Ragam & Urgensi Peran PTP di Sekolah

Redaksi 23 Desember 2020

Menghadapi tantangan abad 21 yang dicirikan sebagai masa pengetahuan (knowledge age), pendidikan persekolahan harus mampu mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi masyarakat global. Peserta didik harus memiliki kompetensi sebagai warga masyarakat global, kompeten sebagai komunikator, kreator, pemikir kritis, dan kolaborator, di samping menguasai bidang keilmuan (subject matter area) seperti bahasa asing, seni, geografi, sains, ilmu-ilmu sosial lainnya (NEA, 2012).
 
*Info: PTP adalah Pengembang Teknologi Pembelajaran
 
Hasil National  Research Council menunjukkan bahwa kompetensi kognitif yang berupa pemikiran kritis, analitis, dan pemecahan masalah yang dulunya cukup menjadi indikator kesuksesan, tetapi dengan adanya perubahan ekonomi, teknologi, dan konteks sosial abad 21, kompetensi interpersonal dan intrapersonal menjadi lebih penting. Para pemilik pekerjaan (perusahaan) kini lebih memberikan penghargaan terhadap soft skills seperti kerja tim dan kepemimpinan (Pallegrino and Hilton, 2012). Untuk menyiapkan peserta didik memperoleh peluang partisipasi dalam masyarakat global abad 21, guru harus lebih banyak mengembangkan model pembelajaran berbasis tim, kolaboratif, dan memanfaatkan Teknologi Informasi Komunikasi atau TIK (Trilling and Fadel, 2009).
 
Dalam konteks kebijakan dan sistem pendidikan nasional di Indonesia, profesi yang bergerak dalam bidang pengembangan dan penerapan teknologi pendidikan dinyatakan secara formal sebagai pengembang teknologi pembelajaran (Permenpan RB No. 28 Tahun 2017 Tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran). Hal ini menunjukkan bahwa bidang garapan teknologi pendidikan untuk memberikan kontribusi terhadap pencapaian kualitas pendidikan telah memperoleh kepastian hukum, dan pengakuan melalui pemenuhan hak-haknya oleh negara. Dalam Permenpan RB tersebut dijelaskan bahwa Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) merupakan salah satu jabatan fungsional yang memiliki ruang lingkup tugas untuk melakukan kegiatan analisis dan pengkajian, perancangan, produksi, implementasi, pengendalian, dan evaluasi untuk mengembangkan teknologi pembelajaran. Dalam hal ini, teknologi pembelajaran menunjuk pada bidang yang secara sistematik memadukan komponen sumber daya belajar yang meliputi orang, isi ajaran, media atau bahan ajar, peralatan, teknik, dan lingkungan yang digunakan untuk membelajarkan peserta didik pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Teknologi Pendidikan bukan sededar teknologi dalam pendidikan, tetapi merupakan proses sistematika dan sistemik untuk memungkinkan terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran secara berkualitas (Miarso, 2004).
 
Jika merujuk pada definisi Teknologi Pendidikan yang dikeluarkan oleh AECT “educational technology is the study and ethical practice of facilitating and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources” (Januszewski & Molenda, 2008), PTP dapat berkontribusi secara teoretis dan praktik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara luas. Secara teoretis konseptual, PTP dapat melakukan kajian (study) untuk menghasilkan berbagai pengetahuan dan praktik baru yang teruji melalui penelitian ilmiah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran. Secara  praktik, PTP dapat melakukan praktik-praktik secara beretika dalam perancangan dan produksi berbagai media/model pembelajaran yang dibutuhkan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan di berbagai lembaga Diklat. Sehingga dipenerapannya, teknologi pendidikan tadi akan meningkatkan keefektifan guru/dosen dalam mendisposisi pengetahuan, meningkatkan kesiapan guru/dosen dalam melakukan praktik pembelajaran, dan meningkatkan proses belajar sepanjang hayat bagi dirinya (Ansari and Malik, 2013).
 
Maka untuk menghadapi tantangan ke depan, guru dituntut untuk lebih banyak mengembangkan model pembelajaran berbasis tim, kolaboratif, dan memanfaatkan (TIK) dalam meningkatkan kualitas pembelajarannya. Untuk itu, perlu lebih mempererat lagi kerjasama antara PTP dengan pihak sekolah semisal dengan menjadikan PTP sebagai mitra kerja guru dalam peningkatan mutu pembelajaran dan pendidikan di sekolah. 
 
Dengan mengimplementasikan sinergitas antara jabatan fungsional PTP bersama pihak sekolah sebagai langkah strategis untuk membangun sistem pendidikan persekolahan yang berkualitas, guru sebagai pemegang kunci keberhasilan proses pendidikan di sekolah, sudah tentu akan memperoleh dukungan sumber daya yang sangat kontributif dalam pencapaian pendidikan yang berkualitas. PTP dapat membantu sekolah untuk berperan sesuai lingkup tugas dan fungsinya, terutama dalam mengembangkan model pembelajaran inovatif, berbasis tim, kolaboratif, dan memanfaatkan TIK serta media pembelajaran inovatif.
 
Model kegiatan yang bisa dilakukan oleh PTP dalam konteks peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah yang diarahkan pada pengembangan teknologi pembelajaran, misalnya melakukan kegiatan analisis kebutuhan, perancangan, produksi, penerapan, pengendalian, dan evaluasi sistem/model penjaminan mutu pembelajaran. Selain itu, serangkaian kegiatan yang juga dapat dikategorikan sebagai pengembangan profesi PTP adalah menulis karya tulis ilmiah hasil penelitian, kajian, survai, dan evaluasi di bidang teknologi pembelajaran termasuk sistem/model penjaminan mutu pembelajaran berbasis TIK.
 
Dalam pengelompokannya, ragam kegiatan PTP sendiri didasarkan pada bentuk, jenis, dan keluaran dari kegiatan yang dilakukan. Artinya tidak menutup kemungkinan adanya suatu bentuk kegiatan yang akhirnya hanya masuk pada kategori kegiatan penunjang tugas PTP. Misalnya mengajar/melatih tentang sistem/model teknologi pembelajaran. Contoh lain misalnya berperan serta sebagai narasumber/moderator/peserta pada kegiatan seminar/simposium/lokakarya pengembangan sistem/model pembelajaran berbasis TIK.
 
Sedangkan pada konteks pengembangan aneka sumber dan teknologi untuk kepentingan fasilitasi belajar dan peningkatan kualitas pembelajaran, PTP dapat secara luas dan terbuka untuk berkreasi dan berinovasi menghasilkan aneka produk, baik dalam rupa perangkat keras maupun perangkat lunak, termasuk di dalamnya model media/aplikasi pembelajaran tertentu sesuai dengan jenis/jalur/jenjang pendidikan. Di konteks pengelolaan infrastruktur pembelajaran, PTP dapat melakukan berbagai kegiatan berkenaan dengan pemanfaatan berbagai produk model/media/aplikasi berbasis TIK untuk kepentingan pembelajaran. Namun untuk pemanfaatan produk teknologi, perlu didahului dengan analisis kebutuhan, studi kelayakan, ujicoba, dan baru implementasi secara terbatas. Tahapan ini diperlukan untuk meminimalkan kesalahan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan. Hal penting yang turut pula menjadi fokus PTP dalam mengelola aneka sumber belajar di sekolah adalah mengelola aset sumber belajar yang telah dimiliki sekolah agar lebih berfungsi dan berdayaguna untuk mendongkrak peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dan pendidikan pada umumnya.
 
Lingkup tugas  pengembangan dan pengelolaan infrastruktur pembelajaran yang mendesak (urgen) untuk ditangani secara profesional khususnya di masa pandemi Covid-19 saat ini adalah yang berkaitan dengan TIK. Pengembangan dan pengelolaan perangkat lunak seperti web sekolah ataupun pengembangan dan pemanfaatan e-learning jelas membutuhkan penanganan secara profesional yang tidak cukup diberikan/dipercayakan kepada guru sebagai tugas tambahan. Dengan adanya bantuan dari PTP terhadap sekolah, harapannya permasalahan pengembangan dan pengelolaan infrastruktur pembelajaran di sekolah dapat dilakukan secara lebih terstrutur, terprogram, dan terukur.
 
Terkait dengan proses penjaminan mutu pembelajaran, PTP bersama pihak sekolah dalam hal ini TPMPS (Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah) se-intens mungkin melakukan analisis kebutuhan penjaminan mutu pembelajaran di sekolah. Kemudian menetapkan standar mutu pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran, monitoring dan evaluasi pembelajaran. Standar mutu perencanaan pembelajaran mencakup penyusunan silabus, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pengembangan bahan (materi) belajar, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, pengembangan lembar kerja siswa, dan pengembangan alat ukur keberhasilan belajar siswa.
 
Standar mutu pelaksanaan pembelajaran mencakup batasan waktu maksimal guru boleh terlambat masuk kelas pembelajaran, batasan waktu minimal guru boleh mengakhiri jam pembelajaran di kelas, tahapan pembelajaran yang harus dilakukan (pendahuluan, inti, penutup), penggunaan strategi pembelajaran yang menstimulasi proses pembelajaran berpusat pada siswa, pemilihan dan penggunaan media yang mendukung pencapaian kompetensi siswa, penggunaan berbagai teknik penilaian untuk mengukur keberhasilan belajar siswa, dan pelaporan hasil belajar siswa.
 
Untuk standar mutu pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembelajaran, mencakup waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembelajaran di sekolah, mekanisme evaluasi pembelajaran oleh siswa, pelaporan hasil monitoring dan evaluasi pembelajaran, serta program tindak lanjut hasil monitoring dan evaluasi proses pembelajaran. Selanjutnya berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan, dikembangkan perangkat pendukung pencapaian standar seperti Prosedur Operasional Standar (POS), instrumen pemantauan (monitoring) standar, pembentukan tim pemantau, proses audit mutu, pelaporan hasil audit, dan pengembangan program tindak lanjut.
 
Mencermati  bidang  garapan  dan kegiatan yang dapat dilakukan dan dikembangkan oleh PTP di sekolah, dapat diidentifikasi dan dibedakan dengan bidang garapan dan lingkup tugas profesi guru. Meski dalam beberapa aspek masih terjadi persinggungan dengan apa yang menjadi bidang garapan dan tugas profesi guru, untuk implementasi secara empiris dipastikan dapat dicarikan solusi terbaik, yaitu melalui penghargaan berupa angka kredit yang dapat diatur sesuai proporsi kewenangan dan partisipasinya dalam menghasilkan suatu karya. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan tentang lingkup tugas dan fungsi guru sebagai pembelajar dengan hadirnya profesi PTP di sekolah.
 
Akhir kalam, implementasi sinergitas jabatan fungsional PTP bersama sekolah adalah sebuah keniscayaan. PTP dapat menjadi mitra kerja guru dan jajaran manajemen sekolah yang berpotensi untuk meraih mutu pembelajaran yang lebih diinginkan dan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan secara umum. Melalui penguatan sistem penjaminan mutu pembelajaran, pengembangan dan pengelolaan infrastruktur pembelajaran serta pengembangan kapasitas sumber daya pendidikan yang dapat dilakukan oleh PTP, guru dapat lebih fokus ke fungsi pembelajaran, dan jajaran manajemen dapat lebih berkonsentrasi ke usaha pengembangan sekolah.
 
Referensi
 
Ansari, Scholar Urusa and Sufiana K. Malik. (2013). Image of An Effective Teacher In 21st Century Classroom. Journal of Educational and Instructional Studies in The World. 3 (4); 61-68
 
Januszewski, Alan and Michael Molenda. 2008. Educational Technology: A Definition with Commentary. New York: Taylor & Francis Group.
 
Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.
 
NEA. (2012). Preparing 21st Century Students for a Global Society: An Educator Guide to the “Four Cs”. Diunduh September 2016 dari: www.nea.org/assets/docs/A-Guide-to-Four-Cs.pdf.
 
Pallegrino, J.W. and Margaret L. Hilton. (2102). Education for Life and Work: Developing Transferable Knowledge and Skills in the 21st Century. National Research Council. Diunduh Juni 2017 dari http://www.nap.edu/ catalog.php?record_ id=13398.
 
Trilling, Bernie and Charles Fadel. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco: Jossey-Bass.
 
(Dr. Wahsun, Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda LPMP Provinsi Jawa Timur, web: https://www.celotehpendidikan.com/Judul asli artikel: Menyemai Benih Sinergitas Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Sekolah/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: