Puan: Tepis Hoaks, Cerdas Gunakan Medsos

Redaksi 28 Maret 2019

Hoaks tidak saja memicu timbulnya perpecahan pendapat masyarakat di suatu negara. Hoaks atau berita bohong juga merusak reputasi hubungan internasional negara tersebut dengan negara lain.

Bertebarannya hoaks di masyarakat Indonesia melalui media sosial ini pun menjadi perhatian tersendiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani. Semata karena persatuan bangsa dapat terancam dan gerak untuk maju terhalangi.

“Bangsa Indonesia saat ini berada dalam generasi gadget. Saya berpesan agar para peserta Jambore dapat menggunakan gadget dengan sebaik-baiknya,” katanya pada pembukaan Jambore Pandu Sekolah Model Kedua di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, Surabaya pada Rabu (20/3/2019).

Menko PMK Puan mengatakan generasi Z dan milineal adalah penentu masa depan Indonesia. “Mereka inilah generasi yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi baik, bagus, tidak baik atau tidak bagus di masa mendatang,” tuturnya di acara untuk penguatan pendidikan karakter dan ekspresi kebudayaan Provinsi Jawa Timur 2019 itu.

Generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1996 hingga 2012, sedangkan generasi milineal atau generasi Y adalah mereka yang lahir antara 1980-an hingga awal 1990-an. Keduanya sangat tergantung dengan teknologi, gadget, dan media sosial.

Makna harfiah hoaks sendiri dalam bahasa Inggris sebenarnya adalah malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Jadi, ada pihak tertentu yang sengaja membuat kebohongan untuk merugikan pihak lain di masyarakat.

Kerap hoaks bermuatan pesan rasisme, pelecehan, intimidasi dan merusak reputasi. Media sosial menjadi platform penyebarannya sebab jejaring penggunanya yang sangat luas.

Puan berpesan agar penggunaan gadget pada anak dapat dimanfaatkan dengan baik. Tidak boleh untuk membeda-bedakan orang berdasarkan asal mereka, suku dan agamanya.

“Sebab, kita semua adalah rakyat Indonesia. Akar kita ini tidak boleh hilang seumur hidup dari diri kita. Kita adalah orang Indonesia, bangsa Indonesia,” tegas Puan kepada para pramuka peserta jambore di LPMP Jatim.

Dengan kata lain, nilai-nilai kebhinekaan dan persatuan seharusnya justru menjadi kekuatan di tengah ancaman sebaran paham intoleransi dan berita bohong saat ini. “Sepatutnya kita mengamalkan Pancasila, keberagaman atau bhineka tunggal ika di Indonesia sehingga tidak terpengaruh dengan hal-hal yang  berbau hoax lagi,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Jambore Pandu Sekolah Model merupakan publikasi capaian sekolah model dalam penerapan penguatan pendidikan karakter. Peserta jambore berasal dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Setiap kabupaten dan kota diwakili satu sekolah model. Menko PMK Puan mengakhiri sambutannya dengan menegaskan agar Jambore menjadi ajang bagi anak-anak muda untuk mau berbagi dengan sesama. (Bagus Priambodo)

Tags: