Sensasinya Berduaan dengan Buku Cetak

Redaksi 18 Februari 2019

Membaca di internet memang lebih praktis. Kita bisa berjam-jam menatap tulisan di depan laptop atau gadget lainnya. Apalagi dengan canggihnya teknologi saat ini, sambil Buang Air Besar (BAB) kita masih bisa membaca di internet sambil memainkan ipad atau iphone yang kita miliki. Bahkan ada orang yang memutuskan pacarnya hanya dari dalam toilet tanpa harus tatap muka. 

Ketika orang berada di bandara, terminal, dan tempat keramaian lainnya sering kita temui banyak orang membaca di internet lewat gadgetnya. Rata-rata mereka membaca informasi yang diperlukan dari website dan webblog terkenal, seperti detik.com, kompas.com, antaranews.com, dan lain-lain. Poinnya membaca di internet memang asyik, sangat simpel.

Namun, membaca di internet tidak sama dengan membaca buku. Tidak perlu baterai dan akses internet seperti halnya iphone atau ipad, dan ukurannya pun bermacam-macam. Tergantung dari desain yang sengaja dibuat oleh penerbit dan dengan persetujuan penulisnya. Sering kita temui buku kecil atau buku saku berukuran ponsel saat ini yag menarik untuk dibaca.

Mengutip dari nationalgeographic.grid.id bahwa e-book membuat pembacanya tidak memiliki ikatan emosi atau ‘rasa kepemilikan’ terhadapnya

Studi dari University of Arizona ini menunjukkan, konsumen dari berbagai kelompok umur melihat kepemilikan e-book sangat berbeda dari buku fisik.

Beberapa di antaranya mengatakan, mereka merasa lebih terikat dengan buku fisik. Terutama pada suara lembaran buku saat dibalik, dan aroma atau wanginya yang khas.

Bila dilihat melalui hubungan orang tua dan anak, dikutip dari https://lifestyle.kompas.com, studi University of Sussex menunjukkan, membacakan buku cetak  juga bermanfaat untuk orangtua. Studi mengungkapkan, orangtua menjadi lebih penuh perhatian dan penyayang ke anak-anaknya.

Nicola Yuill, seorang dosen senior yang terlibat dalam studi tersebut, mengatakan pasangan orangtua anak yang membaca buku cetak terlihat lebih terbuka dalam berkomunikasi dan mengekspresikan rasa kasih sayang. 

Saya pribadi yang masih suka dengan budaya membacakan buku untuk anak sebelum tidur, merasa alat canggih semacam e-book reader untuk anak kecil agaknya memang belum pantas.

Pengaruh negatif internet dan gadget berlebihan pastinya akan menimpa anak-anak. Alih-alih mempelajari e-book, para anak kerap lebih memilih game dan menjadi posesif dengan gadget mereka.

Kembali ke buku konvensional (cetak), Junko Yokota, seorang profesor dari National Louis University di Chicago mengatakan:

“Ukuran dan bentuk buku cetak menjadi bagian pengalaman emosional dan intelektual anak, ada banyak hal yang tak bisa dirasakan dari buku elektronik.” (http://awanjakarta.com)

Interaksi mata pun berbeda antara membaca buku cetak dan e-book melalui layar gadget atau laptop kita. Menurut Velove Vexia di liputan6.com, pantulan cahaya e-book lama-kelamaan bisa membuat mata lelah sampai ke leher.

Keunikan lain buku cetak yang sepertinya belum dijumpai di e-book adalah saat kita sedang fokus memberi tanda-tanda tertentu pada bagian tulisan yang kita anggap penting untuk diingat pada buku cetak, serasa menemukan “kawan baru” yang tak ingin ditinggalkan dan dilupakan begitu saja.

Belum lagi saat memegang, merasakan dan merawat buku kesukaan kita. Menyimpannya di rak bersama buku-buku yang lain. Membersihkan debu-debunya. Memperhatikan setiap lembarnya berubah menjadi kuning kecoklatan seiring berjalannya waktu sambil berbisik dalam hati, "Biarlah waktu menjawab ketika buku menjadi semakin langka ataupun punah, buku-buku koleksiku akan menjadi warisan terbaik bagi keturunanku kelak."

Namun sensasi-sensasi yang tidak kita dapatkan di e-book itu, bukanlah jaminan buku cetak ke depan tidak akan tergerus habis dengan makin maraknya peredaran e-book di era Revolusi Industri 4.0, meski di pertengahan tahun lalu pertumbuhannya baru tiga sampai lima persen. (https://gaya.tempo.co)

Oleh karenanya masih mengutip dari https://gaya.tempo.co mengenai pendapat Maman Suherman, penulis dan penggiat buku, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat akan buku cetak. Salah satu strateginya dengan mengadakan kegiatan literasi seperti diskusi buku, bedah buku, musikalisasi suatu buku

Salah satu contoh yang sudah dilakukan Presiden Joko Widodo adalah setiap tanggal 17, orang-orang bisa mengirimkan buku ke berbagai taman baca yang sudah didaftarkan melalui PT Pos secara gratis. Satu taman baca atau pustaka keliling yang dituju, bisa dikirimkan maksimal 10 kilogram perpengirim. Menurut Maman, hal ini juga bentuk dari kegiatan literasi. (Bagus Priambodo)

 

 

Tags: