Perbaikan Lingkungan Belajar melalui Tindakan Peduli Trauma

Redaksi 12 Desember 2021

Global Knowledge - Dalam sebuah artikel di Teacher Magazine, Ben Sacco dari Institut MacKillop Melbourne – Australia, membahas 3 elemen yang dapat secara langsung mendukung sekolah untuk meningkatkan pengajaran, pembelajaran, dan kesejahteraan – keamanan, kepercayaan relasional, dan bahasa bersama (berkomunikasi dengan mengutamakan rasa saling memahami). Kali ini, Sacco, dan Wakil Kepala Sekolah St Pius X Stacey Atkins dan Kepala Sekolah Joe Ewing berbagi bagaimana sekolah dasar Katolik di Keuskupan Ballarat telah menerapkan elemen-elemen ini ke dalam tindakan.
 
Di Sekolah Paroki St Pius X di Warrnambool – Australia, hubungan yang kuat dan suportif antara guru dan siswa, siswa dengan teman sebayanya, dianggap sangat penting.
 
Sekolah menyediakan program pendidikan yang meliputi pengembangan manusia seutuhnya, menawarkan pengalaman belajar yang mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka serta kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
 
Sekolah ini mengakui pentingnya mengembangkan rasa harga diri anak dan kemampuan untuk percaya pada diri mereka sendiri melalui pencapaian sukses diri sendiri, serta memberikan kesempatan kepada staf untuk benar-benar memperhatikan kenyamanan dalam bekerja dan kesejahteraan mereka sebagai motivasi untuk menciptakan kegiatan (aktivitas) dan lingkungan belajar mengajar yang makin menyenangkan.
 
Peran Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah merupakan bagian dari tim kepemimpinan (tim tata kelola/perbaikan sekolah). Kami memandang hubungan yang autentik dan tulus sebagai landasan bagi semua anggota komunitas (warga sekolah) untuk berkembang. Kami percaya bahwa semua anak dapat belajar jika diberikan waktu dan dukungan yang tepat – pembelajaran ini terjadi ketika mereka merasa aman, terjamin, dan bahagia – kita harus mendengarkan mereka, dan memperlakukan mereka dengan hormat setiap saat. Staf adalah “aktor” (sumber daya manusia) yang paling berperan di sekolah, kesejahteraan serta kenyamanan mereka dalam melakukan tugasnya juga menjadi yang terpenting untuk diperhatikan.
 
Menanggapi kebutuhan anak-anak dan remaja.
 
Model Reframing Learning and Teaching (ReLATE) dari MacKillop Institute, mengakui bahwa guru dan sekolah membutuhkan alat, pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang mengajak mereka menyadari dampak (pengaruh) pengalaman masa kecil yang merugikan (buruk/tidak menyenangkan) terhadap keterlibatan, pembelajaran, kesehatan, dan kesejahteraan.
 
Menggabungkan penelitian pendidikan, ilmu sosial, teori perilaku, dan ilmu saraf, guru didukung untuk menerapkan strategi praktis di kelas mereka.
 
Sebelum memperkenalkan ReLATE di St Pius X, ada kekhawatiran tentang perilaku siswa, dan tim kepemimpinan sedang mencari strategi yang paling tepat dan efektif untuk membantu siswa dan staf mengatasi hal ini. Staf merasakan tekanan tambahan di dalam kelas dan ada kekhawatiran juga terhadap anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar karena perilaku mereka yang ditunjukkan (sikap-sikap buruk mereka).
 
Kami mengidentifikasi kelompok siswa yang diprioritaskan mendapat dukungan (pendekatan) – apakah itu terkait perilakunya seperti agresi (tindakan kasar/perundungan) di halaman sekolah (fisik dan verbal), perilaku agresif di kelas, atau penolakan untuk sekolah. Kami memperhatikan, semua ini mengakibatkan tingginya tingkat tindakan disiplin yang diambil sekolah lanjutan seperti penangguhan (menerapkan kebijakan tidak dapat melanjutkan proses belajar/studi bagi siswa yang berperilaku buruk), namun kami ingin melakukan sesuatu yang lebih memberikan dampak positif bagi siswa kami.
 
Kami berinisiatif menerapkan berbagai langkah yang membuat tiap ruang/area di sekolah mampu memberikan rasa nyaman (bahagia) ke warga sekolah. Agar para siswa memiliki pengalaman berkualitas dengan program pembelajaran sosial dan emosional, kami menyadari bahwa kami perlu menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan mengintegrasikan teori dan praktik berbasis penelitian dan berbasis bukti yang penerapannya tidak memberatkan staf kami tetapi mampu memberikan hasil yang baik.
 
Strategi bertarget dan pendekatan yang konsisten
 
Model ReLATE tidak hanya berteori, tetapi yang lebih penting, model ini telah memberikan strategi yang ditargetkan berbasis bukti, membantu guru kami mengembangkan ‘pendekatan yang  konsisten’ dan komunikasi yang lebih bersahabat berdasar rasa saling memahami ketika menanggapi kebutuhan belajar siswa.
 
‘Pendekatan yang konsisten’: pendekatan yang mengajak anak mengetahui bagaimana seharusnya (batasan-batasan) berperilaku agar mereka dapat hidup dengan baik dan harmonis di tengah masyarakat. (Parenting Ideas)
 
Sekarang ada pengakuan bahwa hubungan adalah dasar dari segala sesuatu yang kita lakukan di sekolah. Setiap orang menggunakan pendekatan serta bahasa yang sama (terdapat batasan/aturan dalam berperilaku dan mengedepankan rasa saling memahami), dan staf kami memanfaatkan pengalaman belajar profesional bersama untuk memahami pentingnya sebuah prosedur dalam melayani untuk dapat terus melangkah maju menjadi lebih baik.
 
St Pius X membentuk ‘tim implementasi’ (tim teknis) – tim non-hierarkis dan profesional yang beragam (beberapa tim yang dibentuk berdasarkan keahlian dan kebutuhan, bebas dari prosedur yang berlapis, cepat dalam mengambil keputusan dan hemat biaya), yang telah terbukti berhasil dalam mendorong agenda perubahan yang sehat  (terjadinya perbaikan). Kami bergerak menuju hasil pengajaran dan pembelajaran yang lebih baik melalui pemahaman terhadap dampak pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan (buruk) pada tubuh dan otak anak yang sedang berkembang. Pemikiran kami telah beralih dari perilaku menantang anak-anak yang dihargai (melakukan sesuatu yang baik agar dihargai/mendapat penghargaan) menjadi perilaku yang didukung (tindakan-tindakan untuk mendukung mereka menjadi/berperilaku baik).
 
Kesejahteraan dan keamanan (kebahagiaan dan kenyamanan) semuanya telah menjadi perhatian utama staf. Ada perluasan makna dari apa yang dimaksud dengan aman. Komunitas kami telah membingkai ulang cara berpikir mereka mengenai lingkungan yang memberikan rasa aman baik secara emosional, spiritual maupun sosial, serta keamanan dalam berkarya dan fisik. Rencana keselamatan (pengamanan dari tindakan dan lingkungan buruk) telah menjadi alat (landasan/dasar) penting untuk menyusun perencanaan, menggunakannya, dan merefleksikannya saat emosi meningkat/pikiran tidak jernih akibat bertambahnya tekanan/tuntutan dalam pelaksanaan tugas.
 
Keamanan, kepercayaan relasional, dan bahasa yang digunakan bersama
 
Tim kepemimpinan juga menempatkan fokus pada 3 elemen keamanan, kepercayaan relasional (rasa saling percaya antar individu dalam sebuah kelompok/organisasi), dan bahasa bersama (komunikasi dengan mendahulukan rasa saling memahami) .
 
Keamanan: menetapkan strategi check-ins untuk mempelajari bagaimana perasaan anak atau remaja dan apakah mereka siap untuk belajar atau membutuhkan lebih banyak waktu mempersiapkan diri untuk kembali belajar di sekolah.
 
Kami secara teratur memeriksa siswa dan staf untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka. Terutama melalui ReLATE Circle (yang kami sebut sebagai pertemuan komunitas) setiap pagi. Hal ini membantu untuk membangun hubungan antara anggota staf, antara staf dan siswa, dan antara siswa. Kami menjadi lebih selaras (memahami dan terhubung) dengan perasaan rekan kerja kami, tujuan, pencapaian, dan kebutuhan mereka. Kami menemukan bahwa siswa juga selalu bersemangat untuk memulai hari mereka dengan pertemuan komunitas (bertemu dengan teman-temannya/sesama siswa dan warga sekolah yang lain). Beberapa anak memiliki ‘check-ins’ yang lebih teratur dan menggunakan sistem kartu (manajemen perilaku untuk memantau perilaku siswa dan mendorongnya untuk melakukan upaya-upaya perbaikan diri) sehingga guru tahu bagaimana perasaan mereka setiap saat.
 
‘Check-ins’: proses dimana siswa diajak untuk berhenti atau berhenti sejenak, bereksplorasi, dan menghargai/mengelola emosinya. Ini berguna bagi siswa untuk mengungkapkan perasaanya, dan mengajak siswa untuk mampu melihat emosi sebagai aset. (6 Seconds)
 
Kepercayaan relasional: mempertimbangkan tindakan-tindakan yang baik (perilaku yang tidak merugikan/menyebabkan trauma) yang berkontribusi pada kebahagiaan siswa atau rekan kerja  seperti tersenyum serta menggunakan nama rekan atau siswa saat Anda menyapa mereka.
 
Pandemi Covid-19 dan ketidakpastiannya telah menunjukkan kepada kita semua pentingnya bersikap baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Setiap pagi, Joe atau Stacey menyapa anak-anak dan staf dengan menyebutkan namanya saat mereka tiba di sekolah, yang merupakan hal kecil yang akan memastikan bahwa setiap orang dihargai.
 
Bahasa bersama: meluangkan waktu untuk mengenal minat kolega dan siswa Anda yang tidak terkait dengan pekerjaan atau sekolah (di luar sekolah/non akademis) dan mempelajari narasi budaya dari mereka (kebiasaan sehari-hari, keunikan mengenai asal/tempat tinggal dan orang-orang yang melatarbelakangi pendidikan mereka) yang turut memberi pengaruh ke komunitas sekolah.
 
Di St Pius X kami memiliki pemahaman yang kuat tentang komunitas yang kami layani. Kami menyadari bahwa setiap komunitas adalah unik dan ini perlu dihargai. Kami bekerja keras untuk membangun hubungan dan kepercayaan melalui mendengarkan secara aktif dan bertemu orang-orang di mana mereka berada.
 
Dari sini ke mana?
 
Setelah beberapa tahun yang sangat aneh (melelahkan/berat), kami berharap untuk terus membangun fondasi model ReLATE di sekolah kami. Tujuannya untuk membangun bahasa bersama (rasa saling memahami/mengerti) dalam melakukan komunikasi/percakapan yang sulit dengan anak-anak yang memiliki tantangan hidup (tekanan/masalah) dan yang akan mendapat manfaat dari pengaturan diri (kemampuan siswa dalam memahami dan mengelola perilaku serta reaksinya terhadap perasaan dan hal-hal yang terjadi di sekitarnya), dan kami berharap untuk lebih lanjut menanamkan rencana keselamatan (memberikan rasa aman, bebas dari trauma dalam proses belajar mengajar di sekolah).
 
Saat kami bergerak maju, kami berharap dapat melibatkan komunitas yang lebih luas dalam pekerjaan ini. Yang terpenting, kami berharap dapat melihat manfaat yang berkelanjutan bagi semua anggota komunitas (warga) sekolah kami.
 
Salah satu strategi yang diuraikan dalam artikel ini adalah untuk mengembangkan ‘kepercayaan relasional’: tersenyum dan menggunakan nama rekan kerja atau siswa saat Anda menyapa mereka.
 
Pikirkan tentang perilaku Anda sendiri di sekolah – apakah Anda tersenyum pada rekan kerja dan siswa ketika Anda menyapa mereka? Apakah Anda rutin menggunakan nama mereka? Bagaimana rasanya ketika seseorang melakukan hal yang sama kepada Anda?
 
Sekolah-sekolah yang ingin memahami model ReLATE diundang untuk menghadiri sesi informasi online gratis, atau hubungi The MacKillop Institute secara langsung. Tanggal untuk sesi yang akan datang dapat ditemukan di situs web The MacKillop Institute(Bagus Priambodo & Winda Scorfi Anggraienna/Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: