Siapkah Pendidikan Kita Menjalani ‘New Normal’

Redaksi 14 Mei 2020

Siapkah Pendidikan Kita Menjalani ‘New Normal’?

Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa masyarakat harus berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu sampai ditemukannya vaksin yang efektif. Pernyataan itu disampaikan Presiden untuk mengajak masyarakat agar menyesuaikan diri atau beradaptasi serta tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.

(Keterangan foto headline: Siswa-siswa di Logumkloster District School Denmark Selatan wajib mencuci tangan, dan berbaris dengan jarak yang aman)

Dikutip dari portal berita tirto.id, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin menyebut apa yang disampaikan oleh presiden itu adalah sebuah ajakan untuk mampu hidup di tengah the new normal. Penyesuaian yang dimaksud Bey diantaranya selalu mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak dari kerumunan selama melakukan aktivitas. Intinya, di tengah pandemi Covid-19, masyarakat harus menjadikan protokol kesehatan itu sebagai kebiasaan yang harus dijalankan bila ingin selamat.

New normal atau ‘normal yang baru’ itu bisa jadi juga akan dihadapi oleh dunia pendidikan. Sudah jelas, pembelajaran jarak jauh dengan bergantung pada teknologi informasi tidak mungkin diterapkan selamanya mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang tak terjangkau oleh internet cepat dan murah. Belum lagi, anak juga memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi, berinteraksi, dan berjumpa secara fisik dengan teman-temannya. (Baca juga: Saatnya Pertemukan Para Siswa ke Komunitas BaruBagi Sebagian Orang, Teknologi Bukan SegalanyaGandeng Museum di Pembelajaran Online, BisalahUsir Kejenuhan Anak dengan Bertualang Virtual & Mengembangkan Tradisi Baru di Sekolah Saat Masuk)

Menjalani new normal di sekolah mungkin bakal terasa tak biasa. Namun, itu mungkin harus kita terapkan suatu saat nanti. Sekadar gambaran, hal serupa sebenarnya telah dilakukan oleh sekolah dasar bernama Logumkloster District School di Denmark. Dikutip dari NYTimes, sekolah yang berdiri di Selatan Denmark tersebut disebut-sebut sebagai sekolah pertama di Eropa yang kembali dibuka setelah dihantam badai pandemi Covid-19 pada April 2020 lalu. Sebelum sekolah itu kembali dibuka, sudah 30 hari anak-anak belajar di rumah demi mencegah penyebaran Covid-19.

Tentu saja tak mudah bagi sekolah tersebut untuk menerapkan tradisi-tradisi baru demi mencegah anak-anak terpapar Covid-19. Fasilitas-fasilitas baru harus tersedia. Misalnya, setiap anak kini memiliki bangku sendiri. Kemudian, bangku-bangku itu harus disusun berjarak sebagai bentuk penerapan physical distancing. Tak hanya itu, wastafel-wastafel serta sabun untuk mencuci tangan juga diperbanyak.

Bukan hanya fasilitas, cara anak berinteraksi pun diatur di sana. Misalnya, dalam sesi ice-breaking, anak-anak dan guru diajak untuk tidak berdiri atau duduk terlalu dekat satu sama lain. Dan tentu saja, selama aktivitas di sekolah berlangsung, anak-anak mesti mengenakan masker.

Persoalannya: sejauh apa kesiapan pendidikan kita untuk menjalani New Normal? Apakah mungkin anak-anak dan guru terbiasa dengan tradisi-tradisi baru ini?

Berkaca dari pengalaman sekolah di Denmark tersebut, ada beberapa praktik yang bisa ditiru di Indonesia. Namun salah satu yang utama adalah memperlengkapi fasilitas yang ada untuk menjamin PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dapat diterapkan sepenuhnya. Bagi sekolah di Indonesia tentu ini tak mudah mengingat masih banyak sekolah yang masih bergelut dengan urusan anggaran. Jangankan menambah fasilitas untuk menjamin PHBS terlaksana, tak sedikit sekolah di Indonesia masih menahan diri untuk merenovasi gedung yang sudah ada karena anggaran yang tipis.

Tentu ini adalah PR yang besar bagi kita, khususnya pemerintah selaku pembuat kebijakan anggaran.

Namun, sembari menunggu terobosan dari pemerintah, tak ada salahnya kita sebagai pelaku pendidikan mulai memikirkan hal-hal apa saja yang mungkin bisa diterapkan di sekolah masing-masing agar siap masuk dalam fase ‘new normal’. Ada baiknya kita mulai berpikir dan mengira-ngira potensi-potensi dan sumber daya yang ada di sekitar sekolah yang dapat didorong agar membantu sekolah dalam mewujudkan new normal. Sembari berharap badai Covid-19 segera berakhir, mau tidak mau, pada akhirnya nanti anak-anak kita mesti kembali ke sekolah. Toh, bukankah hidup harus terus berjalan? (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari https://www.nytimes.com/

Tags: