Penjaminan Mutu Lemah Tanpa Gerakan Literasi

Redaksi 30 Mei 2019

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (LPMP Jatim) mengangkat jargon Makin Tahun Kudu Luwih ‘Melip’ (Melek Literasi Pren) pada Semarak Hardiknas Jatim 2019. Jargon tersebut tidak asal ditentukan sebab literasi secara langsung berperan dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan sekolah.

“Penjaminan mutu pendidikan adalah bagian dari Gerakan Literasi Sekolah,” kata Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd, Kepala LPMP Jatim, di Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Selasa (23/4/2019).

Ditambahkan oleh penulis buku “Sutradara Pendidikan” ini, jika budaya literasi di lingkungan internal sekolah rendah, maka penjaminan mutu pendidikan kecil kemungkinannya dapat dijalankan dengan optimal.

Oleh karenanya, dalam mengenalkan dan mendampingi sekolah model melakukan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) guna meningkatkan mutu sekolah secara bertahap, LPMP wajib memotivasi Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah untuk berliterasi mengetahui tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

“Mereka juga harus mempelajari mekanisme tahapan pelaksanaan SPMI serta mendokumentasikan semua kegiatan untuk melengkapi laporan,” tegasnya.

Para pendidik dan tenaga kependidikan yang terlibat dalam SPMI pun sebaiknya didorong untuk menulis praktik yang baik atau best practice. Tujuannya untuk berbagi trik, tips, strategi dan pengalaman ketika menyelesaikan persoalan dalam proses penjaminan mutu.

“Tulisan-tulisan itu kalau menyajikannya bagus seperti tulisan wartawan-wartawan di Jawa Pos, Surya, Kompas dan Tempo pasti akan dibaca dan menginspirasi guru-guru di sekolah lain,” imbuhnya.

Menurutnya bila dalam melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan, para pelaksananya tidak literat akan tupoksinya masing-masing, dan tidak tahu manfaat besar dari proses penjaminan mutu pendidikan tersebut, pasti akan banyak dampak negatifnya, seperti pengisian instrumen yang asal isi, tidak objektif, munculnya rapot mutu yang tidak valid serta rekomendasi yang tidak sesuai sasaran dari LPMP ke sekolah

Kegiatan literasi sendiri telah dikembangkan di ekosistem pendidikan sejak 2015 melalui Gerakan Literasi Sekolah. Kemendikbud melalui gerakan tersebut ingin meningkatkan minat baca di kalangan peserta didik Indonesia yang terhitung masih rendah.

Menurutnya saat ini dapat dilihat berbagai kegiatan literasi di lingkungan sekolah. Sebut saja pembiasaan membaca buku selain pelajaran selama 15 menit sebelum waktu pembelajaran, membuat pojok baca dan pohon literasi di kelas atau lingkungan sekolah, serta siswa membuat laporan bacaan buku yang diketahui orang tua dan guru kelas.

Beliau menuturkan juga, kegiatan literasi produktif ini bila diarahkan ke ranah yang benar-benar ilmiah juga berguna untuk melatih penulisan menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI). Banyak pendidik dan tenaga kependidikan menemui kendala sulit naik pangkat karena kurang persyaratan menulis KTI dalam bentuk artikel jurnal ilmiah.

Maka, penyelenggaraan workshop literasi yang diadakan pada Hardiknas 2019 ini merupakan bentuk nyata LPMP Jatim memperkaya Gerakan Literasi Sekolah dengan mengkoneksikan ke tupoksinya yaitu Penjaminan Mutu Pendidikan. Peserta belajar mengenai penulisan praktik yang baik (best practice) pendidikan bersama Dian Kusuma Dewi, Communication Officer program Inovasi untuk anak sekolah Indonesia.

Dian menjelaskan materi bagaimana menulis praktik yang baik, mengeksplor praktik baik di sekolah serta bukti peningkatan kualitas pendidikan di institusi tempat para guru mengajar. Hasil eksplorasi kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan untuk dibaca guru di sekolah lain. (Bagus Priambodo)

Tags: