Siapkah Kita Memasuki Digitalisasi Pendidikan

22 Mei 2020

Suka atau tidak suka, harus diakui bahwa pandemi Covid-19 telah memicu terjadinya sedikit 'digitalisasi pendidikan'. Meski belum semua sekolah di Indonesia berhasil menerapkannya karena keterbatasan akses dan fasilitas, namun setidaknya di banyak daerah sudah muncul gairah untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya yang berlangsung secara jarak jauh.

Terjadinya 'digitalisasi pendidikan' ini memang berlangsung dengan cara yang tidak pernah kita harapkan. Meskipun, sebenarnya gagasan untuk mewujudkannya sudah ada dalam rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dikutip dari laman Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, inisiatif digitalisasi ini bahkan sudah mengemuka di era Mendikbud Muhadjir Effendy. Mimpinya waktu itu, sekolah dapat memanfaatkan perkembangan informasi dan komunikasi untuk mempermudah proses belajar dan mengajar.

Namun sebagaimana disentil di atas, maraknya penggunaan pembelajaran jarak jauh saat ini hanyalah secuil dari digitalisasi pendidikan yang menjadi misi kementerian. Gambaran utuhnya, sejatinya jauh lebih luas. Dalam diskusi bersama jurnalis Najwa Shihab pada awal Mei 2020 lalu, Mendikbud Nadiem Makarim menyebutkan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan bisa diterapkan tak hanya pada sistem pembelajaran, tetapi juga pada sistem backend-nya. Misalnya cara guru memperbaiki proses belajar, cara guru melatih diri, cara guru mencari informasi, dan cara komunikasi serta koordinasi antar guru dan antara guru dengan orangtua siswa. Mendikbud meyakinkan bahwa digitalisasi pendidikan tersebut akan semakin memperkuat potensi guru, bukan mengurangi peran mereka.

Meskipun baru secuil, namun boleh dianggap bahwa ini merupakan modal yang baik untuk memulai digitalisasi pendidikan secara besar-besaran. Tentu saja, meski Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa menjadi leading sector, tetapi keterlibatan semua pihak harus dioptimalkan. Kementerian tentu sudah memikirkan hal tersebut. Mereka pastinya sudah merancang koordinasi dengan kementerian lainnya ataupun dengan BUMN terkait untuk memastikan agar akses internet yang menjadi salah satu faktor penting dalam terwujudnya digitalisasi pendidikan, dapat dinikmati secara merata di seluruh Indonesia. Termasuk di daerah-daerah terluar Indonesia.

Sembari menanti inisiatif itu dikembangkan semakin masif, para guru sebaiknya mulai bersiap dan mengakrabi penggunaan perangkat teknologi untuk mengembangkan cara mengajar, menggali informasi, membangun jejaring komunikasi, serta menciptakan konten-konten kreatif yang edukatif. Bisa jadi, guru mungkin harus berpikir selayaknya influencer di media sosial yang terus berpikir bagaimana menyajikan konten bermutu dan menarik dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang tersedia. Bisa jadi juga, selain menghadiri tatap muka secara fisik dengan para siswa, nantinya para guru juga akan hadir pula di ruang-ruang virtual seperti Youtube, Podcast, dan lain sebagainya.

Kita semua yakin, anak-anak didik kita yang notabene adalah generasi-generasi milenial, akan menyambut semua itu dengan hangat. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan potensi dan memberikan kualitas pembelajaran terbaik untuk anak-anak didik. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: