dan komunikasi, namun cenderung terbatas pada tata letak baris (minim kolaborasi),” jelas Paramita.

Lebih lanjut, Paramita menjelaskan bahwa dengan menggunakan ruang terbuka, guru menilai interaksi lingkungan, kondisi udara dan kemudahan pengaturan merupakan nilai tambah. “Namun pengawasan, komunikasi, penyampaian materi dan konsentrasi siswa kurang optimal. Kemudian, ruang kelas dengan pengudaraan alami dinilai cukup nyaman dengan jendela mudah dibuka dan ditutup. Hal tersebut tidak terlalu menimbulkan masalah dalam proses pembelajaran, kecuali terkait bising dan polusi udara,” papar Paramita.

Kemudian, Paramita menyampaikan rekomendasi bahwa perlunya upaya peningkatan fleksibilitas sarana prasarana untuk adaptasi terhadap berbagai perubahan, seperti penyediaan ruang-ruang dan perabot yang dirancang fleksibel untuk kegiatan belajar serta perhitungan kapasitas ruang untuk jaga jarak dan berbagai tata letak pembelajaran. “Selain itu, perlunya peningkatan kinerja pengudaraan ruang pembelajaran, optimalisasi penggunaan ruang di luar selain kelas, serta basis data yang lebih komprehensif yang mencakup berbagai ruang selain belajar formal dan perluasan komponen sarana prasarana agar dapat memberi gambaran tingkat fleksibilitas ruang,” tutup Paramita.

Inovasi strategi pemajuan kebudayaan

Peneliti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Roby Ardiwidjaja, menyampaikan warisan budaya sebagai aset bangsa memiliki nilai-nilai penting yang harus dikelola secara optimal karena mencerminkan karakter dan jati diri bangsa. “Dari sekian banyak kekayaan keanekaragaman sumber daya budaya, berupa warisan budaya benda dan bukan benda dari masa lalu dan sekarang, sebagian besar terdapat di daerah pinggiran. Ekspansi berbagai pembangunan termasuk pariwisata, berdampak pada nilai dan eksistensi kekayaan alam serta budaya termasuk warisan budaya tangible dan intangible baik dari masa lalu maupun masa sekarang,” tambah Roby.

Roby juga merekomendasikan upaya pelestarian nilai dan keberadaan warisan budaya yang membutuhkan keterlibatan pemangku kepentingan, menjadi penting dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan pariwisata berkelanjutan melalui konsep wisata budaya. “Wisata budaya berbasis warisan budaya dapat digunakan sebagai alat memperkuat pelestarian dan apresiasi aset strategis bangsa, sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik wisata minat khusus yang berorientasi pada ekonomisasi pengalaman unik dan pengetahuan otentik ke-Indonesia-an,” jelasnya.

Di sisi lain, Peneliti PSKP, Ihya Ulumudin, menyampaikan hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa Kabupaten Bantul, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Cirebon merupakan sentra batik yang menggambarkan geliat pelestarian batik hingga kini masih terus berjalan. Lebih jauh, pelestarian batik terus berkembang dalam sisi perkembangan motif serta penggunaan warna alam yang terdapat pada semua wilayah yang dikaji.  “Kondisi ini dapat terjadi akibat adanya pelopor yang mampu menjaga ritme pelestarian batik untuk terus berjalan secara berkesinambungan,” jelas Ihya.

Ihya merekomendasikan perlunya dukungan kebijakan pengamanan bahan baku, baik kain maupun bahan pendukung pewarna yang ramah lingkungan untuk kebutuhan industri batik. Juga perlunya pelatihan dan pendampingan yang intensif bagi peningkatan kapasitas UMKM Batik di bidang kewirausahaan, manajemen, pemasaran, distribusi, desain kreatif, teknik produksi, pengorganisasian dan pengembangan jaringan usaha batik. “Peningkatan kesejahteraan pembatik serta pendampingan generasi muda untuk menjamin kesinambungan sumberdaya pembatik,” tutup Ihya.

Merawat jalur rempah sebagai warisan budaya

Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta, Ajat Sudrajat, memaparkan bahwa berdasarkan analisis pendahuluan kepada peserta didik, mereka sangat tertarik mempelajari materi jalur rempah melalui inovasi augmented reality (AR), namun konten pembelajaran perlu dibuat menarik agar peserta didik tidak merasa kesulitan dan bosan. “Mereka sangat tertarik menggunakan media AR pada pembelajaran sejarah jalur rempah. Hal ini sangat baik untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Di sisi lain, telepon pintar (smartphone) dapat menjadi media untuk mengasah keterampilan abad 21,” papar Ajat.

Ajat juga merekomendasikan sejarah Jalur Rempah hendaknya tidak hanya didukung dalam pengkajian nilai sejarah dan budaya saja tetapi pemerintah hendaknya dapat mendukung melalui konten jalur rempah di konten kurikulum di tingkat menengah dan tinggi.

Peneliti Universitas Indonesia, Kresno Brahmantyo, menyampaikan model modul pembelajaran lokal multiplatform dalam bentuk video pendek pembelajaran, infografis, podcast dan perekaman situs bersejarah dengan QR-Code serta perekaman data geografis dengan platform ArcGIS sudah selayaknya dapat juga diterapkan juga di daerah lain di Indonesia dengan mengedepankan sejarah lokal masing-masing daerah. “Sudah saatnya generasi muda saat ini mengetahui sejarah lokalnya sebagai bagian dari frame besar sejarah nasional Indonesia. Penerapan modul ini juga merupakan upaya dari  pembangunan karakter bangsa bagi generasi muda berkenaan dengan sejarah daerahnya, ”papar Kresno.

Hal lain yang juga diketengahkan dalam konten modul ini adalah keberagaman, hampir semua wilayah di Indonesia, terutama kota-kota pelabuhan merupakan tempat persinggahan dan pertemuan berbagai etnis dari berbagai belahan dunia. “Pemahaman akan keberagaman ini akan membawa dampak positif yakni kesetaraan.  Bahwa keberagaman merupakan bagian dari jati diri bangsa Indonesia,” tutup Kresno. (www.kemdikbud.go.id/Judul asli berita: Diseminasi 38 Judul Penelitian Sepanjang 2021, Upaya Pembuatan Kebijakan Berdasarkan Data & Riset/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: