Serunya Menciptakan ‘Dunia Baru’

Redaksi 02 Januari 2020

Menulis untuk Belajar - Sebagai penulis pemula, kadang seseorang bingung harus darimana mengawali tulisannya. Semua ada proses dan tahap yang bisa dipraktikkan secara langsung. Namun, untuk mencapai kualitas yang bagus, keterampilan menulis itu perlu dilatih terus menerus.

Budaya literasi yang dikembangkan di sistem pendidikan Indonesia belakangan ini masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Hasil skor PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018 menunjukkan Indonesia berada di posisi 10 besar dari bawah.

Indonesia mendapatkan skor 371 dalam kemampuan membaca, 379 untuk matematika, dan 396 terkait dengan sains. Posisi Indonesia tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei. Malaysia mendapatkan nilai membaca sebesar 415, 440 untuk matematika, dan skor 438 untuk sains.

Sementara posisi teratas adalah China, dengan skor membaca 555, matematika 591, dan sains 590. Data diperoleh dari empat provinsi Beijing, Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang yang jumlah penduduknya mencapai 180 juta. Empat provinsi tersebut dipandang sangat efektif dalam memastikan semua murid, termasuk yang memiliki keterbatasan, untuk mencapai prestasi tertinggi.

Skor PISA ini diumumkan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember 2019. Penilaian ini menjadi evaluasi sistem pendidikan di dunia dan menjadi rujukan negara-negara untuk membuat kebijakan sistem pendidikannya.

Studi tersebut menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara setiap tiga tahun sekali. Yaitu dengan mengukur kinerja siswa di pendidikan menengah, terutama pada tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, bangsa Indonesia tidak mungkin mengetahui apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dilanjutkan tanpa memperoleh perspektif dari luar. “Apakah itu dari luar sekolah, luar kelembagaan, atau luar negara kita," ujarnya saat menerima hasil PISA 2018.

Bukan sekadar membaca

Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya, guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya.

Hal ini membuat guru ‘kurang merdeka’ dalam mengajar atau membuat konsep materi ajarnya. Salah satunya dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Kemampuan literasi siswa yang dinilai OECD dalam PISA bukan sekadar kemampuan membaca aksara (tulisan). Namun juga kemampuan memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.

Konsep untuk membiasakan membaca buku atau novel oleh siswa di setiap semester bisa menjadi awal kebiasaan membaca pada diri anak-anak. Kemudian, menuliskan kembali apa yang dipahami siswa dari bacaan tersebut bisa melatih anak untuk terampil menulis.

Hal yang sama bisa berlaku pada pelaku pendidikan lainnya, yaitu guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Membaca dan menulis adalah tindakan kolaboratif untuk membuat kreasi baru.

Dari mana mengawalinya?

Menulis merupakan keterampilan berkomunikasi dan berpikir tertinggi pada diri manusia. Sayangnya, kerap seseorang merasa tidak percaya diri dan bingung untuk mulai menulis. Dari mana sebaiknya tulisan itu dimulai? Topik apa yang menarik untuk ditulis? Mengapa saya mengalami kebuntuan saat menulis?

Memang tidak mungkin seseorang bisa langsung menulis dengan kualitas yang bagus. Perlu latihan terus menerus untuk mencapainya. Bahkan, seorang penulis profesional pun perlu membiasakan diri menulis agar tidak ‘berkurang’ kemampuannya. Layaknya bahasa, jika tidak dibiasakan menulis, keterampilan itu akan ‘terlupakan’ juga.

Bagi yang tidak pernah menulis artikel atau sebuah kisah lengkap, perlu ada beberapa hal yang dilakukan untuk mempermudah prosesnya. Dari mana untuk memulainya?

Anggap saja menulis itu sama dengan menciptakan sebuah ‘dunia baru’. Bayangkan halaman kosong lembar kertas atau page di file Word kita adalah sebuah ruang terbuka. Tidak ada manusia atau tidak ada dimensi tempat dan waktu seperti di kehidupan yang kita tahu ini.

Sesuatu yang baru bisa saja muncul dan tumbuh di sana. Entah itu berdasarkan hal yang nyata atau sebatas imajinasi saja. Tidak ada batasan, kecuali kejujuran penulis dan imajinasinya.

Dengan kata lain, kita sebagai penulis bisa membentuk dunia baru yang utuh dalam ruang itu.

Bagaimana caranya? Dengan menuliskan beberapa kata di sana.

Semua akan menjadi baik jika dimulai dari diri sendiri. Poles kemampuan kita sendiri sehingga bisa menilai karya itu langsung dan percaya dengan diri kita sendiri. Lakukan apa yang kita bisa.

Menulis bukanlah melukis, bukan pula pengetahuan yang tersistemasi.

Namun, satu hal yang penting ditekankan di sini adalah keterampilan ini dapat dikembangkan dengan praktik secara terus menerus. Menulis kreatif bisa diajarkan dengan sangat efektif kepada siswa yang mempunyai bakat dan panggilan untuk menulis.

Penulis adalah pembaca

Namun tidaklah semudah itu praktiknya. Menciptakan ‘dunia baru’ dalam sebuah tulisan membutuhkan kepercayaan antara penulis dan pembaca. Sebagai penulis, jangan lupa bahwa kita adalah pembaca juga.

Seseorang tidak akan menjadi penulis yang bagus, kecuali dia juga menjadi pembaca yang hebat. Tak terbatas pada buku, tapi mengenai banyak hal pula.

Pembaca adalah co-creator atau rekan penulis untuk membuat sebuah ‘dunia baru’ lengkap dengan dimensi tempat dan waktu. Pembaca juga turut berpartisipasi menjadi separuh sosok penulis.

Sadar atau tidak, ketika membaca, mereka juga ambil bagian dalam membuat karya sastra.

Pembaca hidup di masa yag diciptakan oleh si penulis dalam bukunya.

Penulis membuat kata-kata dalam cerita itu, pembaca yang menciptakan gambaran imajinasinya. Dalam perspektif psikologi, seseorang menempatkan dirinya sendiri dalam dimensi kelima saat membaca.

Jika masalah dalam rangkaian cerita di sebuah buku dibiarkan menggantung dan ada kekosongan, maka pembaca yang akan mengisi bagian itu. Seolah-olah, mereka hidup di dimensi itu sesuai dengan pengalaman hidupnya di dunia nyata.

Beberapa pembaca mungkin akan terimbas oleh kisah itu sepanjang hidupnya. Saking sangat menyukai kisah tersebut, mereka akan kembali membaca karya itu berulang kali. Bahkan, mereka akan menjalani kehidupan yang berbeda setelah membaca buku itu.

Pembaca kadang meniru tindakan dan bahasa si karakter fiksi yang telah digambarkan dengan baik dalam buku. Itulah pengaruh kreatif dari sosok fiksi yang diciptakan oleh si penulis, karena penulisannya yang akurat.

Mengapa menulis?

Menulis itu membuat kita merasa lebih hidup, dibutuhkan konsentrasi penuh tetapi menyenangkan untuk dilakukan. Prosesnya membuat ketagihan. Kadang muncul dan tercipta kembali sesuatu dalam diri kita yang mungkin sudah terlupakan tanpa disadari.

Ada pula yang merasakan menulis itu seperti terapi. Lebih tepatnya, menulis berkontribusi pada pengembangan diri dan kesadaran diri. Kita yang sudah tertarik dengan bahasa, sebenarnya sudah melalui tahap awal untuk menjadi seorang penulis.

Perlu diingat, menulis kreatif bisa dipelajari. Sebagai penulis, terutama fiksi, kita akan terobsesi dengan karakter. Meski demikian, karakter yang dikembangkan dalam cerita ini harus direncanakan terlebih dulu. (Bagus Priambodo/Sumber narasi: Buku “Creative Writing” karya David Morley dan terbitan lainnya/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google image)

 

Tags: