Penilaian Seleksi Sekolah Penggerak: Essay, Wawancara & Simulasi Mengajar

Redaksi 01 Maret 2022

Ada 3 poin penilaian dalam seleksi Kepala Sekolah agar sekolahnya menjadi Sekolah Penggerak.
 
Ketiga poin tersebut adalah Essay, Wawancara, dan Simulasi Mengajar.

Hal itu disampaikan Enik Chairul Umah, M.Pd selaku Asesor Program Sekolah Penggerak dalam acara di Tribun Jatim Network bekerjasama dengan LPMP Provinsi Jawa Timur dan INOVASI Jawa Timur bertajuk "Budaya Literasi di Sekolah Penggerak", Senin (21/02/2022).

"Essay berisi praktik baik Kepala Sekolah yang tidak mengada-ada karena itu yang kami kejar saat wawancara," tegas Enik.

"Essay nantinya dibaca, dipelajari, dikonfirmasi ketika sesi wawancara. Ketika nilai essay bagus, bisa lanjut ke sesi berikutnya, yaitu wawancara dan simulasi mengajar."
 
 
Simak berbagai kegiatan LPMP Provinsi Jawa Timur melalui Kanal You Tube LPMP Provinsi Jawa Timur
 
Dengarkan Podcast MSG untuk Pendidikan LPMP Provinsi Jawa Timur di AnchorSpotify dan Jelita (Jendela Literasi Kita)

Sebagai pemimpin pembelajaran di sekolahnya, cara Kepala Sekolah mengajar juga akan dinilai.

"Kepala Sekolah mengenal apa tidak kurikulumnya, bagaimana cara mengajar di kelas. Kepala Sekolah juga guru, hanya status tambahan saja sebagai seorang Kepala Sekolah," terangnya.

Enik menjelaskan, menurut temuannya, ada Kepala Sekolah yang menulis praktik baik di essay tak sesuai dengan kenyataan yang dilakukan, sehingga ia kebingungan di sesi wawancara.

"Jadi yang bagus-bagus aja yang disampaikan, sehingga ketika kami kejar buktinya seperti apa, mereka gelagapan," ungkapnya.

"Ini sangat mudah dideteksi apakah praktik baik yang ditulis di essay itu benar-benar dilakukan atau tidak, kalau tidak melakukan lalu dibuat-buat, itu justru menjadi satu celah."

Enik memberikan tips untuk Kepala Sekolah yang ingin sekolahnya menjadi Sekolah Penggerak harus yakin terlebih dahulu dan praktik baik yang ditulis adalah yang benar-benar dilakukan di sekolah.

"Itu akan mempermudah proses untuk seleksi," tegasnya.

Untuk menulis essay, Enik menyampaikan ada baiknya menggunakan metode atap, yaitu pondasi awalnya seperti apa, tantangannya apa, aksi apa yang dilakukan, dan dampaknya bagaimana.

"Semua orang pasti bisa menceritakan apa adanya, mulai dari kondisi awal, tantangannya apa setelah diidentifikasi, kemudian tindak lanjutnya apa, hasilnya apa," jelasnya.

"Selama itu dituliskan dengan runtut saya kira bisa dipahami, karena ada batasan kosa kata yang harus ditulis, ada yang 500 kata, 150 kata, harus dipilih mana bukti yang benar dan mempunyai daya jual sekolah tersebut untuk menjadi nilai lebih dari sekolah lainnya."

Enik merasa essay sebenarnya tidak sulit karena berisi kejadian yang memang terjadi di sekolahnya, sehingga Kepala Sekolah tak perlu mengada-ada.

"Asesor bisa membaca, bisa paham yang mana yang benar dilakukan," ujarnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Poin-poin Penilaian Seleksi Sekolah Penggerak: Essay, Wawancara & Simulasi Mengajar/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)
 
 

Tags: