Tantangan Bagi Para Pelaku Perbukuan

Redaksi 27 Oktober 2020

Liputan Khusus - Menumbuhkan budaya literasi pada anak-anak di Indonesia tak terlepas dari peran serta para pelaku perbukuan.
 
Oos M Anwas, peneliti ahli utama Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan, berdasarkan pasal 12 UU nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, terdapat 10 kelompok pelaku perbukuan. Sepuluh kelompok itu terdiri dari penulis, penerjemah, penyadur, editor, desainer, ilustrator, pencetak, pengembang buku elektronik, penerbit, dan toko buku.
 
Menurut Oos M Anwas, salah satu spirit dari UU tersebut ialah terbentuknya ekosistem perbukuan yang sehat.
 
“Maksudnya apa? Ini maksudnya adalah bagaimana semua pemangku kepentingan terhadap buku terpuaskan oleh ekosistem perbukuan,” ujarnya.
 
Di balik harapan itu, lanjut Oos, pada dasarnya ada banyak tantangan yang dihadapkan para para pelaku perbukuan dalam rangka terlibat mewujudkan budaya literasi.
 
Tantangan pertama, mereka dituntut untuk menyajikan buku dengan variasi yang luar biasa mengingat telah terjadi perubahan besar-besaran dalam budaya baca di Indonesia, khususnya pada anak-anak.
 
Dia lantas mencontohkan, salah satu hasil penelitiannya yang sedang akan dipublikasikan mengungkap bahwa 52 persen anak kelas 1 SD, lalu 22 persen anak kelas 2 SD dan 8 persen anak kelas 3 SD, belum lancar membaca.
 
“Padahal secara formal anak-anak ini di PAUD tidak diwajibkan untuk bisa membaca. Maka ketika sebagian anak bisa membaca ketika kelas 1 SD karena kontribusi lebih PAUD dan orangtua, mereka yang tidak bisa membaca kadang dibully oleh teman-temannya sendiri. Dan ini menyebabkan mereka jadi benci membaca,” ujarnya.
 
Karena tingkat kemampuan anak yang berbeda-beda, para pelaku buku dituntut menyediakan buku yang beragam dan menyesuaikan dengan beragamnya kemampuan anak-anak.
 
“Kita ditantang untuk menyediakan buku-buku yang cocok untuk anak pembaca pemula agar mereka gemar membaca,” ujarnya. 
 
Tantangan kedua, di masa kini, anak-anak sudah terlanjur akrab dengan gadget. Bahkan kecenderungan ini seringkali sulit dicegah oleh orangtua.
 
Dari kondisi tersebut, Oos melihat bahwa anak-anak tampaknya lebih suka dengan buku elektronik atau buku digital. Kebutuhan itulah yang mesti dijawab oleh pelaku perbukuan dengan menyediakan buku-buku digital yang menyenangkan.
 
“Formatnya tentu tak hanya pdf. Tetapi bisa multimedia,” tandasnya.
 
Tantangan ketiga yang tak kalah penting, para pelaku perbukuan tersebut dituntut untuk menciptakan buku yang bermutu, murah, dan merata sehingga dapat dinikmati oleh seluruh anak Indonesia alias aksesibel.
 
“PR kita masih banyak, mari kita bersama-sama untuk terus mengembangkan ekosistem buku dengan menciptakan buku yang bervariasi, murah, berkualitas, dan merata,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Buku Berkualitas dan Aksesibel, Tantangan Bagi Para Pelaku Perbukuan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Googe Image)

Tags: