Sekolah Penggerak Perjuangkan Pemerataan Pendidikan Bermutu

Redaksi 21 Januari 2022

Sekolah Penggerak merupakan inisiasi kerja sama antara pemerintah pusat, Kemendikbud Ristek, dan pemerintah daerah.
 
Diadakannya program Sekolah Penggerak bertujuan untuk pemerataan pendidikan bermutu di kota besar maupun kabupaten.
 
Hal tersebut dipaparkan Jumeri, S.TP, M.Si, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, dalam acara Sosialisasi Program Sekolah Penggerak Angkatan ke-3 yang diselenggarakan oleh LPMP Provinsi Jawa Timur, Selasa (11/1/2022).
 
"Daerah Surabaya, dengan Lamongan, Malang, Ponorogo, Pacitan, Kediri, harus merata mutunya dari sisi geografis," ujar Jumeri.
 
Selain geografis, ekonomi juga menjadi faktor dalam pemerataan pendidikan bermutu melalui Sekolah Penggerak.
 
Simak berbagai kegiatan kami melalui Kanal You Tube LPMP Provinsi Jawa Timur
 
"Masyarakat yang punya penghasilan rendah maupun tinggi mendapatkan akses belajar yang bermutu dan merata," terangnya.
 
Jumeri mencontohkan, orang tua berpenghasilan rendah cenderung memilihkan sekolah level rendah untuk anak.
 
Sebaliknya, orang tua berpenghasilan tinggi akan memilih sekolah level tinggi dan segala penunjangnya.
 
Melalui Sekolah Penggerak, diharapkan mutu pendidikan yang didapat peserta didik akan sama dimanapun sekolahnya.
 
"Kebanyakan orang tua tidak mampu menyekolahkan di sekolah yang levelnya rendah, orang tua yang mampu membayar pendidikan tinggi akan memilih satuan-satuan pendidikan yang levelnya tinggi. Bahkan menambahkan les, bimbingan, di luar jam sekolah," kata Jumeri.
 
"Sekolah Penggerak adalah ikhtiar kita untuk meningkatkan mutu hasil belajar," tambahnya.
 
Jumeri juga menjelaskan perbedaan antara Sekolah Penggerak dengan intervensi peningkatan mutu sebelumnya, seperti program RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), Sekolah Model, Sekolah Rujukan, dan lain-lain.
 
Dalam program RSBI, sekolah-sekolah terbaik di kabupaten/kota dipilih untuk menyelenggarakan program ini.

"Yang dipilih adalah sekolah yang fasilitasnya sudah bagus, inputnya bagus, prosesnya bagus, outputnya juga bagus. Sehingga, orang tidak heran, mungkin bukan karena hasil dari sekolahnya, tapi karena inputnya sudah tinggi," jelas Jumeri.

"Orang tuanya mampu, kemampuan anaknya bagus, sudah dileskan, dan mungkin itu bukan hasil karya dari guru-guru kita. Tapi, modal dasar yang dimiliki anak, bekal dari orang tua untuk menghebatkan putra-putrinya," sambungnya.

Akibatnya, sekolah tersebut terlihat bak menara tinggi yang membuat sekolah-sekolah lain kesulitan untuk mengikuti jejak dan langkah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).

Sedangkan, dalam Sekolah Penggerak, sekolah dengan berbagai level kemampuan diberikan kesempatan untuk mengikuti program ini.

"Semua sekolah, baik level 1, level 2, level 3, level 4, diberi kesempatan menjadi Sekolah Penggerak," tegas Jumeri.

"Artinya, intervensi kita untuk meningkatkan mutu berlaku pada semua tingkatan dan semua prestasi sekolah," lanjutnya.

Dasar pemilihan dari program Sekolah Penggerak adalah dari kepala sekolah yang memiliki karakter penggerak, mampu menggerakkan guru, komite, wali murid, dan peserta didik untuk maju selangkah demi selangkah.

"Dengan memilih SDM, berarti pengembangan Sekolah Penggerak tidak berbasis pada kehebatan fasilitasnya, gedungnya, inputnya siswa, itu tidak masalah," terang Jumeri.

"Tapi, pada kekuatan Sumber Daya Manusia, yaitu kepala sekolahnya yang hebat, punya motivasi tinggi, punya kemampuan yang baik, dan guru-guru yang menyokong kerja kepala sekolah," tambahnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Sekolah Penggerak Perjuangkan Pemerataan Pendidikan Bermutu, dari Geografis Hingga Ekonomi/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan LPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: