Tumbuhkan Mental Pancasila lewat Literasi

Redaksi 12 Oktober 2020

Liputan Khusus - Setiap bahasa menggambarkan cara berpikir penuturnya. Sebagai contoh, orang Jepang memiliki cara berpikir yang maju karena memiliki banyak kosakata dalam menjelaskan sebuah realitas.
 
Hal itu disampaikan oleh Abdul Khak, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud, dengan mengutip pernyataan Edward Sapir dan Benjamin Lee Worf.
 
"Kemampuan berpikir itulah yang dibutuhkan dalam era literasi seperti sekarang," ujar Abdul Khak kala menjadi salah satu narasumber dalam Webinar Sarasehan Literasi Kedelapan beberapa waktu lalu.
 
"Orang yang menggunakan bahasa yang berbeda akan mempunyai cara yang berbeda terhadap suatu hal. Jadi bahasa adalah kunci untuk memahami perbedaan cara pandang manusia terhadap dunia," sambungnya.
 
Dalam konteks ke-Indonesiaan, hal argumentasi tersebut menjadi dalih mengapa penting sekali agar Bahasa Indonesia diajarkan kepada anak-anak. Dengan mempelajari Bahasa Indonesia, anak-anak Indonesia diharapkan akan tetap berpikir dengan cara orang Indonesia, melihat dunia dengan cara berpikir orang Indonesia.
 
Kemampuan berbahasa Indonesia pun tak seharusnya dipersempit atau dianggap hanya bisa dikembangkan melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Lebih jauh dari itu, kemampuan berbahasa Indonesia dapat dioptimalkan dengan ketersediaan bahan bacaan yang dikembangkan dari sumber asli Indonesia.
 
"Harapannya akan membantu pelajar Pancasila dalam pembentukan akhlak mulia. Pelajar Pancasila itu karakternya mampu berpikir kritis, mandiri, kreatif, punya sikap gotong royong atau kolaboratif, serta memiliki sikap kebhinnekaan global," urainya.
 
Di era pandemi seperti saat ini, imbuh Abdul Khak, aktivitas literasi dapat dikembangkan secara bersemuka dan secara daring. Tentu saja, aktivitas literasi yang dilakukans secara bersemuka harus tetap menerapkan protokol kesehatan.
 
"Yang menurut saya yang harus dikembangkan di era pandemi ini adalah aktivitas literasi secara daring. Apalagi situasi darurat ini sepertinya akan lama sekali. Daring adalah pilihan yang terbaik," tutur Abdul Khak.
 
Dalam mengembangkan aktivitas literasi berbasis daring, sumber literasi harus disesuaikan dengan kondisi. Artinya, sumber-sumber literasi tidak melulu harus berbentuk buku atau majalah, tetapi juga bisa dalam bentuk film, audio, atau informasi lain yang dapat diakses lewat media sosial maupun ponsel.
 
Hanya saja, dia mengakui bahwa akses internet masih menjadi kendala untuk beberapa daerah.
 
"Maka, para pegiat literasi, fasilitator maupun guru, dituntut kreativitisanya. Harus berpikir out of the box dan keluar dari kebiasaan lama. Misalnya, harus bisa mengalihwahanakan konten dari buku ke dalam bentuk yang lain. Misalnya dalam bentuk rekaman audio di Whatsapp," pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Melahirkan Pelajar Bermental Pancasila Lewat Aktivitas Literasi/Foto atau ilustasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: