Revolusi Menulis

Redaksi 19 November 2021

Global Knowledge - Berikut sebuah cerita  yang ditulis oleh Peg Tyre pada Oktober 2012 tentang  sekolah di Amerika Serikat menumbuhkan kemampuan menulis para siswanya, diantaranya untuk ‘menganalisa dan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru’ melalui ‘revolusi menulis’ (writing revolution)
 
Selama bertahun-tahun, sepertinya tidak ada yang mampu memulihkan reputasi buruk New Dorp High School (sekolah negeri di New Dorp, New York). Pasalnya, sekolah tersebut membiarkan guru-guru yang kurang kompeten tetap mengajar, memiliki teknologi pendidikan yang kurang inovatif, tidak mengadakan kegiatan tambahan selepas sekolah.  Oleh karena itu, kepala sekolah akhirnya melakukan reformasi kurikulum yang secara spesifik fokus pada pengajaran dasar-dasar penulisan analitis setiap hari di hampir setiap kelas. Reformasi ini kemudian berhasil mengembangkan potensi siswa secara dramatis di hampir setiap mata pelajaran. Berkat reformasi ini, New Dorp dikenal sebagai model reformasi pendidikan.
 
Diskusi mendalam tentang cara mengajar menulis dengan baik dimulai di sini pada hari Selasa, 25 September.
 
Pada tahun 2009, saat Monica DiBella pertama masuk New Dorp (sekolah menengah negeri yang terkenal di Staten Island), masa depan akademisnya terbilang samar. Monica yang pernah kesulitan belajar membaca di masa kanak-kanak pernah tidak naik kelas saat kelas 1. Selama di sekolah dasar, dia mendapat lebih dari 100 jam bimbingan belajar, namun saat kelas 4, dia tertinggal lagi dibanding teman-teman sekelasnya. Pada tahun-tahun berikutnya, Monica mulai merasa tertarik dengan matematika dan belajar membaca dengan baik, tetapi sepertinya dia kurang bisa mengungkapkan pikirannya secara tertulis. Saat tahun pertamanya di New Dorp, guru sejarahnya memintanya untuk menulis esai tentang Alexander the Great.  Monica bingung, namun akhirnya dia mengutarakan pendapatnya tentang penguasa Makedonia tersebut: “Saya rasa Alexander the Great adalah salah satu pemimpin militer terbaik.” Esai? “Sangat tidak mungkin,” katanya sambil menyibak rambut cokelatnya dari matanya. “Setidaknya Saya sudah berhasil menulis satu kalimat. Apa lagi sekarang?”  Ibu Monica, Santa, saat melihat jawaban putrinya (6 kalimat sederhana dan salah satunya tidak masuk akal) merasa campur aduk, ada rasa takut dan frustrasi saat itu. Dia merasa putrinya tidak mampu untuk menyusun paragraf secara koheren dan baik. Esai? “Sepertinya itu di luar kemampuan Monica.”
 
Selama beberapa dekade, sepertinya tidak seorang pun di New Dorp tahu cara membantu siswa yang kurang mampu secara akademis seperti Monica, dan lebih buruknya lagi, populasi ini mencakup sebagian besar populasi di sekolah, terutama siswa-siswa yang berasal dari keluarga miskin dan kelas pekerja. Pada tahun 2006, 82 persen siswa baru masuk sekolah dengan tingkat membaca di bawah rata-rata. Siswa-siswa ini terus-menerus mendapat nilai jelek pada Regents exams (ujian persyaratan kelulusan di New Yorkdi mata pelajaran bahasa Inggris dan sejarah: mereka merasa pertanyaan-pertanyaannya terlalu sulit.Banyak yang hanya menulis beberapa kalimat saja dan langsung menutup soal ujiannya. Pada musim semi 2007, ketika para administrator menghitung tingkat kelulusan siswa, mereka mendapati bahwa 4 dari 10 mahasiswa baru di New Dorp berhenti sekolah. Akibatnya, New Dorp High School tercatat sebabai salah satu dari 2.000 atau lebih sekolah menengah dengan kinerja terendah di Amerika. Pejabat-pejabat kota, yang selama ini telah membubarkan sekolah menengah komprehensif di seluruh New York dan membuka sekolah menengah yang lebih kecil namun lebih spesifik sebagai gantinya, mengisyaratkan bahwa New Dorp berada di ujung tanduk.
 
Oleh karena itu kepala sekolah New Dorp, Deirdre DeAngelis, mulai mencari tahu secara mendalam mengapa siswanya banyak yang gagal. Pada tahun 2008, dia dan staf pengajarnya menarik suatu kesimpulan: kemampuan menulis yang buruk. Ketidakmampuan siswa untuk mengekspresikan pemikiran mereka ke dalam sebuah kalimat, paragraf, dan esai yang koheren dan proporsional sangat menghambat pertumbuhan intelektual di banyak mata pelajaran. Salah satu perbedaan terbesar antara siswa yang gagal dan siswa yang sukses secara akademis adalah siswa-siswa yang sukses tersebut dapat mengungkapkan pemikiran mereka secara tertulis. Demi kebaikan mereka, DeAngelis dan para stafnya memutuskan bahwa mulai musim gugur 2009 siswa-siswa New Dorp akan diajarkan untuk menulis dengan baik. “Ketika mereka memberi tahu Saya tentang program menulis tersebut, sejujurnya Saya merasa skeptis,” kata Monica. Dengan kejujurannya dan senyum malu-malunya itu, Monica merupakan perpaduan antara anak-anak dan orang dewasa—dia naif dan mengerti. “Di sisi lain, Saya tidak punya pilihan selain mencoba menjalani program tersebut. Bagaimanapun juga, Saya bersekolah di New Dorp.”
 
Revolusi Menulis di New Dorp yang diterapkan hampir di setiap mata pelajaran akademik secara instens dimaksudkan untuk mengajarkan keterampilan menulis analitis yang baik. Program ini merupakan perubahan dramatis dari cara siswa Amerika dididik sebelumnya—terutama siswa yang kurang mampu secara akademis—di sekolah menengah. Program ini mematahkan asumsi yang telah merekat tentang siswa dan membuat para staf berselisih sengit. Program ini juga membuahkan hasil yang luar biasa. Pada tahun kedua, siswa yang sebelumnya telah mendapat bimbingan menulis di tahun pertama mendapat nilai ujian yang lebih tinggi daripada kelas lain di New Dorp sebelumnya. Tingkat kelulusan untuk ujian kelulusan mata pelajaran bahasa Inggris, misalnya, meningkat dari 67 persen pada Juni 2009 menjadi 89 persen pada 2011; untuk ujian kelulusan mata pelajaran Sejarah, tingkat kelulusan meningkat dari 64 persen menjadi 75 persen. Selain itu, New Dorp berhasil mengurangi kelas khusus bagi siswa yang tidak naik kelas—kursus yang dirancang untuk membantu siswa yang kesulitan memenuhi persyaratan kelulusan—dari 5 kelas dengan 35 siswa menjadi 2 kelas dengan 20 siswa.
 
Jumlah siswa yang mendaftar dalam program yang menawarkan pelajaran-pelajaran di tingkat perguruan tinggi melonjak dari 148 siswa pada tahun 2006 menjadi 412 siswa di tahun 2011. Perlu digarisbawahi, meskipun komposisi siswa tetap sama—kira-kira 40 persen terdiri dari siswa miskin, sepertiganya adalah Hispanik (orang berbahasa Spanyol yang tinggal di Amerika), dan 12 persen orang berkulit hitam—sebagian besar siswa yang dulunya adalah mahasiswa baru berhasil lulus dengan membanggakan. Musim semi ini (di tahun 2012), tingkat kelulusan diproyeksikan mencapai 80 persen, peningkatan mengejutkan dari 63 persen (sebelum Revolusi Penulisan diterapkan). New Dorp High School, yang pernah dianggap aib di wilayah tersebut, kini dikenal sebagai panutan bagi sekolah lainnya karena berhasil membalikkan keadaan. “Misi kita adalah bisa berpikir kritis dan mengekspresikan pemikiran itu,” kata Dennis Walcott, rektor sekolah di New York. “Kami puas dengan pencapaian New Dorp.”
 
Dalam beberapa bulan mendatang, bahasan tentang pentingnya mengajarkan cara menulis formal dan perannya dalam kurikulum sekolah umum akan menyebar ke seluruh negeri. Selama dua tahun setelahnya, 46 negara bagian akan menyesuaikan diri dengan Common Core State Standards (standar akademik yang harus dipatuhi). Untuk pertama kalinya, siswa SD—yang saat ini kebanyakan belajar menulis dengan menyusun narasi pribadi, memoar, dan karya fiksi kecil—akan diminta untuk menulis esai yang informatif dan persuasif. Di sekolah menengah, siswa diharapkan untuk menghasilkan esai yang layak dan bijaksana, tidak hanya di kelas bahasa Inggris tetapi juga di kelas Sejarah dan Sains.
 
David Coleman, perancang Common Core, mengatakan bahwa standar penulisan baru dimaksudkan untuk mengubah pedagogi yang sebelumnya lebih menyokong ekspresi diri dan emosi daripada komunikasi yang jelas. “Di dunia ini, Anda menyadari bahwa orang-orang tidak peduli dengan apa yang Anda rasakan atau pikirkan,” katanya kepada sekelompok pendidik tahun lalu di New York. Standar penulisan baru dinilai akan mengejutkan publik di Amerika. Musim semi lalu, pejabat sekolah Florida mengadakan tes menulis yang untuk pertama kalinya mengharuskan siswa kelas 10 untuk membuat esai ekspositori yang selaras dengan Common Core. Tingkat kelulusan ujian anjlok dari 80 persen pada 2011 menjadi 38 persen tahun ini.
 
Pada tahun 2007, tahun terakhir di mana data ini tersedia, Negara mencatatkan, hanya 1 persen dari semua siswa kelas 12 di seluruh negeri yang bisa menulis esai kompleks dan terorganisir dengan baik. Penelitian lain menunjukkan bahwa 70 sampai 75 persen siswa kelas 4 hingga kelas 12 menulis dengan buruk. Selama 30 tahun terakhir, karena pekerjaan berbasis pengetahuan telah mendominasi ekonomi, sekolah menengah di Amerika telah meningkatkan tingkat pencapaian dalam bidang matematika dengan menyediakan pengajaran yang lebih ekstensif dengan tingkat yang lebih tinggi. Tetapi sekolah menengah masih meluluskan sebagian besar siswa yang keterampilan menulisnya dapat digunakan untuk bekerja di pertanian atau di pabrik daripada di kantor; selama beberapa dekade, tingkat pencapaian menulis masih tetap rendah.
 
Program ini sudah tidak asing lagi bagi para biarawati yang mengajar di sekolah-sekolah Katolik sekitar tahun 1950. Pada awalnya, formula ini dianggap kaku. “Saya sebenarnya lebih suka resep (cara menulis dengan baik),” kata Hochman, “tapi formula? Boleh saja!”
 
Meskipun guru New Dorp mengamati sendiri siswa-siswa gagal selama bertahun-tahun, mereka tidak mengaggap kegagalan tersebut ada hubungannya dengan cara mereka mengajar. Mereka menyaksikan sendiri saat Deirdre De-Angelis memecat staf yang kurang kompeten di bidangnya; memanfaatkan uang yayasan untuk memfokuskan sekolah menjadi komunitas belajar yang lebih kecil dan lebih personal; dan meminta mitra perusahaan untuk mendukung program selepas sekolah. Sepertinya tidak ada yang berubah.
 
Keputusannya pada tahun 2008 yang fokus pada cara guru untuk aktif mendorong siswa untuk menulis di dalam setiap kelas tidak terlalu populer. “Kebanyakan guru,” kata Nell Scharff, seorang ahli instruksional yang direkrut DeAngelis, “skeptis dan berpikir negatif.” Siswa-siswa New Dorp kurang mampu untuk menulis di tingkat sekolah menengah. “Hal itu bisa dilihat dari cara mereka berbicara,” kata seorang guru. “Mereka jarang berkomunikasi dalam kalimat lengkap, apalagi mengungkapkan pemikiran yang kompleks. “Menurut saya, anak-anak ini tidak ingin memikirkan hal-hal kompleks,” Fran Simmons, guru bahasa Inggris yang mengajar mahasiswa baru berkata, “mereka malas.”
 
Scharff, seorang dosen di Baruch College, bagian dari City University of New York, terus bertanya: “Kemampuan apa yang tidak dimiliki oleh siswa yang merasa sulit untuk menulis dengan baik?” Dia mendesak para guru untuk fokus pada kelompok terbesar: anak-anak berperilaku baik seperti Monica yang sepertinya tidak bisa menyusun paragraf dengan baik. “Anak-anak itu rajin masuk sekolah setiap hari,” kata Scharff. “Sepertinya mereka memiliki keinginan kuat untuk menulis dengan baik.” Perlahan-lahan, komplain itu semakin jarang terdengar. “Kuis, tes, dan PR menjadi kriteria penilaian baru,” kenang Scharff. “Kami membaca tulisan mereka dan berkali-kali pula kami bertanya-tanya: Apa yang salah dengan siswa-siswa di kelompok sasaran kami? Kemampuan apa yang kurang?”
 
Mungkin saja siswa yang kurang mampu secara akademis sebenarnya tidak bisa membaca, kata seorang guru. Beberapa guru memberikan tes diagnostik informal pada minggu berikutnya dan melaporkan kembali hasil tersebut. Siswa yang tidak bisa menulis dengan baik sebenarnya mampu, setidaknya untuk memahami kalimat sederhana. Seorang guru sejarah menjelaskan lebih rinci dan mengatakan bahwa kalimat yang digunakan para siswa tekesan pendek dan terputus-putus. Kata-kata apa, tanya Scharff, yang digunakan anak-anak yang bisa menulis dengan baik namun tidak digunakan oleh siswa yang tidak bisa menulis dengan baik? Siswa yang dapat menulis esai yang baik, menurut guru sejarah, menggunakan konjungsi koordinatif untuk menghubungkan dan memperluas ide-ide sederhana mereka, contohnya “untuk”, “dan”, “juga”, “tetapi”, atau, “namun”, dan sebagainya. Guru lain juga merancang kuis cepat yang mengharuskan siswa menggunakan konjungsi tersebut. Yang membuat staf heran, dia melaporkan bahwa banyak sekelompok siswa tidak dapat menggunakan kata-kata sederhana itu secara efektif. Semakin lama, para guru mulai menyadari bahwa semakin sulit untuk menentukan apakah siswa itu pintar atau tidak—kriteria untuk mengekspresikan pikiran mereka sangat terbatas sehingga penilaian seperti itu sangat mustahil.
 
Eksplorasi berlanjut. Salah satu guru mengutarakan bahwa paragraf terbaik berisi kalimat kompleks yang mengandung klausa dependen seperti although (meskipun) dan despite (meskipun) yang menandakan bahwa ada ide yang bertentangan dalam kalimat yang sama. Penasaran, Fran Simmons mencoba mengetes siswanya sendiri. Dia meminta para siswa baru bahasa Inggrisnya untuk membaca Of Mice and Men dan menggunakan informasi yang ada dalam novel tersebut untuk menjawab pertanyaan berikut dalam satu kalimat:
 
“Meskipun George …”
 
Mereka mungkin ingin menuliskan kalimat semacam: Meskipun George berusaha keras, dia tidak bisa mencapai impiannya.
 
Beberapa siswa didikan Simmons bisa menulis kalimat yang baik, tetapi banyak juga yang bingung. Banyak dari mereka menulis: “Meskipun George dan Lenny berteman.”
 
Simmons beranggapan bahwa anak-anak berusia 14 dan 15 tahun ini tidak tahu cara menggunakan beberapa kelas kata. Dengan kesenjangan tata bahasa seperti itu, fakta bahwa mereka dapat belajar sejauh ini merupakan sebuah keajaiban. “Ya, mereka memang bisa membaca kalimat sederhana tetapi karya-karya seperti milik Gettysburg Address masih jauh di luar jangkauan mereka. Mereka bukannya malas untuk mencari arti kata-kata yang masih asing di telinganya, lebih tepatnya mereka tidak mengerti cara mengunakan bahasa itu sendiri. Mereka tidak mengerti bahwa ide utama dalam sebuah kalimat tidak selalu berada di awal kalimat.”
 
Beberapa guru penasaran tentang hal ini. “Kami bertanya-tanya bagaimana siswa-siswa ini dulu dididik,” kata guru bahasa Inggris, Stevie D’Arbanville. “Bagaimana mereka bisa lulus dan lanjut ke sekolah menengah tanpa mengerti bagaimana cara menggunakan kata “although”?”
 
Tapi sebenarnya, masalah ini umum terjadi pada sebagian besar siswa di seluruh negeri. Lima puluh tahun yang lalu, guru SD mengajarkan aturan umum ejaan dan struktur kalimat. Bimbingan selanjutnya fokus untuk menyusun paragraf agar bisa menjadi esai yang berkualitas. Beberapa anak menguasainya, tetapi banyak juga yang tidak. Sekitar 25 tahun yang lalu, dalam upaya menggalakkan bimbingan ini dan membuat lebih banyak anak mulai menulis, fakultas ilmu pendidikan mulai menggunakan pendekatan yang berbeda. Biasanya, menulis harus “ditangkap, bukan diajarkan,” jelas Steven Graham, seorang profesor instruksi pendidikan di Arizona State University. Kira-kira, seharusnya seperti ini: Minta siswa mengerjakan tugas untuk menulis secara kreatif dan menarik; letakkan tulisan itu dalam konteks sosial yang menyenangkan di mana anak-anak saling berbagi informasi tentang tugas mereka. Anak-anak, katanya, akan “menangkap” apa yang mereka perlukan untuk menjadi penulis yang baik. Pelajaran formal tentang tata bahasa, struktur kalimat, dan penulisan esai dinilai tidak terlalu efektif untuk karya kreatif.
 
Metode tangkap ini efektif untuk beberapa anak saja dengan batas-batasan tertentu. “Penelitian menunjukkan bahwa beberapa siswa bisa memahami sesuatu, tetapi tidak semuanya,” kata Graham. Dan beberapa anak tidak bisa mengerti sama sekali. Anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang memiliki pengajaran awal lemah atau yang memiliki kesulitan belajar, tidak dapat memahami apa yang mereka perlukan untuk menulis esai dengan baik. Pada tahun 1990-an, anak-anak SD dan menengah memiliki jurnal pribadi di mana mereka mencurahkan pemikiran mereka termasuk catatan pribadi, puisi, dan memoar dan terlibat dalam “peer editing” atau proses pembelajaran di mana siswa mengevaluasi karya temannya sendiri dan memberikan umpan balik atas karya tersebut. Guru SMP dan SMA seharusnya memberikan instruksi menulis ekspositori dan persuasif.
 
Kemudian, pada tahun 2001, muncul No Child Left Behind (Tak Seorangpun yang Tertinggal). Tes yang diamanatkan oleh pemerintah federal mencakup dua mata pelajaran—matematika dan membaca—dan pepatah “Apa yang diuji akan diajarkan” ternyata benar. Literasi, yang dulu terdiri dari kemampuan membaca untuk pengetahuan, menulis secara runtut, dan mengungkapkan pemikiran kompleks tentang kata-kata tertulis, menjadi identik dengan membaca. Instruksi menulis formal dia jadikan sebuah pertimbangan.
 
Survei guru yang dilakukan oleh Arthur Applebee, direktur Pusat Pembelajaran dan Pencapaian Bahasa Inggris di Universitas di Albany (bagian dari sistem Universitas Negeri New York), mendapati bahwa saat bimbingan menulis, guru kebanyakan tetap melakukan komposisi dan siswa yang akan mengisi bagian yang kosong. “Menulis sebagai salah cara untuk belajar atau mendapat pengetahuan baru,” kata Applebee, “menjadi semakin langka.”
 
Berbicara tentang Staten Island, semakin banyak guru di New Dorp yang semakin sadar tentang kelemahan siswa-siswa mereka dan kelemahan mereka sendiri. “Di teachers college (di Indonesia dikenal sebagai sekolah keguruan, cohtohnya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP)), Anda membaca banyak teori, seperti Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire, tetapi tidak belajar bagaimana cara mengajar menulis,” kata Fran Simmons. Bagaimana cara staf agar dapat menangani tidak adanya keterampilan dasar yang dibutuhkan siswa untuk belajar menulis?
 
Dalam rangka menelusuri ide-ide baru, DeAngelis mengajak beberapa guru untuk mengunjungi Windward School, sebuah sekolah swasta kecil untuk siswa kelas 1 sampai kelas 9 yang terletak di White Plains, pinggiran kota New York City. Untuk bisa diterima di sana, anak-anak harus memiliki setidaknya kecerdasan rata-rata, memiliki ketidakmampuan belajar bahasa (LBLD), dan memiliki orang tua yang mampu membayar biaya pendidikan tahunan sebesar $45.000. Para siswa bersekolah di Windward selama 2 atau 3 tahun sebelum kembali lagi ke sekolah umum, dan karena begitu banyak anak dari keluarga mampu yang keluar masuk Windward, program menulis di sana, yang dikembangkan oleh mantan kepala Windward Judith Hochman, sangat terkenal di kalangan swasta. “Ada kalanya siswa yang pernah bersekolah di Windward datang kembali dan kemudian kami mendapati bahwa siswa itu sudah mahir menulis,” kata Scott Nelson, kepala sekolah di Rye Country Day, sebuah sekolah independen eksklusif di Westchester County. Nelson pikir bahwa anak-anak Rye Country Day bisa merasakan manfaat langsung dari program penulisan ekspositori di Windward. Tiga tahun lalu, Nelson memerintahkan seluruh staf sekolah menengah bahasa Inggris dan studi sosialnya untuk dilatih langsung oleh Hochman.
 
“Menjadikan kegiatan menulis sebagai salah cara untuk belajar atau mendapat pengetahuan baru menjadi semakin langka,” kata Applebee
 
Program Hochman, sebagaimana program ini dikenal, sudah tidak asing lagi bagi para biarawati yang mengajar di sekolah Katolik sekitar tahun 1950. Anak-anak tidak harus “mengerti” satu hal pun. Mereka secara eksplisit diajarkan cara mengekspresikan ide ke kalimat sederhana, dan cara menyusun kalimat kompleks dari kalimat sederhana dengan menyediakan 3 kata sebagai petunjuk—tetapi, karena, dan sebagainya. Mereka diajarkan cara menggunakan klausa apositif untuk mengawali kalimat. Nantinya, mereka juga akan diajarkan cara mengenali penggalan kalimat, cara menyimpulkan gagasan utama dari sebuah paragraf, dan cara menyusun gagasan utama itu sendiri. Meskipun awalnya formula ini dianggap kaku, Hochman menerima formula ini dengan senang hati.
 
Hochman, 75 tahun, berambut pirang sebahu dan berbadan besar. Suaranya yang biasanya terdengar lembut hampir seperti teriakan ketika dia berbicara tentang instruksi menulis yang buruk. “Masalahnya, anak-anak membutuhkan sebuah formula untuk menulis dengan baik karena menurut mereka, apa yang kami instruksikan dianggap sangat sulit. Jadi, mari berhenti beranggapan bahwa mereka tahu cara melakukan sesuatu tanpa diajarkan. Beri mereka formula! Nanti, ketika mereka sudah memahami aturan penulisan yang baik, mereka bisa tahu sendiri cara untuk menyelesaikannya.” Karena prinsip menulis yang baik sulit untuk diajarkan secara abstrak, program menulis di Windward meliputi berbagai macam tugas yang diberikan oleh guru di hampir setiap mata pelajaran. Setelah DeAngelis mengunjungi sekolah, dia berkata, “Satu-satunya pertanyaan saya: Bagaimana kita bisa mengadaptasi ini dan menerapkannya di New Dorp?”
 
Sementara itu, Hochman tertarik dengan tantangan yang ada di New Dorp. Penelitian telah menunjukkan bahwa pemahaman berpikir, berbicara, dan membaca saling berhubungan satu sama lain dan diperkuat melalui instruksi menulis yang baik. Jika penelitian tersebut benar adanya, kata Hochman kepada DeAngelis, program menulis yang baik di New Dorp bisa membuahkan peningkatan siswa secara signifikan dan menyeluruh.
 
Dalam beberapa bulan, Hochman menjadi sering berkunjung ke Staten Island. Di bawah pengawasannya, para guru di New Dorp mulai membenahi kurikulum mereka. Pada musim gugur 2009, hampir setiap jam pelajaran kecuali kelas matematika didedikasikan untuk mengaplikasikan penulisan esai bersama dengan mata pelajaran tertentu. Jadi pada musim dingin 2010, Monica DiBella di kelas Kimia belajar tentang sifat-sifat hidrogen dan oksigen diikuti dengan lembar kerja yang mengharuskannya untuk menjelaskan unsur-unsur tersebut dengan klausa subordinat, misalnya dia harus memulai sebuah kalimat dengan kata although (meskipun).
 
Meskipun … “hidrogen bersifat eksplosif dan oksigen dapat menyebabkan pembakaran,” tulis Monica, “senyawa dari mereka dapat memadamkan api.”
 
Kecuali … “hidrogen dan oksigen membentuk senyawa, mereka bersifat eksplosif dan berbahaya.”
 
Jika … Yang satu ini agak sulit. Akhirnya, dia menemukan cara untuk menyelesaikan kalimatnya. Jika … “hidrogen dan oksigen membentuk senyawa, mereka kehilangan sifat aslinya sebagai bahan peledak dan gampang terbakar.”
 
Ketika Monica semakin paham tentang kelas kata, pemahamannya tentang membaca juga meningkat secara dramatis. “Sebelumnya, saya memang bisa membaca. Tapi itu hanya sebatas kumpulan dari kata-kata,” katanya. “Semakin banyak instruksi menulis yang Saya dapatkan, semakin Saya mengerti kata-kata mana yang penting.”
 
Diskusi dalam kelas menjadi kesempatan baik untuk mendorong Monica dan teman-teman sekelasnya untuk saling mendengarkan, berpikir kritis, dan berbicara lebih tepat, yang kemudian dapat mereka ekspresikan dalam tulisan persuasif. Saat berbicara, mereka diminta untuk menggunakan kata-kata khusus di poster yang ditempel di depan kelas mereka.
 
“Saya setuju/tidak setuju dengan ___ karena …”
 
“Saya punya pendapat yang berbeda tentang …”
 
“Saya ingin menambahkan bahwa …”
 
“Mengapa demikian?”
 
Keberhasilan Monica dalam berbicara secara terstruktur selama diskusi bahasa Inggris periode kelima tentang adegan pembuka Death of a Salesman karya Arthur Miller patut diacungi jempol. “Bagaimana perasaan Willie Loman? Apakah dia lelah? Jika iya, mengapa dia bisa begitu lelah?” tanya sang guru, Angelo Caterina. “Willie Loman sepertinya lelah karena dia semakin tua,” seorang gadis berambut keriting yang biasanya duduk di bangku depan memberanikan diri untuk menjawab. “Mengapa begitu?” Monica menanggapi. Gadis itu menggigit bibirnya sambil matanya menyusuri naskah di hadapannya. “Di sini dijelaskan bahwa dia berumur 63. Artinya dia sudah tua!” Salah seorang siswa lainnya mengangkat tangan. “Saya setuju bahwa usianya tercantum di naskah,” tutur John Feliciano. “Tapi saya tidak setuju dengan pendapat Anda. Saya rasa dia lelah karena pekerjaannya sangat berat dan dia sering kali bepergian.”
 
Robert Fawcett, seorang anak laki-laki yang mengenakan T-shirt putih, mendapat giliran untuk mengutarakan pendapatnya. Robert selama ini bekerja bersama petugas kebersihan sekolah. “Saya tidak setuju dengan pendapat tersebut,” katanya sambil melirik ke arah naskahnya. “Dilihat dari cara Willie Loman mendeskripsikan pekerjaannya, saya rasa jenis pekerjaan yang dia lakukan membuatnya lelah. Karena terjadi secara berulang kali, ada saat di mana dia merasa semua itu tidak ada artinya dan membuatnya merasa lelah.” Seisi kelas tertegun sejenak oleh jawaban Robert karena Robert menganalisis adegan itu dari sudut pandang baru yang tidak lain berasal dari pengalamannya sendiri.
 
Pada tahun kedua, kelas Monica belajar cara menyusun paragraf pengantar dan selanjutnya isi paragraf. “Ada frasa—specifically (khususnya), for instance (misalnya), for example (misalnya)—yang dapat membantu siswa menambahkan detail ke paragraf mereka,” jelas Monica. Dia merenung sejenak. “Bagaimana kita bisa tahu akan hal ini jika tidak ada seseorang yang mengajarkan kita?” PR menjadi jauh lebih sulit. Para guru tidak lagi memberikan tugas-tugas simpel seperti “Tulislah sebuah kartu pos kepada seorang teman yang menggambarkan keadaan saat Perang Dunia I” dan sebaliknya menuntut agar para siswa membuat esai ekspositori yang menjelaskan 3 penyebab utama konflik.
 
Beberapa ahli memperingatkan bahwa menuntut penulisan ekspositori dan analitis dengan mengorbankan ekspresi kreatif terdengar kurang bijaksana. “Senjata rahasia ekonomi kita adalah kita menumbuhkan kreativitas,” kata Kelly Gallagher, seorang guru tulis sekolah menengah yang telah menulis beberapa buku tentang literasi remaja. Dan instruksi formula akan membuat beberapa siswa tidak mengantisipasi hal ini, Lucy Calkins memperingatkan, seorang profesor di Teachers College Universitas Columbia. Meskipun dia setuju dengan semakin sering untuk menerapkan tulisan ekspositori di sekolah, dia mengatakan instruksi berjenjang tidak akan mempercepat pembelajaran. “Anak-anak perlu mendapat umpat balik dan reaksi dari orang lain yang membaca tulisannya.”
 
Yang pasti, program penulisan belum menyelesaikan semua masalah di New Dorp. Tingginya angka kemiskinan membuat para pelajar rentan terhadap penyalahgunaan narkoba dan kekerasan. Dan di beberapa mata pelajaran, nilai ujian Regents tahun ini berbeda dari apa yang diharapkan para guru. Namun, berita tentang perubahan dramatis telah menyebar: kepala sekolah dan administrator dari sekolah menengah lain yang memiliki masalah yang sama mengunjungi New Dorp, termasuk Chicago terletak cukup jauh dari New Dorp. Saat sekolah lain di sekitar New York City dan Amerika berebut untuk menyesuaikan kurikulum mereka agar selaras dengan standar Common Core, para guru New Dorp mengatakan bahwa mereka sudah siap.
 
Ironinya, kebangkitan New Dorp sebagai institusi yang layak tidak bergantung pada inovasi baru yang radikal tetapi pada ide-ide lama yang lebih dikembangkan atau ditingkatkan. Keberhasilan New Dorp menunjukkan bahwa mungkin ada dasar-dasar instruksional tertentu (dasar-dasar yang telah didevaluasi atau dilupakan sekolah) yang perlu diterapkan kembali, diperbarui, dan diperkenalkan kembali. Dan jika semua itu bisa dilakukan dengan benar, apa yang disampaikan oleh para guru dan telah diterapkan di dalam kelas dapat menjadi senjata paling kuat yang dimiliki sekolah untuk meningkatkan kinerjanya.
 
Sedangkan untuk Monica DiBella, prospeknya juga meningkat. Dia mengungkapkan ide-ide yang lebih kompleks dan rinci ketika dia mengacungkan tangan. Padahal tingkat membacanya pernah berada di bawah rata-rata, tahun ini dia memperoleh nilai 77 pada ujian Regents mata pelajaran Bahasa Inggris (nilai 75 atau lebih tinggi menandakan bahwa seorang siswa sudah siap atau mampu untuk mengikuti pelajaran tingkat perguruan tinggi) dan nilai 91 dalam sejarah Amerika (“Benar, kalian tidak salah dengar karena Monica sendiri yang menceritakannya). Meskipun banyak teman sekelasnya sekarang dapat menulis esai dengan mudah, dia mengakui bahwa dia masih kesulitan menulis. Dia dengan cepat menyelesaikan esai ujian Regents mata pelajaran Sejarah dan hasilnya sangat mengagumkan. Paragraf pertama berbunyi:
 
Sepanjang sejarah, masyarakat telah mengembangkan inovasi teknologi yang signifikan. Inovasi teknologi sama-sama memberikan efek positif dan negatif terhadap umat manusia. Dua kemajuan teknologi yang nyata adalah adanya pabrik dan pestisida kimia.
 
Tetapi Dina Zoleo, yang pernah mengajar Monica saat tahun pertama, berkata bahwa esai yang terdiri dari enam paragraf itu menunjukkan kemampuan baru Monica untuk menulis paragraf yang berkualitas dan logis tentang apa yang telah dia pelajari, mengutip contoh, dan menggunakan transisi antar ide. Bersama dengan jawabannya di bagian pilihan ganda, Monica berhasil mendapatkan skor 84. Dia sekarang tengah mendaftar ke perguruan tinggi. “Saya selalu ingin kuliah, tetapi saya tidak terlalu percaya diri bahwa saya dapat berbicara dan menulis tentang hal-hal yang saya tahu.” Dia tersenyum dan menyibakkan yang menutupi matanya. “Lalu seseorang mengajarkan Saya bagaimana melakukannya.”
 
Ditulis oleh Peg Tyredirektur strategi di Edwin Gould Foundation dan penulis The Good School: Bagaimana Cara Orang Tua Cerdas Menyediakan Pendidikan yang Layak untuk Anak-Anak Mereka.
 
(Bagus Priambodo/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: