PMP lewat Terapan Teknologi Pendidikan

Redaksi 23 Desember 2020

Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU Sisdiknas 2003). Lingkungan belajar tidak hanya terbatas pada lingkungan belajar di kelas sekolah tetapi juga lingkungan belajar di perguruan tinggi, kelas di lembaga kursus, dan di lembaga diklat. Namun tulisan ini hanya akan fokus pada lingkungan belajar di lingkup kelas sekolah pendidikan dasar dan menengah.
 
*Info: PMP adalah Penjaminan Mutu Pembelajaran
 
Definisi lain tentang pembelajaran dikemukakan Miarso (2004) dalam bukunya Menyemah Benih Teknologi Pendidikan dimana beliau menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan usaha yang disengaja, bertujuan, terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap. Miarso juga membedakan antara istilah pembelajaran dan pengajaran dimana menurutnya pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan belajar dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu, sedangkan pengajaran adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar kepada siswa yang biasanya berlangsung dalam situasi formal (2004:528). Usaha yang dimaksud Miarso hanya dapat dilakukan oleh seseorang atau tim yang memiliki kompetensi merancang dan mengembangkan aneka sumber belajar yang diperlukan. Proses  pembelajaran sebagai inti dan pusat aktivitas pendidikan, sedangkan kualitas pembelajaran menjadi penentu keberhasilan sekolah sebagai lembaga pendidikan, dan berkorelasi positif terhadap mutu pendidikan secara keseluruhan.
 
Kualitas pembelajaran merupakan intensitas keterkaitan sistemik dan sinergis antara guru, siswa, iklim pembelajaran, serta media pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler (Mariani dalam Haryati & Rochman, 2012:2). Sedangkan menurut Daryanto, kualitas pembelajaran adalah suatu tingkatan pencapaian dari tujuan pembelajaran awal termasuk di dalamnya adalah pembelajaran seni, dalam pencapaian tujuan tersebut berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan dan pengembangan sikap peserta didik melalui proses pembelajaran di kelas (Prasetyo,2013:12). Dari dua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran merupakan tolak ukur sejauh mana tingkat pencapaian hasil dari tujuan pembelajaran itu sendiri. Harapannya tujuan pembelajaran yang sudah tercapai tadi akan menghasilkan hasil belajar yang optimal dari peserta didik.
 
Kualitas pembelajaran yang baik dan efektif dapat dilihat melalui beberapa indikator yaitu: (a) Perilaku pembelajaran pendidik (guru). Keterampilan dalam mengajar seorang guru menunjukkan karakteristik umum dari seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan dalam bentuk tindakan; (b) Perilaku atau aktivitas siswa. Siswa di sekolah dapat banyak melakukan aktivitas belajar baik di kelas maupun di luar kelas/di lingkungan sekolah semisal kegiatan ekstrakulikuler dan lainnya; (c) Iklim pembelajaran. Iklim pembelajaran dapat berupa suasana kelas yang kondusif dan suasana sekolah yang nyaman; (d) Materi pembelajaran. Materi pembelajaran yang berkualitas terlihat dari kesesuaikannya dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus ditempuh; (e) Media pembelajaran. Media pembelajaran menciptakan suasana belajar menjadi aktif, memfasilitasi proses interaksi antara siswa dan guru, siswa dan siswa, siswa dan ahli bidang ilmu yang relevan; dan (f) Sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran di sekolah mampu menunjukkan kualitasnya jika sekolah menonjolkan ciri khas keunggulannya, memiliki penekanan dan kekhususan lulusannya (Ditjen Dikti Kemdikbud, 2011). Indikator-indikator kualitas pembelajaran inilah yang dapat dijadikan rujukan sekaligus bidang garapan yang dijaminkan kepada masyarakat dan segenap pemangku kepentingan pendidikan persekolahan.
 
Dalam memenuhi kualitas pembelajaran yang efektif/bermutu tentu tidak semulus “aliran tetesan air di cermin”. Banyak permasalahan dan kendala yang terjadi dalam prosesnya semisal siswa kurang dapat menangkap paparan materi oleh guru, guru kurang cakap dan salah dalam pemilihan dan pemanfaatan media pembelajaran, dan lain sebagainya. Di sinilah perlunya peran Teknologi Pendidikan melalui tenaga profesional Pengembang Teknologi Pembelajaran. Tujuan paling dasar dari Teknologi Pendidikan adalah membantu memecahkan masalah belajar manusia sepanjang hayat, dimana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja secara sistematis (Miarso, 2004). Semisal jika masalah belajar terjadi di ruang-ruang kelas pembelajaran maka pemecahan masalah belajarnya dapat dilakukan dengan menerapkan teori dan praktik teknologi pendidikan
 
Secara definitif, Teknologi Pendidikan adalah disiplin ilmu terapan, berkembang oleh adanya kebutuhan di lapangan yaitu kebutuhan untuk belajar secara lebih efektif, efisien, luas, banyak, cepat, dan sebagainya. Untuk itu harus ada suatu produk yang sengaja dikembangkan untuk kepentingan belajar tersebut, dan ada pula yang ditemukan dan dapat didayagunakan untuk kepentingan yang sama.
 
Merujuk pada definisi resmi teknologi pendidikan dari AECT pada tahun 2004, bahwa “Educational technology is the study and ethical practice of facilitating and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources” (Januszewski & Molenda [eds.], 2008), maka teknologi pendidikan sejatinya dapat berkontribusi secara teoretik dan praktik dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Secara teoretik konseptual dapat dilakukan kajian (study) untuk menghasilkan berbagai pengetahuan baru dan praktik-praktik yang teruji melalui penelitian ilmiah, sedangkan secara praktik dapat dilakukan praktik-praktik beretika dalam perancangan dan produksi berbagai perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.
 
Beberapa hal yang mencakup bidang garapan teknologi pendidikan tersebut dapat berubah dan berkembang sesuai dengan konteks dan kebutuhan riil pembelajaran. Upaya tersebut memerlukan kejelian, sensitivitas sosial, dan daya analisis dari para Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) untuk dapat mengaktualisasi dan berkontribusi secara maksimal terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karenanya, kehadiran SDM (Sumber Daya Manusia) Pengembang Teknologi Pemebelajaran pada satuan pendidikan tidak hanya dalam konteks  mengembangkan desain pembelajaran, media dan bahan pembelajaran, sumber belajar, dan lingkungan pembelajaran, tetapi juga dalam kerangka proses penjaminan mutu pembelajaran.
 
Proses Penjaminan Mutu Pembelajaran (PMP) merupakan salah satu unsur dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang proses kontrolnya dilakukan oleh TPMPS (Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah). Bersama TPMPS inilah para PTP bisa saling bersinergi dan bekerjasama melakukan proses penjaminan mutu pembelajaran di sekolah. Harapannya adalah mutu atau kualitas pembelajaran semakin efektif.
 
Terkait dengan upaya penjaminan mutu pembelajaran sebagai implementasi teknologi pendidikan dalam skala kelembagaan satuan pendidikan, target yang dapat diupayakan adalah; (1) Terpetakan permasalahan dalam pembelajaran di satuan pendidikan melalui kegiatan analisis kebutuhan; (2) Memberikan layanan fasilitasi bagi SDM pendidik dan tenaga kependidikan terkait teori, model-model dan media-media  pembelajaran sesuai kebutuhan PTK; (3) Membangun budaya mutu di antara komponen sistem pembelajaran di sekolah; (4) Adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan proporsional di antara komponen sistem pembelajaran di sekolah; (5) Mulai ditetapkannya secara internal sekolah tentang standar mutu pembelajaran yang menjadi komitmen dari semua komponen dalam sistem pembelajaran; (6) Terbangunnya sistem informasi mutu pembelajaran di satuan pendidikan.
 
Dengan begitu, sudah saatnya memaksimalkan penjaminan mutu pembelajaran lewat terapan teknologi pendidikan yang dikembangkan oleh PTP, berkolaborasi bersama Guru, TPMPS dan berbagai pihak terkait dengan prinsip berkelanjutan, terencana dan sistemtis dengan kerangka waktu dan target capaian mutu yang jelas dan terukur, menghormati otonomi sekolah, memfasilitasi pencapaian pembelajaran berkualitas, dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
 
Referensi
 
Haryati, & Rochman. (2012). Peningkatkan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Praktik Belajar Kewarganegaraan (Project Citizen). Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No.2, Juli 2012
 
Januszewski, Alan and Michael Molenda. (2008). Educational Technology: A Definition with Commentary. New York: Taylor & Francis Group.
 
Ditjen Dikti Kemdikbud. (2011). Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
 
Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.
 
Prasetyo, Hari Agus. (2013). Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matematika MelaluiStudent Teams Achievement Division (STAD) Berbantuan Kompter Pada Siswa Kelas IV A SDN Bendan Ngisor. Diakses pada 23 Juli 2019 dari http://lib.unnes.ac.id/.
 
(Maryono, S.Sos., M.M, Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda LPMP Provinsi Jawa Timur & Koordinator Fungsi Sistem Informasi LPMP Provinsi Jawa Timur, Judul asli artikel: Penjaminan Mutu Pembelajaran di Satuan Pendidikan Melalui Terapan Teknologi Pendidikan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: