Rehabilitasi & Pembangunan Sarana Harus Sesuai Standar

Redaksi 06 November 2019

Pasuruan - Plt Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, Dr Bambang Agus Susetyo, mendorong upaya percepatan rehabilitasi bangunan SDN Gentong di Kota Pasuruan yang atapnya ambruk, Selasa (5/11/2019).

(Keterangan foto: Plt Kepala LPMP Jatim, Dr Bambang Agus Susetyo berbincang dengan sejumlah siswa yang masih dirawat di RSUD Dr Soedarsono, Kota Pasuruan, dan berusaha menghibur mereka)

Akibat tragedi itu, jatuh korban jiwa. Seorang guru dan seorang murid wafat. Sedangkan belasan siswa lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Bambang, insiden ini mengingatkan kembali kepada dunia pendidikan bahwa prasarana pendidikan seharusnya memenuhi standar keamanan.

Dia menjelaskan, sebenarnya terdapat sejumlah regulasi yang mengatur mengenai standar sarana dan prasarana fasilitas pendidikan.

“Regulasi itu dibuat salah satunya agar masyarakat tidak dirugikan seperti kejadian di SDN Gentong yang membuat kita semua sekarang berduka,” ujar Bambang saat mengunjungi sejumlah korban luka yang masih dirawat di RSUD Dr Soedarsono, Kota Pasuruan. 

Salah satu regulasi yang mengatur mengenai standar sarana dan prasarana itu adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).

Di dalam Pemendiknas tersebut diatur beberapa hal tentang standar bangunan fasilitas pendidikan, baik saat fasilitas tersebut dibangun maupun saat fasilitas tersebut digunakan. Di antara standar-standar yang diatur adalah bangunan itu harus memenuhi persyaratan keselamatan, persyaratan kesehatan, aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman bagi penyandang cacat,

“Sesuai standar itu, di sekolah juga harus dilengkapi peringatan bahaya, pintu keluar darurat, serta jalur evakuasi apabila terjadi musibah,” jelasnya.

Dia menambahkan, Permendiknas itu juga mengatur mengenai pemeliharaan bangunan yang meliputi pemeliharan ringan dan pemeliharaan berat.

Pemeliharaan berat yang dimaksud, di antaranya adalah penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, yang dilakukan minimum sekali dalam 20 tahun.

“Sebenarnya standarnya sudah ada dan sudah jelas. Maka kami mendorong agar rehabilitasi bangunan sekolah yang akan dilakukan di SDN Gentong ini bisa dilakukan secara cepat tetapi juga dengan memperhatikan standar-standar yang telah ditetapkan agar tidak terjadi lagi musibah seperti kemarin,” pungkasnya.

Sementara itu, informasi yang telah dihimpun, bangunan ruang kelas di SDN Gentong yang atapnya runtuh telah direhabilitasi pada 2012 dengan konstruksi atap galvalum.

Rehabilitasi tersebut menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp256.765.000. Saat insiden ini berlangsung, secara visual bangunan empat ruang kelas yang atapnya runtuh, dalam kondisi baik. (Bagus Priambodo)

Tags: