Tarekat ADDIE Membangun Teknologi Pembelajaran

Redaksi 07 Februari 2020

Proses llmiah - Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas dan mengaitkan istilah tarekat secara terminologi dengan Jabatan Fungsional Tertentu (JFT) Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP), apalagi mengajak para PTP untuk menjadi seorang sufi salik yang harus bersusah payah untuk bersuluk dalam mencari Tuhan. Istilah tarekat di sini sebatas etimologi yang memiliki arti jalan atau proses bagaimana alur atau tahapan yang harus dilakukan oleh seorang PTP dalam membangun/pengembangan suatu model dan media pembelajaran berbasis teknologi. Tujuannya agar tidak salah proses dan terjadi “cacat” produksi. Menghindari kebingungan pembaca terhadap istilah tersebut, selanjutnya penulis telah menambahkan tanda petik ganda menjadi “tarekat”.

Seorang PTP dalam mengembangkan suatu produk model atau media pembelajaran berbasis teknologi (teknologi pembelajaran) harus berlandaskan pada kaidah developmental research sehingga produk yang dikembangkan benar-benar bersifat saintifik dan berdaya guna. Kaidah research inilah yang membedakan antara proses pengembangan oleh seorang PTP dengan proses pengembangan oleh seorang chef/koki di restoran meskipun kedua jabatan ini sama-sama berproduksi. PTP memproduksi model/media pembelajaran berbasis teknologi sementara chef/koki memproduksi masakan untuk dimakan pelanggan. Kecuali si chef merangkap sebagai dosen/guru tata boga yang sedang melakukan experimental research tentang suatu jenis masakan tertentu.

Indikasi dari keharusan adanya unsur saintifikasi dari proses pengembangan di bidang instructional technology adalah adanya beberapa model pengembangan pembelajaran yang telah dirumuskan oleh para ahli. Namun dari beberapa model tersebut tidak semua dapat digunakan dalam pengembangan model dan media pembelajaran berbasis teknologi. Hanya beberapa model pengembangan yang biasa digunakan yaitu model pengembangan ASSURE, model PIE, model TIP, model CAI, model Borg and Gall, dan model ADDIE (Yaumi, 2018: 85).

Dari model-model pengembangan di atas, model ADDIE yang dipilih oleh Pustekkom (sekarang menjadi Pusdatin) Kemdikbud selaku instansi pembina JFT PTP sebagai model atau “tarekat” paten bagi JFT PTP. Hal ini juga diatur dalam Permendikbud No. 49/2018 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan didetailkan dalam buku pedoman standar satuan hasil kerja Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran.

Pemilihan model ADDIE bukan tanpa alasan ilmiah, sebab selain sebagai model pengembangan, pada tahun 1994 ADDIE juga ditetapkan sebagai basis prinsip dalam teknologi pendidikan oleh Association for Educational Communication and Technology (AECT) suatu organisasi Teknologi Pendidikan internasional. Selain itu model pengembangan ADDIE lebih sederhana dibanding model lainnya.

ADDIE memiliki 5 (lima) tahap pengembangan yaitu Analysis (Analisis), Design (Desain), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi).

Tahap analisis adalah tahap dimana pengembang melakukan telaah atas kebutuhan model atau media yang akan dikembangkan berbasis problematika pada siswa, tahap desain adalah tahap menyusun rancangan prototipe model dan media yang akan dikembangkan, tahap pengembangan adalah tahap kerja membangun model atau media sesuai rancangan, dilanjut dengan tahap implementasi yaitu menerapkan model atau media kepada pengguna, dan selanjutnya tahap evaluasi yaitu melakukan telaah terhadap model atau media yang telah digunakan oleh pengguna dari aspek kendala dan kebermafaatan, meminta saran masukan untuk pengembangan lebih lanjut. Kelima tahap ini merupakan siklus yang berkesinambungan yang dimulai dari tahap Analisis.

Berikut ilustrasi gambar siklus model pengembangan ADDIE yang penulis sadur dari bukunya Robert Branch (2009: 2) berjudul Instructional Design; The ADDIE Approach.



Setiap tahapan dari siklus ADDIE tersebut, selanjutnya dikembangkan oleh Pustekkom (Pusdatin) Kemdikbud menjadi beberapa kerja dari setiap tahap, seperti yang dijelaskan dalam buku pedoman standar satuan hasil kerja Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran. Rincian kerja dari setiap tahap dapat dilihat dalam tabel berikut.

TAHAP ADDIE NO SUB TAHAP
ANALYSIS 1 Analisis kebutuhan
2  Studi kelayakan
DESIGN 3  Menyusun rancangan model
4  Menyusun standar pelayanan model
5 Menyusun pedoman/panduan pengelolaan model
6 Menyusun pedoman/panduan pengelolaan model
7 Menyusun Garis Besar Isi Media (GBIM)
8 Menyusun Rancangan (JM/Flowchart/Storyboard) media
DEVELOPMENT 9  Menyusun naskah model/media pembelajaran yang akan dikembangkan
10 Melakukan kegiatan rembuk naskah
11 Menyutradai/Memimpin/Menyelia proses produksi media pembelajaran
12 Melakukan Kegiatan Previu Hasil Produksi Media Pembelajaran
13 Melakukan uji coba prototipe
14 Menyusun naskah bahan penyerta media pembelajaran
IMPLEMENTATION 15 Melakukan studi kelayakan pemanfaatan media
16 Melakukan perintisan pemanfaatan media
17 Melakukan orientasi pemanfaatan media
18 Melakukan pembimbingan dalam pemanfaatan media
19 Melakukan layanan konsultasi pemanfaatan media
20 Melakukan fasilitasi pemanfaatan media
21 Melakukan sosialisasi pemanfaatan media
22 Monitoring pemanfaatan media
EVALUATION 23  Menyusun desain evaluasi pemanfaatan media
24 Menyusun instrumen evaluasi pemanfaatan media
25 Melakukan evaluasi pemanfaatan media

Dari tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa kerja JFT PTP tidak mudah dan tidak sederhana. Kualitas dan status kesahihan produk yang dikembangkan sangat ditentukan dari proses keseluruhan tahap tersebut. Suatu produk model dan media pembelajaran akan dianggap gagal jika langsung “dilempar” ke sekolah untuk digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran tanpa ada buku manual penggunaan dan proses training dari pengembang.

Ingat!!! PTP mengembangkan sesuatu yang saintifik berbasis developmental research bukan membuat pisang goreng yang tidak perlu ada manual dan training cara mengunyah dan menelan jajan pisang goreng yang baik dan benar. Produksi model dan media pembelajaran juga akan menjadi mubazir jika ternyata pengguna (sekolah/guru/siswa) tidak membutuhkan model atau media tersebut. Dengan kata lain, pengembangan tidak berbasis pada hasil analisis kebutuhan pengguna.

Dalam lelaku “tarekat” ADDIE tersebut, seorang PTP tidak bisa beraksi mandiri karena dalam buku pedoman standar hasil kerja PTP dijelaskan ada beberapa sub-tahap yang harus dijalankan secara tim juga berkemitraan. Secara tim, karena ada plot pembagian kewenangan pekerjaan sesuai dengan jabatan JFT PTP. Contohnya dalam sub-tahap studi kelayakan, telah ditentukan harus dilakukan secara tim, seorang PTP Pertama dan PTP Muda tidak berhak menjadi ketua tim tetapi sebagai pengolah data hasil studi kelayakan, ketua tim hanya diperuntukkan bagi PTP Madya. Sedangkan berkemitraan yaitu pada beberapa sub-tahap, seorang PTP wajib memberdayakan pihak luar seperti dosen, guru, pengawas, widyaiswara, dan lainnya yang kompeten sebagai personal ahli pengkaji materi dan pengkaji media yang dikembangkan.

Selain bekerja secara tim dan berkemitraan, dari keseluruhan tahap dan sub-tahap ADDIE, seorang JFT PTP juga harus bersedia “repot” dengan berkas-berkas administrasi seperti naskah laporan, surat keterangan, berita acara, surat tugas, surat permohonan, dan lain-lain.

Hal yang paling “didambakan” oleh setiap JFT PTP adalah supporting dana pengembangan, karena setiap tahap dan sub-tahap bersifat kegiatan, tentu dibutuhkan adanya dana operasional dari setiap kegiatan.

Penulis teringat dengan satu pepatah Arab, al-aqlul saliim fil jismi saliim (akal yang sehat terletak pada badan yang sehat), dengan kata lain tidak mungkin mendapatkan hasil yang efektif jika berdiskusi dalam keadaan perut lapar. Semoga di era Merdeka Belajar ini, hal tersebut turut pula menjadi perhatian utama. (Dr. Wahsun, Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda LPMP Jawa Timur, email: wahsunlpmpjatim@gmail.com/Judul lengkap artikel: ADDIE sebagai “Tarekat” bagi JFT PTP dalam Pengembangan Model dan Media Pembelajaran berbasis Teknologi/Foto atau ilustrasi penyerta judul artikel dipenuhi dari Google Image)

 

 

Tags: