Pesan Dari Hyderabad

Redaksi 16 Agustus 2018

India. Banyak orang mengasumsikan negeri Gandhi ini dengan kemiskinan, kebisingan, kekumuhan, tarian dan Bollywood. Tidak sedikit orang-orang di sekitar saya yang menunjukkan keheranannya ketika saya akan berangkat untuk melanjutkan studi ke tanah Hindustan. Seakan-akan India bukan lah negeri yang pas untuk orang Indonesia melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. India bukan (atau belum?) negara maju, jadi untuk apa ke sana? Padahal kita lupa, dahulu India sempat menjadi pusat peradaban.

Okelah, secara global India bagaikan belantara modern yang padat, debu kendaraan penyebab polusi dimana-mana, kadang di trotoarnya tercium semerbak bau urine yang terkesan jorok, gedung-gedung mirip reruntuhan serta kuil-kuil tua untuk ibadah yang kusam seakan bergelimang dimana-mana. Benar-benar lukisan nyata kemiskinan, belum lagi kriminalitas serta pelecehan terhadap wanita yang kabarnya marak terjadi.

Tapi bagaimana dengan lima peraih hadiah nobel? Tiga diantaranya Bunda Teresa,  Amartya Kumar Sen  dan Rabindranath Tagore. Bagaimana pula dengan seorang dokter yang termasyhur karena kehafalan dan kedalaman pemahamannya akan Al Quran, Al Hadist serta berbagai kitab suci agama lain yang semua beliau lahap jauh melebihi penganutnya alias ngelontok mulai A sampai Z, ya dia itu, dokter Zakir Naik, tahukan siapa dia? Bahkan para ulama di Indonesiapun angkat topi untuknya. Oh iya, yang ini tidak boleh lupa brother, Shahrukh Khan, Kajol, Amir Khan, Salman Khan, siapa yang asing mendengar nama besar mereka, para superstar/mega bintang Bollywood yang mampu menggoyang telak para penikmat film termasuk di Indonesia. Masih ingat jugakan kepopuleran kisah Ramayana dan Mahabharata? Kita semua tahu serial tv-nyakan? Belum lagi kuliner andalannya yang mendunia dengan aroma khasnya: chicken curry terutama bagi masyarakat Eropa (khususnya di UK (United Kingdom)). Semua itu dari India betul?

Saya sendiri sebenarnya enggan berdebat panjang lebar tentang bagaimana India telah banyak mempengaruhi perkembangan berbagai bidang ilmu. Saya juga tak ingin berlelah-lelah menjelaskan bagaimana India menjadi salah satu kekuatan ekonomi Asia dan berhasil meluncurkan satelit ke Mars. Pun, tidak ingin menyebutkan daftar orang India penerima nobel atau menyebutkan tokoh-tokoh penting dunia yang berasal dari India (seperti beberapa nama yang telah saya sebut tadi), karena semuanya terkesan pembelaan semata. Ya, seakan saya membela diri di hadapan mereka yang ragu dengan bersekolah ke India.

Saya tidak ingin membela diri di sini. Saya hanya ingin bercerita. Berkisah tentang apa yang saya jumpai di negeri sari itu tanpa tendensi apa pun. Saat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di India datang, saya tidak ragu untuk mengambilnya. Tanpa pikir panjang. Tanpa ada keraguan sedikit pun, bahkan saya sangat excited menanti waktu keberangkatan ke India. Setelah sekitar sebulan di India, tepatnya di kota Hyderabad, saya diajak oleh seorang senior ke sebuah area pertokoan Abids Road yang tidak seperti biasanya di hari Minggu. Dia bilang, “Mau mborong buku nggak?” Banyak toko yang tutup, digantikan dengan banyaknya pedagang buku yang menggelar dagangannya di emperan toko-toko yang tutup itu. Buku yang dijual kebanyakan bekas. Kalau pun ada yang baru, itu sangat jarang. Baik buku teks kuliah, novel, komik, buku desain, buku sejarah dan bahkan majalah bekas pun di jual di sini. Pantas saja banyak orang ke sana di hari Minggu untuk berburu buku murah, mulai dari siswa sekolah, mahasiswa, kalangan umum, bahkan sampai orang asing.

Akhirnya, perjalanan saya menyusuri pelataran pertokoan itu berakhir dengan bertumpuknya buku di tas. Buku-buku lawas. Buku-buku terbitan penerbit terkenal mulai dari Cambridge, Penguin, Oxford, dan lain-lain dengan harga tidak lebih dari 20.000 rupiah. Benar-benar surga. Benar-benar murah! Terang saja banyak mahasiswa yang suka berlama-lama di sana. Sekedar untuk melihat-lihat atau bahkan tidak sedikit yang membaca gratis meski harganya murah meriah. Dan, semua harga bisa ditawar. Sedikit mengiba dengan bilang bahwa status kita mahasiswa, voila! Harganya jadi makin murah.

Setidaknya ini yang membuat saya tidak heran melihat sebagian besar kawan sekelas memegang dan sibuk tenggelam dalam buku. Semuanya baik mahasiswa asing atau bahkan mahasiswa lokal. Mereka membaca buku. Buku teks kuliah, novel, buku filsafat, buku sejarah, buku motivasi dan segala buku lainnya. Mereka ada di sudut taman kampus, di ruang kelas yang kosong, di lorong kampus, atau di perpustakaan. Mereka membaca.

Keheranan saya berlanjut ketika banyak dari senior mahasiswa Indonesia yang tiba-tiba sibuk belanja buku secara online di akhir masa studinya. Mereka membuat daftar buku mana saja yang mereka wajibkan sendiri untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Berbelanja buku secara online bukan hal yang baru di India. Banyak website online shop seperti Snapdeal, Amazon dan Flipkart menyediakan bagian khusus untuk belanja buku dan umumnya harga buku yang ada lebih murah dari harga buku di tanah air. Jauh lebih murah. Sehingga, di akhir masa studi biasanya mahasiswa Indonesia sibuk membandingkan harga buku dan belanja buku online disamping kesibukan mencari oleh-oleh untuk sanak keluarga di rumah.

Bahkan mereka merelakan kopernya penuh sesak dengan buku dan berlomba-lomba mewariskan segala pakaian dan barang-barang yang dirasa tidak penting kepada junior atau kawan mereka demi memuat lebih banyak buku di koper mereka untuk dibawa pulang ke kampung halaman di Indonesia. Mereka mencari dan menelusuri katalog buku dengan penuh antusias.  Di India, banyak website online shop yang menawarkan bermacam-macam buku baru dari penulis dan penerbit ternama dengan harga yang lagi-lagi jauh lebih murah dari harga buku yang sama di Indonesia. Belum lagi kalau musim diskon. Kami harus sibuk memilah dan memilih judul buku bukan karena tidak mampu membeli, namun karna saking banyaknya buku dengan harga murah yang menggoda lembar demi lembar Rupees di dompet kami. Buku-buku baru itu berlabel India version. Membuat harganya menjadi murah meriah. Berbeda dengan di Indonesia yang harga buku dari penerbit asing menjadi selangit, di India harga buku penerbit asing terjangkau. Ternyata tidak sedikit dari mereka (para penerbit asing) yang memiliki “cabang” di India, sehingga memungkinkan harga jual yang bersahabat.

Satu kejadian saat mengantar senior di bandara Rajiv Gandhi untuk pulang ke Indonesia setelah masa kuliahnya selesai, bagasinya berlebih. Sang senior dengan tega langsung membuang pakaian yang dibawanya demi mempertahankan buku-buku yang hendak dia bawa pulang. Pada saat itu saya berpikir bahwa sungguh sayang bertumpuk-tumpuk pakaian harus dibuang begitu saja. Eh, tidak disangka saya juga mengalami hal yang sama di akhir masa kuliah saya di sana. Saya kalap membeli buku ini itu baik secara online maupun langsung ke toko buku. Baik beli buku baru atau beli buku bekas yang totally murah. Sehingga ketika saya hendak pulang saat masa studi saya berakhir, saya juga harus rela membuang sebagian pakaian saya demi mempertahankan buku dan demi tidak harus membayar biaya kelebihan beban yang cukup mahal.

Kejadian seperti itu bukanlah kejadian langka dan luar biasa bagi mahasiswa Indonesia di India. Mahalnya ongkos kirim barang ke Indonesia membuat para mahasiswa biasanya membawa buku-buku favoritnya disaat pulang. Apakah ini pertanda bahwa sebenarnya orang Indonesia juga suka membaca? Minat baca hanya tertahan dan tertekan karena mahalnya buku?

Buku-buku murah hanya akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan minat baca yang tinggi. Dan di sini, semua membaca. Semua ingin meneguk ilmu. Semua ingin maju. Semua ingin berilmu. Di sebuah perjalanan dari stasiun Sitaphalmandi ke Hitech City, saya menyaksikan seorang anak yang khusuk asyik sedang membaca. Dia seakan-akan tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia tidak menaruh perhatian pada dunia sekitarnya. Ini bukan kejadian pertama. Pemuda yang terpekur dengan bukunya di bawah pohon dekat kampus. Seorang gadis yang asyik dengan Chetan Bhagat di dalam bis. Kegiatan membaca tidak mengenal gender, tidak mengenal usia. Sekali lagi, semua membaca. Semua memanfaatkan surganya.

Jujur, masih terasa aneh bagi saya mengingat sebagian info yang saya kutip dari: http://timesofindia.indiatimes.com/india/India-has-a-third-of-worlds-illiterates/articleshow/916814.cms, dengan 34% populasi buta huruf di dunia, India memiliki jumlah terbesar yang buta huruf sejauh ini, dengan penempatan kedua yaitu China sebesar 11%. Namun India melakukan yang terbaik di rasio partisipasi - pada 82,3%, ini mendekati rata-rata dunia - peringkat ke-94. Telah terjadi lompatan peringkat melek huruf orang dewasa pula di India, dari 121 - tahun lalu menjadi 105 - tahun ini berkat perubahan dari angka tahun 1991 sampai tahun 2001. Tapi tetap saja tingkat melek huruf orang dewasa berada di angka 61,3% masih jauh di bawah rata-rata 76% untuk negara berkembang dan rata-rata global 81,7%. Poinnya adalah prestasi india sebenarnya tidak lebih baik dari Indonesia di tangga literasi dunia. Bukti lain yang menguatkan diantaranya kandasnya India pada pemeringkatan literasi internasional terbitan Central Connecticut State University, Maret 2016. Indonesia agaknya masih lebih baik dari India sekalipun di posisi memprihatinkan yaitu 60, satu peringkat lebih baik dari Bostwana di posisi buncit yaitu 61.

Terlepas dari keterpurukan India di kancah literasi dunia, nyatanya India di sekitar saya saat itu malah mengajarkan saya untuk gemar membaca, untuk terus belajar. India di sekitar saya seakan tidak peduli dengan asumsi kemiskinan dan kemelaratan yang disematkan kepadanya. India di sekitar saya terus bergerak maju dan seakan ingin mengembalikan kejayaan peradaban India kuno yang memimpin kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu.

Seperti yang saya sebut di awal, Hyderabadlah kota tempat saya menimba ilmu Master (S2). Kota ini tidak terlalu sama dengan kota-kota besar lain di India khususnya Delhi dan Mumbai yang kesannya hiruk pikuk, sumpek, ruwet, bising, berdebu, macet dan amburadul. Hyderabad seolah menjadi kota simbol ketenangan dan keteraturan di India dengan karakter manusianya (masyarakatnya) yang ramah dan sabar, hidupnya adem ayem. Hyderabad kaya dengan khazanah sejarah, budaya, senibina bangunan dan mempunyai watak unik Utara dan Selatan India. Hyderabad mempunyai penduduk beragama Islam dan Hindu. Mereka hidup dalam keadaan aman sejahtera walaupun berlainan agama, budaya dan adat. Kini Hyderabad terkenal dengan pembangunan teknologi informasi dan bioteknologinya.

Kembali ke semangat membaca dan murahnya buku-buku di India, sebenarnya membaca sendiri mengingatkan saya kembali ke sejarah Islam masa lalu, di saat yang mulia Nabi Muhammad SAW berhasrat mengubah kaum Arab yang pada masa itu masih mengalami keterpurukan moral alias terlena dengan kejahliyahannya, membaca menjadi salah satu kunci/kartu untuk menyadarkan dan membuka mata serta hati mereka dari kejahiliyahan tersebut, seperti wahyu pertama dari Allah SWT ke beliau yang disampaikan Malaikat Jibril di Gua Hira. Betapa luar biasa perintah Allah SWT tersebut. Kewajiban membaca ini tentunya tidak lepas dari aktivitas coretan pena (menulis) dan perintah belajar tiada henti demi keselamatan umat manusia baik di dunia maupun akhirat, yang hasil baik saat itu membudaya serta terus menerus, konsisten dan secara estafet ditularkan oleh para pemimpin Islam berikutnya melalui pembiasaan, peningkatan, pemantapan dan pengembangan tradisi keilmuan. Khususnya menuliskan berbagai ilmu pengetahuan tadi menjadi buku sehingga tidak hilang ditelan zaman dan dapat diwariskan kepada generasi manusia berikutnya

Indonesia dengan minat baca yang rendah perlu segera berubah. Membaca harus dijadikan budaya. Membaca bisa menjadi langkah awal untuk membuka mata kita terhadap dunia. Membaca bisa menjadi kegiatan kita untuk mengenal diri sendiri. Membaca bisa meluaskan wawasan kita, melapangkan pemikiran kita, dan mengenal budaya, tradisi dan keilmuan dari luar.

Berada di India khususnya di kota Hyderabad selama dua tahun membuat saya berpikir, kapan Indonesia akan membaca? Salutlah bila angka melek huruf (tidak buta huruf) di Indonesia meningkat. Tapi tidaklah cukup sampai di situ. Sayang sekali andai mereka yang melek huruf motivasi bacanya rendah. Apakah harus menunggu harga buku-buku murah? Atau menanti pemerintah untuk memberikan subsidi buku? Atau menanti Indonesia menjadi surga buku? Yang jelas Indonesia harus membaca. Iqra’. (Reza Pahlevi-Alumnus S2 (MA Program), Osmania University, Hyderabad, India)

Tags: