Pembelajaran Era New Normal, Melunasi Nilai-nilai Belajar yang Sempat Hilang

Redaksi 18 Maret 2022

Datangnya pandemi memiliki dampak yang besar di kehidupan manusia di dunia, utamanya di bidang pendidikan. Kegiatan pembelajaran tatap muka terpaksa ditiadakan demi menyelamatkan jiwa dari serangan virus corona. Dalam praktiknya, pembelajaran online memang memiliki beberapa kelebihan seperti efisiensi tempat dan waktu pembelajaran.
 
Dengan pemanfaatan berbagai metode pembelajaran dan penyajian materi yang bervariasi dengan menggunakan media online, guru terpaksa harus menambah keterampilannya lewat berbagai cara digital. Di satu pihak guru meningkat kemampuannya dalam mengajar, di lain pihak ada nilai-nilai yang hilang dalam pembelajaran di masa pandemi (PJJ: Pembelajaran Jarak Jauh).
 
Nilai-nilai yang hilang itu salah satunya adalah aspek pembangunan karakter pada siswa. Seperti etika bersosialisasi pada guru dan sesama temannya, gesture yang menunjukkan akhlakul karimah, juga kedisiplinan dalam mengikuti pembelajaran. Karena hal-hal tersebut bisa diterapkan secara maksimal melalui pembelajaran tatap muka.
 
Dilansir dari Tempo.co pada 28 September 2021,Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Mendikbudristek Nadiem Makarim, mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh atau belajar online bakal menghasilkan anak-anak yang “Learning Loss”.
 
Di masa PJJ, menurut Indra Charismiadji, pemerhati dan praktisi pendidikan mengatakan bahwa “Learning Loss” lebih sering diakibatkan karena salah konsep pengajaran. Dalam masa PJJ itu pula, motivasi belajar siswa menurun karena keadaan yang tidak kondusif dalam memberikan suasana yang mendukung untuk belajar. Selain itu, distribusi materi dan proses pembelajaran dari guru serta komunikasinya yang searah membuat siswa cepat bosan dan tidak semangat belajar.
 
Dari situasi “Learning Loss” ini dikhawatirkan siswa mengalami kesulitan memahami materi seusai masa pandemi berlalu. Selain itu output hasil pembelajaran masa pandemi, sangat berdampak pada kualitas siswa, yang bisa saja nantinya berpengaruh saat mereka melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi atau di dunia kerja.
 
Untuk itulah sejak diberlakukannya Pembelajaran Tatap Muka Terbatas secara bertahap berdasarkan situasi di masing-masing daerah, menjadi sebuah harapan baru lembaga pendidikan untuk melunasi nilai-nilai pembelajaran yang hilang di masa pandemi.
 
 
 
Dan hal apa sajakah yang harus “dibayar” oleh para pendidik di masa Pembelajaran Tatap Muka untuk melunasi nilai-nilai berharga yang saat PJJ sebelumnya belum maksimal disampaikan atau diterapkan ke peserta didik?
 
Membangun komunikasi dengan peserta didik
 
Hampir 2 tahun tidak tatap muka, berdampak pada “keterasingan” antara guru dan siswa. Meskipun tatap muka telah dilakukan lewat video interaktif semacam “Google Meet”, “Zoom Meeting”, live streaming, maupun berbagai aplikasi lainnya yang memungkinkan ada pertemuan online.
 
Pembelajaran tatap muka secara langsung tidak akan tertandingi dan tergantikan. Dengan berkomunikasi secara langsung seorang guru bisa menyapa, menanyakan kabar, memanggil dan menyebut nama, juga membercandai mereka lebih dekat untuk mencairkan suasana dan membangun hubungan emosional yang kuat. Dengan komunikasi yang baik dengan mereka, guru akan mudah menyampaikan materi pembelajaran.
 
Memberikan motivasi belajar
 
Di masa pembelajaran online, siswa lebih sering dijejali berbagai materi dan tugas. Baik hal itu sudah disiasati dengan variasi penyajian yang super canggih dan menarik. Namun, motivasi yang diberikan secara langsung dari guru lebih memiliki kekuatan. Daya pengaruhnya lebih kuat dan efektif, selama guru memiliki kesungguhan dalam memberikan motivasi ke siswa.
 
Seperti memberikan semangat dengan menjelaskan tantangan dan peluang yang harus diraih dan dihadapi remaja zaman sekarang, serta pentingnya berilmu pengetahuan. Menjelaskan tentang “berpayah-payah di masa sekolah akan membuahkan hal yang manis di masa depan”.
 
Menghidupkan kelas
 
Menghidupkan sebuah kelas yang di isi oleh peserta didik yang terpisah dengan guru selama masa PJJ, harus segera dilakukan. Pembelajaran tidak perlu berlangsung terlalu berat. Berikan suasana yang santai, menyenangkan, namun tetap serius. Anak-anak yang sudah jenuh dengan teks-teks materi pembelajaran harus lebih didominasi pada kegiatan diskusi dan dialog atau tanya jawab. Terutama mengaitkannya dengan kejadian dan fenomena yang terjadi di sekitar mereka atau sedang viral dibahas khalayak. Siswa akan lebih memperhatikan dan terangsang untuk memikirkannya.
 
Kualitas waktu
 
Dengan tatap muka terbatas, durasi pembelajaran yang lebih singkat harus dikelola secara bijak oleh guru. Dalam durasi yang tersedia itu pula ia harus bisa memberikan waktu untuk melakukan apersepsi, kegiatan inti, penutupan dan refleksi. Di sela-selanya guru juga harus sering berkomunikasi ke siswa, menanyakan keadaannya, sekedar menyapa dan lain sebagainya.
 
Pembelajaran budi pekerti
 
Pembelajaran budi pekerti merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam setiap proses pembelajaran. Karena hal tersebut menjadi sesuatu yang harus melekat di setiap peserta didik. Melalui tatap muka hal itu sangat mungkin dilakukan. Ketika menemui siswa yang kurang disiplin, santun, dan masih saja melanggar tata tertib sekolah, guru bisa secara langsung menasehati mereka. Dan perhatian juga nasehat dari seorang guru itulah yang sebenarnya sangat mereka rindukan sebab tidak mereka temui dalam pembelajaran daring.
 
Mengajak berdo’a
 
Dalam pembelajaran daring, kecil kemungkinan mendapati sebuah forum pembelajaran yang secara hikmad melakukan doa majelis ilmu yang dibaca bersama oleh seluruh siswa yang hadir, dipimpin oleh seorang guru sebelum dan sesudah jam pembelajaran. Dalam pembelajaran tatap muka hal tersebut bisa didapatkan. Apalah arti berilmu pengetahuan tanpa dilakukan doa-doa sebagai upaya penting memohon pada Yang Maha Mengetahui untuk memberikan kita kemudahan dalam memahami suatu ilmu serta memohon keberkahanan-Nya.
 
Masa pandemi memang belum sepenuhnya berlalu. Namun dari pandemi yang telah kita lewati, tentu kita banyak belajar. Antara lain seorang guru harus siap menghadapi situasi yang tidak mudah ditebak dan bisa berubah sewaktu-waktu. Namun ada hal yang tidak akan pernah pernah berubah dari seorang guru, antara lain perjuangannya dalam mengemban amanah untuk mencerdaskan anak bangsa dan memberinya pendidikan dan pengajaran untuk membangun peradaban bangsa yang bermartabat di mata dunia. (Fatatik Maulidiyah – Guru PAI di MAN 2 Mojokerto/Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan MAN 2 Mojokerto)

Tags: