Temukan Kendala di Monev Sekolah Penggerak

Redaksi 03 November 2021

Para Widyaprada LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Jawa Timur telah mulai menjalankan tugasnya untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap sekolah penggerak angkatan pertama.
 
Dalam monitoring ini, mengingat bahwa sekolah penggerak yang didatangi adalah angkatan pertama, tentu banyak kendala-kendala yang ditemukan dalam praktiknya.
 
Temuan-temuan perihal kendala-kendala itu dipaparkan dalam kesempatan apel yang digelar LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Jawa Timur pada apel Senin 25 Oktober 2021 lalu.
 
Baca juga berbagai derap langkah LPMP Provinsi Jawa Timur menuju WBBM di sini
 
Salah satunya dipaparkan oleh Dr.Totok Basuki.
 
Dia mengatakan, dalam kesempatan monev tersebut, dia ditugaskan untuk melakukan monitoring di sebuah SMP di kabupaten Lumajang, Jawa TImur.
 
 
Update jumlah dukungan untuk LPMP Provinsi Jawa Timur menuju WBBM di sini 
 
Di sekolah tersebut, dia melakukan wawancara dengan kepala sekolah dan guru yang sudah mengikuti diklat Komite Pembelajaran.
 
Wawancara yang dilakukan ini banyak terkait tentang penyusunan dokumen kurikulum operasional, project penguatan pelajar Pancasila, serta bagaimana proses pendampingan yang dilakukan terhadap pengawas sekolah, kepala sekolah, serta guru-guru di satuan pendidikan.
 
"Hasilnya, secara umum, sekolah sudah menyusun visi misi, tujuan dan program project penguatan Pelajar Pancasila, termasuk assesmen yang dalam penyusunan dokumen kurikulum operasional ini diikuti stakeholder, tim internal maupun eksternal, orangtua siswa, serta komite," kata Totok Basuki.
 
"Kemudian, secara kolektif dan kolegial mereka akan melakukan project Pelajar Pancasila ini bersama-sama. Artinya, seluruh mata pelajaran ikut ambil bagian dalam penguatan Pelajar Pancasila," imbuhnya.
 
Dia melanjutkan, dalam pelaksanaan program Sekolah Penggerak yang dia datangi, kendala utama yang dihadapi adalah cara menerjemahkan hasil penilaian ke dalam laporan.
 
"Disampaikan guru-guru dan kasek, terkait assesmen itu masih ada kendala ketika menerjemahkan dari hasil penilaian, format raportnya seperti apa. Ini mungkin perlu kita sampaikan ke Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen, bagaiman terkait laporan hasil penilaian formatif maupun sumatif sebagai pertanggungjawaban satuan pendidikan kepada orangtua," kata dia.
 
Sementara itu, menurut Dra. Mislinatul Sa'diyah, Widyaprada LPMP Provinsi Jawa Timur yang bergutas melakukan Monev di sebuah sekolah di Kabupaten Gresik, mengatakan bahwa waktu menjadi kendala utama yang dihadapi sekolah dalam implementasi Program Sekolah Penggerak.
 
"Penyusunan Kurikulum Operasional Sekolah (KOS) sebenarnya sudah mereka lakukan. Tetapi pelaksanaan pembelajarannya sulit dilaksanakan karena kendala waktu. Ini mengingat pembelajaran masih dilakukan secara terbatas lantaran pandemi,” kata Diyah, panggilan akrab Mislinatul Sa’diyah.
 
“Sehingga 1 guru harus 2 kali mengajar di 1 kelas, dan waktunya sangat singkat, tidak sesuai dengan yang seharusnya. Misalnya pada capaian pembelajaran tertentu, itu tidak bisa dilaksanakan utuh karena waktu, terkait dengan pandemi yang ada,' tambahnya.  (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Sudah Mulai Lakukan Monev Sekolah Penggerak, ini Kendala Sekolah yang Ditemukan Widyaprada LPMP Jatim/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan LPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: