TIK Jadi Alat bagi Pendidik Perkuat Nilai Budaya dan Penguatan Karakter

Redaksi 06 Desember 2021

Jakarta, 4 Desember 2021 --- ISODEL 2021 resmi berakhir pada Jumat (3/12). Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), M. Hasan Chabibie menyampaikan bahwa dalam mewujudkan pembelajaran digital, tak hanya sekadar infrastruktur yang perlu dibangun namun juga aspek kemanusiaan yang akan mengembangkan inovasi. Hasan meminta pendidik untuk mengawal pendidikan karakter dan nilai-nilai budaya yang perlu diketahui anak-anak bangsa. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bisa menjadi alat bagi pendidik untuk mewujudkan itu.

Berdasarkan pengamatan Hasan Chabibie, dinamika yang terjadi dalam ISODEL 2021 sangat menarik terkait karya inovatif dan media pembelajaran yang dikembangkan oleh individu, baik pemerintah maupun dunia industri. “ISODEL 2021 membuktikan, saat ini kolaborasi begitu sangat mudah untuk melengkapi satu sama lain untuk menghasilkan karya yang optimal,” ujar Hasan yang disampaikan secara daring di Jakarta, Jumat (3/12).

Oleh karena itu, ia berharap setelah pelaksanaan kegiatan ini masyarakat semakin tertarik untuk mengeksplor pembelajaran digital dalam mendukung metode pembelajaran hibrida. “Pendidikan karakter yang juga menjadi sorotan di pembelajaran digital juga perlu disikapi dengan bijak. Di saat sebagian orang tua meragukan pembelajaran daring dan sebagian guru mengkhawatirkan berkurangnya karakter peserta didik kita, jangan lupa bahwa TIK menyediakan peluang untuk membagikan nilai-nilai positif,” tambah Hasan.

Berikut adalah sebelas rekomendasi ISODEL 2021. (1) Tidak dapat disangkal bahwa disrupsi teknologi membawa perubahan sistemik yang cepat dalam pendidikan yang perlu disikapi secara strategis. Hal ini dapat dihadapi dengan mengupayakan solusi yang inovatif untuk mendukung lingkungan belajar yang adaptif dan transformatif.

(2) Di era new normal, kolaborasi sudah menjadi suatu kebutuhan. Kolaborasi adalah lebih dari sekadar kerja sama yang saling menguntungkan karena kolaborasi adalah tentang kesadaran untuk berbagi dan saling melengkapi demi mencapai kesuksesan yang optimal. Iklim bekerja secara kolaboratif perlu dikembangkan, tidak hanya lintas wilayah geografis tetapi juga lintas profesi. Di bidang pendidikan, pendekatan kolaboratif adalah dasar untuk pedagogi yang efektif.

(3) Para penggiat dan pakar teknologi pembelajaran senantiasa menggali berbagai peluang dan pendekatan untuk merancang arsitektur pembelajaran yang mencerahkan dan memberdayakan. Mengadopsi teknologi baru dengan inovasi yang berbasis kebutuhan untuk mengatasi tantangan dan masalah lokal tidak hanya terbatas pada aspek teknologi saja tetapi juga harus menjangkau aspek sosial budaya dan humanistik.

(4) Dalam mengembangkan inovasi, kita tidak boleh melupakan pentingnya pedagogi. Di era kenormalan baru meskipun Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjadi suatu kebutuhan, namun hal tersebut tidak semata menjadi tujuan mutlak. Teknologi pembelajaran adalah tentang memberikan solusi untuk membantu siswa belajar secara optimal dalam berbagai kondisi yang lebih menitikberatkan pada teknologi yang tepat guna.

(5) Salah satu isu penting terkait daerah terpencil di Indonesia terutama di daerah 3T adalah sulitnya aksesibilitas. Oleh karena itu, infrastruktur dan jaringan TIK untuk daerah tersebut harus menjadi prioritas. Dengan tersedianya dan lebih terjangkaunya akses teknologi digital seperti internet di daerah-daerah terpencil dan 3T, diharapkan dapat mempercepat perekonomian dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Nantinya, diharapkan daerah 3T mampu sejajar dengan daerah-daerah maju dan berkembang.

(6) Hibrida learning akan menjadi kenormalan baru (new normal) dalam dunia pendidikan. Hal ini tidak hanya berdampak pada metodologi pembelajaran tetapi juga pada strukturisasi dari kurikulum. Sumber belajar yang tersedia dan mudah diakses seperti beragam mata pelajaran/topik pembelajaran serta media pembelajarannya seyogyanya dapat langsung digunakan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini memberikan pengaruh positif pada proses pembelajaran sehingga menjadi lebih efisien sehingga dapat mengurangi intensitas dari interaksi tatap muka.

(7) Waktu kerja guru akan lebih lama dari sekadar jam mengajar. Interaksi pembelajaran dapat berjalan sepanjang waktu, baik sinkronus maupun asinkronus. Untuk itu, perlu dilakukan pendefinisian kembali tugas dan jam pelatihan guru. Dalam konteks ini, guru akan lebih berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran daripada hanya sekedar sosok yang memberikan perintah saja.

(8) Pada pendidikan vokasi, pengalaman belajar siswa secara daring melalui berbagai model pembelajaran yang inovatif yang dikombinasikan dengan media pembelajaran yang kreatif, dapat membantu memberikan pengalaman dan kesiapan siswa untuk memasuki dunia kerja digital di masa depan. Untuk itu, dalam pendidikan vokasi disarankan untuk memanfaatkan model-model pengembangan yang menumbuhkan kreativitas.

(9) Strategi untuk memajukan pendidikan kejuruan di era digitalisasi menawarkan tingkat keterampilan yang lebih tinggi serta fleksibel. Modularisasi dengan mengintegrasikan teknologi telah mengubah perspektif dalam pembelajaran sehingga semakin gesit, responsif, personalisasi. Hal ini berpengaruh terhadap cara meninjau dan memperbarui, memperbaiki atau bahkan mengembangkan kurikulum baru agar dapat lebih sesuai dengan perkembangan zaman terutama dalam menghadapi tuntutan profesi dan lingkungan kerja yang lebih kompleks, termasuk dalam profesi dan lingkungan di mana keseimbangan alam dapat terus senantiasa terjaga.

(10) Salah satu penyebab terjadinya kehilangan pembelajaran adalah ketidaksiapan guru di sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran daring. Untuk itu, peningkatan kompetensi guru khususnya dalam pemanfaatan TIK untuk pembelajaran harus terus ditingkatkan.

(11) Pendidikan karakter adalah salah satu hal yang penting dalam pembelajaran digital. Di satu sisi, banyak orang tua khawatir tentang kurangnya interaksi tatap muka dengan guru yang mengakibatkan lebih sedikitnya kesempatan untuk pembelajaran membangun karakter. Di sisi lain, TIK memiliki potensi yang sangat baik dalam menawarkan cara-cara baru dalam mengembangkan pendidikan karakter yang juga dapat memberikan pengaruh positif.

Dengan demikian, teknologi dapat digunakan untuk mengembangkan model pembelajaran yang menekankan pada pembiasaan sikap dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari yang menitikberatkan pada penanaman dan penguatan pendidikan karakter yang lebih optimal.

Serba-serbi ISODEL 2021 di hari ketiga

Pembicara dari The Education University of Hongkong, Lim Cher Ping, mengawali pelaksanaan hari ketiga ISODEL yang berlangsung secara daring pada Jumat (3/12). Lim Cher Ping mengangkat tema International Open, Distance, and e-Learning Symposium. Ia mengangkat isu peran guru yang sangat penting dalam menghadirkan pendidikan inklusif dan menjaga kualitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang saat ini telah menggunakan berbagai media digital terutama setelah pandemi Covid-19.

Lim juga mengangkat isu tentang hilangnya pembelajaran (learning loss) selama pandemi yang disebabkan oleh berbagai aspek dan tidak meratanya akses internet atau tidak semua peserta didik memiliki device atau gawai untuk melakukan PJJ secara daring. Menurutnya, semua itu harus disikapi dengan menambah kompetensi para guru. Bagi Lim yang juga aktif sebagai profesor tamu di UNESCO dengan konsentrasi pendidikan tinggi vokasi itu, guru memiliki peran penting untuk menyelamatkan pendidikan dan mengembalikan pendidikan yang berkualitas untuk para siswa seusai pandemi Covid-19.

Berbagai kerangka (framework) kompetensi dapat digunakan para guru, seperti TPACK (Technological, Pedagogical, Content, and Knowledge) dan ISTE atau Standard Educator dan framework yang dikeluarkan UNESCO untuk membantu guru dalam memanfaatkan konten digital secara blended system. “Guru yang berkompeten secara pasti akan meningkatkan profesional guru itu sendiri,” ujar Lim.

Usai sesi utama, para peserta langsung masuk ke ruang pleno di mana para narasumber sudah siap menyajikan paparannya. Sesi pleno ketiga mengangkat tema ”Preseverving Future Children Characters and Culture by ICT”.  Tema ini diangkat sebagai upaya membangun pendidikan karakter melalui nilai-nilai budaya, terlebih bagi bangsa Indonesia yang kaya akan nilai-nilai budaya di setiap tradisinya.

Narasumber yang ada di ruang pleno 1 terdiri dari Judi Wahjudin selaku Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Harry Lappalainen, Senior Lecturer dari Turku University of Applied Sciences, serta Wahfiudin Sakam selaku Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI. Ketiga narsumber tersebut sepakat untuk tidak meninggalkan nilai-nilai budaya dalam membangun karakter peserta didik.

Seperti yang disampaikan Judi Wahjudin, literasi budaya dan tradisi harus ditingkatkan di kalangan peserta didik melalui berbagai kecerdasan budaya yang tidak hanya dilihat dalam bentuk wujud, melainkan juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ia meminta sekolah dapat mewujudkannya dalam bentuk ekstrakurikuler.

“Contohnya tradisi ziarah. Banyak orang yang tidak tahu siapa orang yang ia ziarahi. Inilah juga yang menjadi fokus dari Mas Menteri Nadiem agar di makam-makam para tokoh itu disediakan papan informasi agar para peziarah dapat tahu perjuangan dari para tokoh-tokoh itu,” ujar Judi.

Berikutnya, Senior Lecturer, Turku University of Applied Sciences, Harry Lappalainen mengatakan bahwa pendidikan selama pandemi Covid-19 telah meningkatkan kualifikasi para guru, menyadarkan perlunya ada satu kurikulum yang dirancang dengan mengaitkan berbagai disiplin ilmu dan juga membentuk paradigma baru.

Tak kalah menarik, paparan Wahfiudin Sakam menyoroti tentang pembangunan peradaban manusia yang menurutnya perlu dilihat secara komprehensif. Jumlah penduduk yang meningkat juga perlu memperhatikan kebutuhan dasar seperti makanan,  air minum, udara yang bersih, kesehatan, pendidikan, transportasi, lingkungan dan spiritualitas.

“Karakter spiritual berarti membentuk pribadi berintegritas. Pribadi yang lebih berfokus pada makna kehidupan dan kebijaksanaan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini,” ucap Wahfiudin.

Sementara pada ruang pleno 2, narasumber yang hadir yaitu Arif Wismadi dan Cahya K. Ratih dari ITU Consultants, Sumanto Al-Qurtuby selaku Direktur Nusantara Institute, dan Tony Priono selaku Education Consultant Acer Indonesia.

Sumanto Al-Qurtuby yang menjadi pembicara pertama mengajak peserta mendefiniskan TIK dan budaya (culture). Menurutnya, TIK saat ini sudah bergeser tak lagi sebatas komunikasi dan informasi menggunakan alat telekomunikasi seperti  perangkat komputer. “Kini TIK telah berubah seiring terjadinya konvergensi media yang kini sudah dalam bentuk gadget. Dalam lebih luas TIK mewadahi seperangkat alat komunikasi termasuk berbagai layanan di dalamnya,” ujarnya.

Sementara budaya dapat didefinisikan sebagai segala yang orang miliki, pikirkan dan juga perilaku sehari-hari. Untuk itu, TIK harus dimanfaatkan untuk menyebarkan budaya-budaya baik. “Karena jika sebaliknya nilai-nilai budaya yang buruk akan kebih dominan di kalangan masyarakat,” imbuhnya.

Pembicara berikutnya, Arif Wismadi dan Cahya K. Ratih dari ITU Consultants, membagikan paparannya yang membahas “Membangun Konektivitas Sekolah di Indonesia”. Paparan ini diangkat didasari dengan data yang didapat bahwa pandemi Covid-19 meningkatkan konektivitas antara murid dan guru serta sekolah yang memiliki kesenjangan baik secara aksesibilitas, terjangkau, dan penetrasi.

“Belum lagi masalah infrastruktur internet yang belum merata, bagaimana mencari cara agar ada keterkaitan antara sektor pendidikan dan sektor digital. Dan yang tak kalah pentingnya lagi, dengan adanya konektivitas di sekolah, bagaimana agar sumber daya pembelajaran digital yang sudah dimanfaatkan di kala pandemi dapat terus berjalan di era new normal,” lanjut Arif Wismadi.  

Untuk mewujudkan konektivitas sekolah, dua narasumber ini memaparkan kerangka untuk mewujudkannya. Cahya Ratih menyampaikan, ada tujuh komponen yang dapat perlu diperhatikan mulai dari kebijakan, infrastruktur dan perangkat, keuangan yang memadai, data digital, literasi dan kemampuan digital, sumber daya pembelajaran digital, dan komunitas pembelajaran. Sementara itu, Toni Priono dari Acer Indonesia menyampaikan upaya Acer dalam pendidikan di masa pandemi.

Sebelum istirahat siang, Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat, berkesempatan hadir dalam ISODEL yang rutin  dilaksanakan selama dua tahunan sekali ini. Salah satu yang diceritakan Ojat adalah faktor penting dari kesuksesan melakukan implementasi TIK dalam pendidikan.

Pengalaman ini tentunya ia dapatkan selama mengabdi di Universitas Terbuka (UT) yang sudah kurang lebih 30 tahun hingga kini menjabat sebagai rektor yang memiliki mahasiswa berjumlah 170 ribu mahasiswa yang semuanya melakukan PJJ dalam aplikasi pembelajaran digital atau Learning Management System. “Komitmen penuh pimpinan sangat menentukan agar layanan PJJ di UT dapat berjalan seperti saat ini,” tegas Ojat.

Selanjutnya, pada sesi paralel usai makan siang, para pembicara memaparkan hasil risetnya baik secara kelompok maupun individu. Riset yang dipaparkan dalam delapan paralel room  menghadirkan 32 periset yang memaparkan hasil risetnya. Para periset tidak semuanya berlatar peneliti tetapi juga para guru, dosen, pengembang teknologi pembelajaran, pranata komputer, dan akademisi di dunia pendidikan.

Selama kurang lebih 2,5 jam para peserta berinteraksi dengan para periset. Sementara di ruang utama, Irfana Steviano memandu acara kunjungan virtual booth dari para sponsor yang ikut menyukseskan pelaksanaan ISODEL 2021. Irfana yang juga sebagai Commite Board atau Ketua Panitia Pelaksana ISODEL 2021 melaporkan bahwa acara ISODEL yang berlangsung selama tiga hari ini telah dilaksanakan dengan baik.

Kerja sama antara berbagai pihak mulai dari pembicara, moderator, para profesor, instansi jaringan Indonesian Distance Learning Network (IDLN) serta sponsor adalah sebuah kolaborasi yang menyukseskan ISODEL tahun ini. Kolaborasi tidak hanya dimaknai dalam wilayah geografis tetapi juga pada seluruh profesi. “Kolaborasi adalah hal fundamental yang perlu dibangun dalam menghasilkan pedagogi yang efektif. Kolaborasi juga menjadi salah satu rekomendasi yang didapat dari ISODEL 2021,” tambah Irfana.

Sebelum mengakhiri, Kapusdatin berterima kasih kepada jajaran pihak yang terlibat mulai dari para anggota IDLN, sponsor panitia pelaksana yang terlibat, pembicara, periset serta moderator. “Semoga ISODEL 2021 dapat memberikan kesan terhadap pembelajaran digital dan untuk ISODEL 2023 yang akan datang akan terjadi inovasi-inovasi baru yang dibuat peserta ISODEL 2021,” pungkas M. Hasan Chabibie. (www.kemdikbud.go.id/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: