Selamat Hari Guru Nasional bagi Para Pembawa & Penggerak Perubahan

25 November 2022

Dalam kerangka kebijakan merdeka belajar yang dicanangkan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, salah satu elemen penting yang harus ada di sekolah adalah guru-guru hebat yang dijuluki sebagai guru-guru penggerak.
 
Menurut Mendikbudristek, salah satu ciri guru penggerak adalah berani membuat terobosan-terobosan dalam budaya mengajar di sekolah. Seringkali mereka sengaja keluar dari tradisi di sekolah dan mencoba strategi-strategi baru dalam memberikan pengajaran. Ciri-ciri lainnya, guru penggerak adalah guru yang berjiwa Indonesia,  bernalar, pembelajar, profesional, dan berhamba pada anak.
 
Guru-guru penggerak seperti itu sejatinya bisa diciptakan. Selain lewat kebebasan yang luas yang diberikan oleh kepala sekolah, penciptaan guru-guru penggerak bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelum sosok tersebut menginjakkan kaki di sekolah. Ya, sosok-sosok seperti ini bisa diciptakan lewat pendidikan guru yang inovatif dan berkualitas.
 
Harapannya dengan adanya guru-guru penggerak, muncul kesadaran bagi semua pihak atau kita semua bahwa belajar adalah proses yang seharusnya kreatif. Artinya, anak-anak didik perlu diberi kebebasan dalam berpikir dan mengembangkan apa yang menjadi minat serta bakatnya. Pemikiran ini bertolak dari kesadaran bahwa anak dilahirkan dengan kemampuan dan minat yang berbeda-beda sehingga tidak tepat apabila mereka disuguhi standar yang sama satu sama lain.
 
Sebaliknya, membebani anak dengan hal-hal yang sebenarnya di luar kemampuannya adalah hal yang tidak selaras dengan semangat untuk merdeka belajar. Apabila kemerdekaan belajar ini dapat terpenuhi, maka akan tercipta "pembelajaran yang merdeka" dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan (Herbert, 2019).
 
Guru penggerak tentu sangat memahami arti kemerdekaan belajar bagi siswa. Mereka tahu betul, pertama-tama yang harus dibangun adalah motivasi yang tinggi pada anak didik untuk belajar. Anak-anak tidak boleh takut untuk bertanya ataupun memiliki pendapat yang berbeda, bahkan mengritik. Dengan bekal kemerdekaan ini, anak didik akan selalu bersemangat, penuh percaya diri, kreatif, dan berani mencoba hal-hal yang baru.
 
Dengan motivasi belajar dan kebebasan yang dimiliki, diharapkan anak dapat aktif dan menemukan cara belajarnya sendiri yang sesuai dengan dirinya. Di posisi ini, guru penggerak memposisikan dirinya sebagai mediator, fasilitator, serta teman yang mendukung terwujudnya situasi yang kondusif untuk terbangunnya pengetahuan pada diri anak didik (Poedjiadi dalam Hamzah, 2008).
 
Tentu saja mereka tak lengah dengan makna merdeka belajar. Kemerdekaan belajar ini, bukan berarti anak didik dibebaskan seutuhnya dari peraturan-peraturan di sekolah. Peraturan itu tetap ada demi melatih anak didik menjadi masyarakat yang bertanggungjawab, tertib, sopan, serta menghargai hak-hak orang lain dan tahu apa yang menjadi kewajibannya.
 
Maka dengan hadirnya guru penggerak dan merdeka belajar, semoga kita semua sadar bahwa dunia sudah berubah. Kita tak dapat menuntut anak untuk menjadi seperti yang kita kehendaki. Kita semestinya memberikan panduan dan kebebasan kepada anak untuk merancang masa depan yang baik. Karena bagaimanapun, anak-anak kita bukanlah anak-anak kita. Mereka adalah anak-anak zaman. Merekalah yang akan meraih dan menggenggam masa depannya sendiri.
 
Sebelum mengucap selamat, kami sangat yakin, semua guru di Indonesia sejatinya adalah pembawa dan penggerak perubahan ke arah yang lebih baik yang penuh dengan terobosan-terobosan dan lompatan-lompatan positif dalam mendidik siswa-siswanya. Dan kami tidak ragu, kemerdekaan mengajar (medidik) dan belajar sebenarnya telah tertanam di diri para guru di Indonesia sejak lama.
 
Maka tumbuhkan dan kembangkanlah kemerdekaan itu dalam mendidik anak bangsa ini yang pada dasarnya seperti yang dikatakan sebelumnya, anak-anak zaman.
 
“Selamat Hari Guru Nasional dari kami di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur”

Tags: