Tanggung Jawab Tinggi

Redaksi 16 Agustus 2018

Pagi itu, pukul 08.00 hujan rintik-rintik membasahi bumi. Udara dingin sekali. Maklumlah di Australia dalam sehari bisa terjadi tiga musim. Saat itu bulan November, musim semi tiba, tetapi udara cepat sekali berubah. Pada tengah malam terjadi badai, paginya dingin menggigil, dan siang harinya ternyata panas menyengat. Meskipun saat itu saya sudah mengenakan jaket dari Universitas Melbourne yang terbuat dari bahan wool, ternyata masih juga udara menerobos ke pori-pori.

Bayangan saya, sekolah tempat magang “Hunting Tower” ini kemungkinan besar banyak guru yang terlambat atau siswa yang terlambat datang. Sepuluh menit sebelum bel masuk pukul 08.30  saya sudah menunggu di pintu masuk. Eh ternyata semua guru sudah ada di dalam ruangan dengan mengenakan jaket wool semua. Mereka asyik menyiapkan materi dan menyambut anak masuk kelas. Begitu juga anak anak dengan jaket kebesaran warna biru sudah berada di luar ruang kelas menunggu bel masuk berbunyi. Ternyata kondisi tepat waktu itu sudah menjadi budaya.

Apa yang terjadi dalam keseharian, coba saya tanyakan kepada kepala sekolah dan guru yang selalu mendampingi anak tepat waktu. Kepala sekolah memberikan jawaban yang cukup sederhana bahwa sekolah ini mengembangkan sikap rasa tanggung jawab. Bagi pimpinan, guru, karyawan, tanggung jawab menjadi bagian utama dalam menjalankan tugas sehari-hari. Begitu juga jawaban yang sama saya terima dari guru-guru yang ada bahwa ketika menjadi seorang guru, maka tanggung jawab menjadi modal utama dalam setiap kegiatan.

Tampaknya tanggung jawab ini menjadi budaya umum yang ada di Australia. Bukan hanya saat magang di “Hunting Tower”. Ketika berkunjung ke “Thomas Michel Primary School dan Lily Delwest Primary School”, semua pimpinan, guru dan karyawan memiliki tanggung jawab yang tinggi. Budaya tanggung jawab tercermin pula pada semua siswa. Dalam berbagai kegiatan, anak-anak begitu aktif mengikuti apa yang disampaikan oleh gurunya.

Saya mengamati proses pembelajaran di kelas satu yang diajar oleh dua guru. Jarang sekali melihat guru duduk di kursi, bahkan saya tidak melihat guru duduk istirahat. Mereka berdua asyik mendekat ke anak-anak dan melayani dengan ramah tentang kesulitan yang dihadapi anak. Tidak tampak raut muka yang kesal atau jengkel saat melihat anak yang belum bisa memenuhi standar. Bahkan dengan penuh keramahan guru-guru itu melayani anak.

Melihat fakta yang ada di depan mata seperti ini, muncul keinginan untuk bertanya ke salah satu guru. Kebetulan guru yang saya tanya ini berasal dari Indonesia yang sudah menjadi warga Negara Australia karena pernikahan. Bukan sekedar pertanyaan yang saya sampaikan, tetapi bentuk apresiasi berdasarkan pengamatan dalam satu hari. Saya menyampaikan kekaguman pada beliau yang begitu ramah, santun dan tekun membimbing anak-anak. Baru pertanyaan saya sampaikan terkait dengan sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran.

Jawaban yang cukup memuaskan dan juga menjadi bahan renungan bagi saya. Guru yang bernama Ibu “Rina” ini menyampaikan bahwa dia bukan mengajar kelas, tetapi mengajar individu. Artinya, setiap guru mengenal dengan jelas kondisi riil yang ada pada setiap anak didik. Dia sadar bahwa setiap anak memiliki perbedaan. Selain kelebihan juga memiliki kekurangan. Tugas guru menurutnya adalah bagaimana potensi yang dimiliki oleh anak itu dikembangkan dengan baik. Inilah yang dimaksud dengan mengajar individu dan bukan mengejar kelas. Sebagai bentuk tanggung jawab itu, maka setiap anak harus dianggap sebagai anaknya sendiri. Tidak boleh ada yang pilih-pilih, semua mendapatkan perlakuan dan perhatian yang sama.

Tanggung jawab yang telah dijadikan budaya juga menjadi bagian pembiasaan untuk anak didik. Sejak kelas satu, anak-anak dibiasakan untuk bertanggung jawab atas segala yang dilakukan. Misalnya, setelah melakukan aktivitas apapun, anak-anak selalu mengembalikan pada tempatnya, termasuk ketika mengambil buku di perpustakaan kelas. Bahkan setiap pagi, anak kelas lima diberikan tanggung jawab untuk mendampingi adik kelas satu membaca selama dua puluh menit. Ini semua bisa berjalan dengan baik. Kedua anak, baik yang adik kelas satu maupun kakak kelas 5 melakukan proses pembelajaran tanggung jawab dengan sungguh-sungguh dan keduanya merasa senang.

Tanggung jawab adalah kunci keberhasilan dalam hal apapun. Ketika tanggung jawab menjadi sebuah budaya, maka semua akan bekerja sesuai dengan jobdisnya masing-masing. Ketika budaya tanggung jawab melekat, maka sesungguhnya tidak perlu ada kontrol ketidakpercayaan. Justru pimpinan hanya mengontrol dalam pola pembimbingan bagi yang mengalami kesulitan.

Rasa tanggung jawab inilah yang memudahkan standarisasi guru di Australia. Para guru lebih terbuka atas kemampuan yang dimiliki. Dalam bahasa akademiknya, guru harus memiliki tiga standar utama, yaitu pengetahuan profesional, praktik profesional dan keterlibatan profesional. Ketika guru merasa pengetahuan materi kurang, terbuka untuk bertanya kepada yang lebih mampu, bahkan bisa juga kepada kepala sekolah. Begitu juga ketika dalam praktik pembelajaran ada kesulitan, guru bisa minta untuk diobservasi dan minta untuk diperbaiki cara mengajarnya. Bahkan guru-guru yang dianggap memiliki kelebihan selalu dilibatkan untuk melakukan pembinaan kepada guru-guru muda. Inilah bentuk tanggung jawab profesional yang dikembangkan di Australia.

Tanggung jawab tinggi ini berimplikasi pada sikap-sikap positif yang lainnya. Dengan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, maka guru mulai belajar untuk jujur atas kemampuan yang dimiliki. Selanjutnya berusaha untuk terus melakukan pengembangan diri. Guru sadar bahwa keterbatasan yang dimiliki akan berdampak buruk pada anak di kemudian hari. Dengan demikian tidak ada guru yang menutup diri atas kekurangan yang dimiliki, tetapi harus belajar dan belajar. Begitu juga guru yang dianggap mampu, tidak pelit ilmu, dia harus bisa melakukan desiminasi kepada guru yang lain. Menjadi guru tidak hanya bertanggung jawab atas diri sendiri, tetapi juga kepada pimpinan dan anak didik.

Kualitas suatu bangsa sangat bergantung dari kualitas pendidikan. Begitu juga kualitas pendidikan sangat erat hubungannya dengan kualitas guru. Tidak salah jika ada sebuah pepatah Arab yang artinya “konten materi itu penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah strategi untuk menyampaikan materi. Strategi itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah guru karena gurulah yang bisa mengatur strategi. Guru memang sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah guru yang mempunyai ruh guru atau guru yang berhati guru”.

Ternyata untuk menjadi guru yang bisa membuat strategi dalam menyampaikan konten materi adalah guru yang memang memiliki ruh sebagai guru. Guru yang peduli atas profesi yang dijalani. Inilah guru yang bertanggung jawab atas amanah profesi. Semoga guru-guru di Indonesia menjadi guru yang memiliki tanggung jawab tinggi. Apa yang dilakukan guru hari ini akan menjadi modal untuk masa depan anak. Sadar bahwa menjadi guru adalah membangun masa depan negeri. Anak-anak kita hari ini adalah pemimpin untuk esok hari. Semoga bermanfaat. (Najib Sulhan,  Juara 1 Guru Berprestasi Jenjang SD Tingkat Nasional tahun 2015, Penggiat Pendidikan Karakter- Guru SD Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya)

 

Tags: