Peran Pengawas Sekolah dalam Kurikulum Merdeka Gugah Motivasi Guru Akses PMM

Redaksi 29 Agustus 2022

Kualitas dan kuantitas penggunaan Platform Merdeka Mengajar (PMM) di Jawa Timur (Jatim) masih perlu ditingkatkan dan disempurnakan. Data Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menunjukkan, dari 24.514 sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka, baru 533 sekolah yang mendaftarkan diri dalam komunitas belajar. Walaupun untuk jenjang SMA, SMK dan SLB, Jatim menempati posisi teratas dari semua provinsi di Indonesia.
 
“Memang sebenarnya yang terpenting dalam IKM bukan angka-angka tersebut. Angka hanya dibutuhkan untuk memperjelas sasaran pembinaan penggunaan PMM,” ujar Plt Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur (BBPMP Jatim) Dr Rizqi di Graha Utama BBPMP Jatim, beberapa waktu lalu (Senin, 22/8/2022).
 
Hal penting di sini adalah bagaimana agar para pendidik dan sekolah muncul keinginan untuk mencoba hal-bal baru dengan mengeksplor fitur-fitur yang ada di PMM. Tindakan ini ditujukan supaya pemahaman mereka tentang Kurikulum Merdeka lebih maksimal, tidak kesulitan menerapkannya di ruang kelas dan bisa berjalan dengan sempurna.
 
Ingin tahu lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi? Baca Leading and Managing A Differentiated Classroom by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau dan terjemahannya di sini
 
Akses juga berita-berita dan siaran pers dari Kemendikbudristek
 
Begitu pula dengan penyelesaian topik-topik Pelatihan Mandiri yang tersedia di PMM. Sekolah-sekolah di Jatim masih tergolong rendah. Dia menyarankan agar guru atau sekolah yang mengakses PMM menyelesaikan kedelapan topik yang membahas seputar implementasi Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran. Topik-topik itu antara lain Merdeka Belajar, Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, Perencanaan Pembelajaran, Asesmen, Penyesuaian Pembelajaran dengan Kebutuhan dan Karakteristik Murid (Siswa), Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, dan Disiplin Positif.
 
Setiap topik berisikan modul-modul dan video untuk dipelajari secara mandiri. Materi-materi disajikan secara singkat dan sesuai kebutuhan. Karena sifat Kurikulum Merdeka yang fleksibel, materi-materi itu pun sebenarnya bisa dipelajari di mana pun dan kapan pun.
 
“Nah, saya berharap pada pengakses PMM dapat mengikuti pelatihan mandiri ini sesuai urutan topik yang tersedia. Misal, dari topik 1 lalu berlanjut ke 2 dan 3. Jangan berhenti di 3 saja, lalu topik 4 tidak diselesaikan,” tutur Rizqi.
 
Selanjutnya, dia juga ingin pengakses PMM menyelesaikan materi di tiap topik sampai pada pelaksanaan post-test. Tes ini berfungsi untuk mengukur seberapa baik pemahaman seseorang terhadap materi yang dipelajari dalam modul-modul yang ada di PMM. Jika hasil post-test masih belum memenuhi kriteria cukup baik, modul selanjutnya tidak akan terbuka atau terkunci.
 
Rizqi menyampaikan himbauannya tersebut pada acara Coaching Clinic Platform Merdeka Mengajar (PMM) Pengawas Sekolah Jenjang SMA, SMK, PK-PLK Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pengawas sekolah sebagai pejabat fungsional tertinggi perlu untuk sangat memahami kinerja PMM. Setelah praktik, mereka diharapkan mampu mengarahkan serta mendampingi para kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan di wilayahnya masing-masing dalam penggunaan PMM sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka.
 
Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Dindik Jatim Suhartatik S.Pd M.Psi mengatakan, penerapan Kurikulum Merdeka berbeda dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013, misalnya, disiapkan secara hierarki. Mulai dari tingkat nasional hingga ke sekolah-sekolah tingkat daerah melalui pelatihan-pelatihan dengan pemateri nasional, instruktur provinsi, kabupaten, baru sampai ke guru-guru.
 
Sementara Kurikulum Merdeka tidak demikian, guru, kepala dan pengawas sekolah mau mengikuti pelatihan dan kegiatan belajar mengenai pendidikan atau tidak, semua tergantung dari diri mereka sendiri. Tidak ada paksaan dalam Kurikulum Merdeka. Namun, jika sudah menyatakan akan menerapkan kurikulum tersebut, sebaiknya seorang guru atau kepala sekolah bersedia mengembangkan wawasan dan kompetensi diri untuk menunjang penerapan Kurikulum Merdeka.
 
PMM sendiri menyediakan referensi untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Setidaknya sudah tersedia lebih dari 2.000 perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka di dalam platform tersebut. Selain itu, PMM bisa membantu guru melakukan analisis diagnostik literasi dan numerasi sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik.
 
“Yang diinginkan Kemendikbud adalah bagaimana guru, kepala dan pengawas sekolah termotivasi sendiri mencari dan menggali wawasan baru untuk meningkatkan kualitas diri,” kata Suhartatik yang mewakili kepala Dindik Jatim ini.
 
Maka, pada coaching clinic kali ini tidak terlalu banyak teori disampaikan, mungkin menempati porsi 10 hingga 15 persen saja. Sisanya berupa praktik bersama tentang penggunaan PMM. Ketika para pengawas sekolah ini sudah mampu, mereka akan bisa memotivasi guru-guru supaya bisa menggunakan PMM atau platform lainnya untuk meningkatkan wawasan mereka. Paling penting, komunitas belajar semakin banyak terbentuk karena dari sini optimalisasi pemanfaatan PMM akan tercapai.
 
“Pengawas sekolah diharapkan meningkatkan profesionalisme mereka sebagai sosok yang luar biasa, kreatif dan inovatif,” imbuh Suhartatik menyemangati para peserta coaching clinic.
 
Kualitas pengawas sekolah yang demikian dibutuhkan untuk pemerataan mutu pendidikan di Jatim. Wawasan luas yang dimiliki dan terus diasah melengkapi diri pengawas saat mengarahkan kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan untuk memajukan layanan pendidikan bersama.
 
Coaching clinic ini terselenggara berkat kerja sama antara Dindik Jatim, BBPMP Jatim, Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jatim dan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang. Semua peserta akan dibagi menjadi sembilan kelas dan para pemateri dari ketiga Unit Pelaksana Teknis Kemendikbudristek di atas. Mereka akan menyampaikan bahasan mengenai IKM di Jatim, pemanfaatan PMM, komunitas belajar dan berbagai perkembangan IKM yang terkini.
 
Seperti diketahui, PMM merupakan fasilitas teknologi yang sudah disiapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk menunjang penerapan IKM. Keduanya diluncurkan bersamaan dalam program bertajuk Merdeka Belajar Episode Kelima Belas: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar pada 11 Februari 2022 oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim.
 
PMM diadakan untuk menjadi teman penggerak bagi guru dan kepala sekolah dalam mengajar, belajar, dan berkarya. Platform teknologi ini dapat membantu guru dalam memperoleh referensi, inspirasi, dan pemahaman ketika menerapkan IKM. Supaya hasil itu tercapai, diharapkan masing-masing sekolah untuk aktif mengikuti pelatihan mandiri melalui PMM. Di akhir program, ketertinggalan pembelajaran akibat pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu diharapkan dapat terkejar. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: