Penggunaan Riset & Bukti dalam Mengajar

Redaksi 24 September 2021

Global Knowledge - Mengaplikasikan riset ke kegiatan belajar mengajar di dalam kelas di Australia tampaknya telah menjadi prioritas utama bagi mereka yang berkecimpung di bidang pendidikan.
 
Acuan untuk mengaplikasikan ‘penggunaan riset dan ‘inisiatif berbasis bukti’ sekarang menjadi bagian penting dalam berbagai kerangka kerja untuk meningkatkan perfoma sekolah di seluruh negara bagian Australia (misalnya, Departemen Pendidikan & Pelatihan [DET] Victoria, 2021), pedoman dan standar nasional (misalnya, Institut Pengajaran dan Kepemimpinan Sekolah Australia [AITSL], 2018, 2019), dan pendekatan pembelajaran profesional (misalnya, Bastow, 2019).
 
Muncul juga organisasi pendidikan baru yang berfokus pada bukti, yang paling menonjol adalah lembaga-lembaga bukti nasional – Organisasi Penelitian Pendidikan Australia [AERO] – yang misinya adalah bekerja sama dengan guru, pimpinan sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya untuk “menyajikan bukti berkualitas, menghadirkan bukti berkualitas tinggi yang mudah digunakan, dan terus membiasakan penggunaan bukti dalam pendidikan Australia” (AERO, 2021).
 
Terlepas dari perkembangan-perkembangan ini, tantangan dan peluang seputar cara pendidik menemukan dan memanfaatkan riset dan bukti yang berbeda dalam penerapannya masih sangat minim diketahui.
 
Monash Q Project adalah kemitraan antara Paul Ramsay Foundation dan Monash University yang akan berlangsung selama 5 tahun untuk meningkatkan penggunaan riset di sekolah-sekolah Australia.
 
Di tahun ketiganya ini, tim Q baru-baru ini mewawancarai dan mensurvei hampir 500 pendidik dari 414 sekolah di 4 negara bagian Australia (New South Wales, Australia Selatan, Victoria, dan Queensland) untuk menciptakan pemahaman konseptual tentang penggunaan riset berkualitas (Rickinson et al., 2020a, 2020b) dan meneliti: (1) Jenis riset dan bukti apa yang diinginkan oleh pendidik; (2) Bagaimana dan mengapa mereka mengumpulkan berbagai jenis bukti berbeda; (3) Apakah dan bagaimana mereka menerapkan riset ini dalam praktik mereka; (4) Apa pendapat mereka mengenai “penggunaan riset yang baik” dalam praktik.
 
Untungnya, para pendidik memberi tahu kami bahwa mereka ingin mengaplikasikan riset secara maksimal dalam praktik mereka dan percaya pada efektifitasnya, terutama yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar siswa.
 
Namun, meningkatkan penerapan riset dalam praktik belajar mengajar tidak lepas dari berbagai tantangan, antara lain:
 
Pendidik menggunakan dan memanfaatkan berbagai jenis riset, informasi, dan bukti yang berbeda
 
Secara keseluruhan, pendidik menggunakan berbagai jenis riset dan bukti berbeda dalam praktik mengajar mereka.
 
Mereka juga berkonsultasi dengan banyak sumber untuk mengakses riset dan bukti ini, termasuk: media sosial, kolega baik di dalam maupun di luar sekolah, pemerintah dan badan resmi, serta database akademik.
 
Hasil survei menunjukkan bahwa ada hampir 100 jenis bukti dan berasal dari sekitar 25 sumber berbeda yang digunakan oleh para pendidik dalam 12 bulan terakhir untuk mendukung meningkatkan performa sekolah.
 
Sumber dan informasi yang berkaitan dengan riset lebih jarang digunakan jika dibandingkan dengan jenis lain, seperti data siswa atau dokumen kebijakan dan kurikulum.
 
Pendidik yang mengumpulkan dan menggunakan berbagai jenis bukti yang berbeda memunculkan beberapa spekulasi. Spekulasi-spekulasi ini menyoroti pentingnya: kredibilitas sumber dan jenis bukti, terutama apakah bukti tersebut memiliki dukungan akademis; apakah bukti tersebut bisa memberikan dampak positif; dan relevansi kontekstual yang berkaitan dengan rencana sekolah dan praktik pengajaran individu.
 
“Penggunaan riset yang berkualitas ditandai dengan adanya keputusan-keputusan yang sesuai dengan riset dan dipertimbangkan dengan cermat.” Guru, Sekolah Independen P-12, Victoria.
 
Riset dapat digunakan untuk berbagai macam hal
 
Meskipun sumber riset dan jenis bukti lebih jarang digunakan jika dibandingkan dengan jenis lain, hampir tiga perempat dari semua pendidik (70%) menunjukkan bahwa mereka telah menggunakan riset dalam 12 bulan terakhir.
 
Penggunaan riset dapat dilakukan untuk berbagai macam hal.
 
Pendidik mengemukakan bahwa mereka memanfaatkan riset sebagai instrumen (misalnya, 67% menggunakan riset untuk merancang atau merencanakan program atau inisiatif baru), serta secara konseptual dan tidak langsung (misalnya, 55% menggunakan riset untuk mendalami isu atau masalah tertentu).
 
Riset juga digunakan secara individu (misalnya, 72% menggunakan riset untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang suatu topik atau subjek dan 67% menggunakannya untuk merefleksikan praktik mereka sendiri), serta secara kolektif dengan orang lain (misalnya, 76% menggunakan riset untuk mendiskusikan praktik terbaik dengan rekan kerja).
 
Perlu digarisbawahi bahwa relevansi kontekstual adalah alasan utama untuk menggunakan riset yang digunakan untuk mengambil keputusan dan mnegoptimalkan praktik.
 
Tantangan untuk meningkatkan dan memaksimalkan penggunaan riset
 
Pendidik, khususnya guru, sadar akan adanya berbagai macam tantangan untuk meningkatkan dan memaksimalkan penggunaan riset dalam praktik mengajar.
 
Tantangan-tantangan ini yang mungkin melatarbelakangi kurangnya penngunaan riset dalam praktik mereka (61% dilaporkan menggunakan riset dalam 12 bulan terakhir) bila dibandingkan dengan kepala sekolah (91%).
 
Tantangan yang dihadapi oleh guru umumnya adalah keyakinan mereka pada pentingnya penggunaan riset dan dukungan sekolah terhadap penggunaan riset, serta kemampuan riset mereka.
 
Misalnya, sekitar 60% dari semua guru (dibandingkan dengan 18% kepala sekolah) menunjukkan bahwa mereka lebih cenderung memprioritaskan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri daripada penggunaan riset untuk meningkatkan praktik mengajar.
 
Guru juga merasa kurang percaya diri dan menganggap kemampuan mereka dibandingkan kepala sekolah kurang dalam hal: menemukan dan mencari sumber riset yang relevan; menilai kualitas riset; menganalisis dan menafsirkan riset yang berbeda untuk digunakan; dan memulai diskusi dengan rekan kerja.
 
Karena anggapan-anggapan tersebut, hampir dua pertiga menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah untuk menggunakan riset.
 
Sementara itu, masalah waktu dan akses juga menjadi perhatian semua pendidik karena hampir 80% guru merasa bahwa mereka tidak memiliki akses yang cukup untuk menggunakan riset, dan 85% merasa bahwa mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengaplikasikan riset secara maksimal.
 
Lebih dari 50% guru percaya bahwa sekolah tidak secara khusus menyediakan waktu yang cukup untuk meggunakan riset.
 
Menggunakan riset dengan maksmimal harus “memiliki waktu untuk mengakses ide-ide baru” serta “memiliki waktu untuk mencerna dan mengimplementasikannya”. Guru, Sekolah Menengah Katolik, Victoria.
 
Mendorong pendidik untuk meningkatkan penggunaan riset dalam praktik mengajar mereka
 
Survei dan wawancara mengenai tanggapan pendidik tentang penggunaan riset memberikan gambaran penting bagi para guru, sekolah, dan pemimpin dalam praktik mengajar.
 
Utamanya, pendidik sendiri membutuhkan dukungan sebagai konsumen informasi kritis.
 
Memiliki keterampilan tepat untuk menemukan, menilai, dan menggunakan riset dalam praktik, serta kepercayaan diri untuk melakukan keterampilan tersebut dipandang penting oleh pendidik.
 
Memiliki pola pikir terbuka dan interogatif serta keyakinan akan pentingnya terus mengoptimalkan penggunaan riset dengan perbaikan dalam praktik juga tidak kalah penting.
 
Semua pemangku kepentingan dalam sektor pendidikan memiliki peran untuk mendukung pendidik dalam mengembangkan basis keterampilan mereka, serta memastikan bahwa budaya sekolah mendukung dan menyukseskan praktik berbasis riset ini.
 
Riset yang digunakan harus relevan secara kontekstual, kredibel, dan praktis agar pendidik mau dan mampu menggunakannya dalam praktik mengajar mereka.
 
Peneliti, pembuat kebijakan, dan organisasi riset perlu menyadari kebutuhan pendidik dalam hal ini.
 
Hanya dengan mensosialisasikan riset atau bukti yang dianggap relevan secara kontekstual saja mungkin tidak cukup. Ketersediaan dan aksesibilitas riset juga harus berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran pendidik akan sumber riset yang kredibel dan dapat dipercaya, serta keterampilan terkait riset mereka.
 
Terakhir, masalah ketersediaan waktu.
 
Membantu pendidik mengatur dan menyisihkan waktu yang tepat untuk menggunakan riset secara maksimal harus diprioritaskan dan ditangani oleh semua pemangku kepentingan dalam sektor pendidikan – bukan hanya menjadi tanggung jawab guru saja.
 
Sekolah yang stafnya menunjukkan bahwa mereka menggunakan riset dengan baik serta memiliki cara tersendiri untuk menyediakan waktu khusus untuk mengumpulkan dan menafsirkan riset secara kolektif, yang kemudian berkaitan erat dengan perencanaan kinerja sekolah dan proses pelaporan.
 
Tindakan-tindakan ini perlu diimplementasikan di seluruh sistem pendidikan.
 
Temuan Proyek Q terus membangun dan menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang artinya menggunakan riset dengan baik dalam praktik pendidikan.
 
Publikasi kami mengenai informasi-informasi tentang penggunaan riset dari pendidik hingga saat ini dapat ditemukan di sini. Dengan ini, kami mendorong para pendidik dan pemangku kepentingan sistem untuk bergabung dalam diskusi tentang penggunaan riset yang berkualitas dan ikut serta berkontribusi dalam meningkatkan penggunaan riset dalam praktik pendidikan Australia.
 
Proyek Monash Q adalah bagian dari Fakultas Pendidikan di Universitas Monash. Proyek ini dipimpin oleh Mark Rickinson dan Lucas Walsh, dan terdiri dari peneliti Jo Gleeson, Connie Cirkony, Blake Cutler dan Mandy Salisbury.
 
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi kami atau ikuti kami @MonashQProject di Twitter.
 
(Bagus Priambodo/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Monash Q Project)

Tags: