Tips Mengubah Hasil Penelitian Menjadi Buku

Redaksi 05 Juni 2020

Surabaya - Bagi para guru, kepala sekolah maupun pengawas, menulis buku adalah bagian dari pembuatan karya ilmiah yang dapat diajukan untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Meski menggiurkan, namun rupanya tidak mudah untuk bisa mulai menulis, apalagi buku.

Menurut Dr. Djoni Setiawan, M.Pd, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, setidaknya ada beberapa pertanyaan atau kesulitan yang selalu diajukan para penulis pemula ketika hendak mengawali kiprahnya di dunia tulis menulis.

“Kalau kita perhatikan, kesulitan untuk menulis buku biasanya dari mana memulainya? Idenya apa? Bagaimana mengorganisasikan gagasan? Bagaimana kalau macet menulis? Bagaimana kolaborasi dengan pihak lain? Dan bagaimana supaya bisa diterbitkan?” ujar Djoni Setiawan saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk  "Ayo Menulis Buku: Katakan dan Ceritakan Dengan Buku" yang digelar LPMP Jatim secara daring menggunakan aplikasi Zoom, pada 30 Mei 2020 silam.

Dalam kesempatan itu, Djoni mengungkapkan bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa dikembangkan menjadi ide atau gagasan untuk menulis buku. Salah satunya adalah hasil penelitian. Hasil penelitian ini pun beragam, misalnya tesis maupun disertasi.

“Salah satu buku saya, dibuat dari penelitian disertasi saya sendiri tentang pengembangan model pembelajaran. Poin-poin penting yang ada di dalam disertasi itu dikonversi menjadi buku,” ujarnya.

Untuk melakukan hal tersebut, diperlukan teknik-teknik yang efektif, waktu yang panjang, serta konsistensi dalam praktik. Di atas semuanya itu, hal yang paling penting adalah motivasi yang kuat.

Dia mengungkapkan, apabila seorang guru, kepala sekolah, maupun pengawas sudah pernah melakukan penelitian, sejatinya penelitian itu adalah modal yang baik untuk mulai menulis buku. Sebab, penelitian itu dapat dijadikan sebagai ide untuk menulis buku.

“Bahan-bahannya sudah tersedia. Seandainya masih kurang, bisa ditambahi referensi lain. Kemudian, konsep-konsepnya pasti sudah ada di kepala kita. Implementasi juga pasti sudah ada kalau penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan atau penelitian eksperimental,” sambungnya.

Terkait teknik menulis buku lewat hasil penelitian, Djoni menyebutkan bahwa dari bab setiap bab penelitian, khususnya bab 1 hingga bab 3, dapat diambil poin-poin utamanya. Dia menegaskan bahwa tidak semua bagian dalam penelitian bisa dimasukkan ke dalam buku karena pertimbangan kenyamanan pembaca.

Setelah poin-poin utama didapat, tindakan yang harus dilakukan adalah mengubah gaya bahasanya sehingga menjadi lebih cocok untuk dikemas menjadi satu bab tersendiri di dalam buku. Maksudnya, bahasa-bahasa akademis dan bahasa ilmiah yang terlalu berat dan kaku, bisa disederhanakan sedemikian rupa hingga lebih mudah dinikmati dan dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.

“Sedangkan dari bab 4, paparan data, itu kita sederhanakan. Kemudian hasil dari kesimpulan di penelitian, itu bisa masuk sebagai implementasi,” tambahnya.

Setelah semua materi penting dan menarik dalam penelitian dituangkan menjadi buku, berikutnya adalah membuat judul yang lebih menarik yang disarikan dari hasil penelitian. Hal ini penting dilakukan karena karakter judul buku dengan judul penelitian karya ilmiah, memiliki perbedaan yang mencolok, baik dalam pilihan diksi maupun jumlah kata.

“Judul harus menarik di era sekarang agar bisa diterima,” sambungnya.

Terakhir, Djoni mengingatkan pula soal etika dalam menulis buku yang bersumber dari penelitian sendiri. Kata dia, meskipun yang menjadi inspirasi adalah hasil penelitian sendiri, harus dilakukan parafrase untuk menghindari plagiasi.

“Saya kira itu, intinya harus semangat berlatih agar lebih banyak karya demi kemajuan Indonesia dan anak-anak kita,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Mengembangkan Hasil Penelitian Sendiri Menjadi Buku. Ini Tipsnya/Foto atauilustrasi dipenuhi dari Foto Dokumentasi Kegiatan LPMP Jawa Timur)

Tags: