Tiga Karakter Utama Revolusi Industri 4.0

Redaksi 21 Februari 2019

Jurnal Apel Pagi LPMP Jatim - Istilah “revolusi Industri 4.0” berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutama-kan komputerisasi pabrik. Istilah "Revolusi Industri 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Revolusi Industri 4.0.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. 

Ada tiga karakter utama era revolusi industri 4.0 bila dibandingkan dengan era sebelumnya yaitu: inovasi, otomasi dan transfer informasi

Pertama, inovasi. Semua bidang kehidupan berlomba-lomba menghasilkan ragam inovasi untuk mempermudah kehidupan. Eksistensi Negara, lembaga, dan perusahaan sangat ditentukan seberapa intensif mereka menghasilkan inovasi. Inovasi dikembangkan dan menyebar jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya, dengan kecepatan ini terjadi terobosan baru pada era sekarang, pada skala eksponensial, bukan pada skala linear. Produsen elektronik, otomotif,dan lain-lain secara gencar menawarkan aneka produk hasil eksplorasi inovasi mereka.

Kedua, otomasi. Banyak pekerjaan yang mengubah dan mengurangi peran manusia dan digantikan penggunaan peran mesin. Hal ini berdampak terhadap penurunan biaya produksi dan meningkatkan output pekerjaan. Transformasi dapat menyebabkan perubahan pada seluruh system produksi, manajemen, dan tata kelola sebuah lembaga. Kita merasakan contoh riil keberadaan pintu tol telah didesain secara otomatis tanpa penjaga. Demikian pula kita tidak perlu antri di bank untuk mengambil uang atau melakukan transaksi lain, tetapi cukup dilakukan melalui melalui mesin ATM.

Dan ketiga, transformasi informasi terjadi secara cepat karena dukungan internet. Kapasitas penampungan data semakin besar tetapi ukurannya semakin kecil, kecepatan pengiriman data semakin tak terbendung. Revolusi secara global ini akan berpengaruh besar dan terbentuk di hampir semua negara di dunia, di mana cakupan transformasi terjadi di setiap bidang industri dan dapat berdampak secara menyeluruh di banyak tempat. Dampak konkritnya berwujud makin banyaknya pekerjaan yang dilakukan berbasis pemanfaatan internet. Pada masa ini teknologi begitu menyentuh ranah pribadi, pengatur kesehatan, pola diet, olahraga, mengelola investasi, mengatur keuangan melalui mobile banking, memesan taksi, memanggil Go-Jek, pesan makanan di restoran (go-food), beli tiket pesawat, mengatur perjalanan, main game, menonton film terbaru, dan sebagainya. Semua itu kini bisa dilakukan hanya melalui satu perangkat teknologi saja, karena datanya sudah disimpan di “langit”.

Seiring dengan perkembangan itu, para ahli pun berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 dapat menaikkan rata-rata pendapatan per kapita di dunia, memperbaiki kualitas hidup, dan bahkan memperpanjang usia manusia (meningkatnya usia harapan hidup). Di sisi lain, penetrasi alat-alat elektronik, seperti telepon genggam (handphone) yang harganya semakin murah dan mudah sampai ke berbagai pelosok dunia juga berpengaruh terhadap menipisnya area privasi. Keberadaan dan aktivitas seseorang dapat terpantau, dan jejaring media sosial semakin menghilangkan batas-batas privasi individu.

Berdasar kondisi tersebut tentu ada implikasi dan dampak terhadap pendidikan, menyangkut penyelenggaraan pendidikan, kompetensi yang perlu disiapkan agar mampu bertahan di era revolusi industri 4.0, maupun tantangan/dampak yang perlu diantisipasi. (Kusnohadi – Widyaiswara LPMP Jatim)

Tags: