Pembelajaran Berdiferensiasi & Penerapannya dalam Pembelajaran Paradigma Baru

Redaksi 18 Februari 2022

Dalam pembelajaran paradigma baru, terdapat 3 komponen penting yang tujuannya adalah untuk menciptakan profil Pelajar Pancasila.
 
3 komponen itu meliputi kurikulum, pembelajaran, dan penilaian.
 
Dr. Ilham Dwi Rahardjo, Widyaprada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Timur dalam sesi sharing knowledge yang dilakukan secara virtual beberapa waktu lalu (Kamis, 13/1/2022) mengatakan, dalam paradigma pembelajaran baru, dikenal sebuah konsep yang dinamai pembelajaran berdiferensiasi.
 
Gagasan tentang pembelajaran berdiferensiasi ini pertama dicetuskan oleh penulis Carol Ann Tomlinson.
 
Menurut Tomlinson, setiap hari guru dihadapkan oleh keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Guru secara terus menerus menghadapi tantangan yang beragam dan sering kali harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam 1 waktu.
 
Simak berbagai kegiatan kami melalui Kanal You Tube LPMP Provinsi Jawa Timur
 
 
“Sebagai contoh sederhana, tidak tepat apabila guru memberikan tugas tambahan kepada murid yang lebih menonjol di kelas dan selalu lebih dulu menyelesaikan tugas-tugasnya, dengan tujuan agar mereka tidak mengganggu teman-temannya yang lain yang masih sedang mengerjakan tugas. Ini kita sering kali salah kaprah. Kalau yang begini bukan pembelajaran berdiferensiasi,” ujar Ilham.
 
Ilham menjelaskan, pembelajaran berdiferensiasi menurut Tomlinson adalah sebuah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas demi memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa (murid).
 
Pembelajaran berdiferensiasi harus berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar siswa dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.
 
Karenanya, Guru harus melakukan identifikasi kebutuhan belajar dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap kebutuhan belajar siswa-siswanya.
 
Bagaimana caranya memetakan kebutuhan belajar siswa?
 
Kata Ilham, untuk memetakan kebutuhan belajar siswa, perlu dilakukan asesmen diagnostik, yakni sebuah proses untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan kognitif dan nonkognitif siswa untuk keperluan proses pembelajaran.
 
“Asesmen diagnosis dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kesalahan, miskonsepsi, kelemahan pengetahuan siswa, serta kemampuan pada materi yang sudah dipelajari untuk kesiapan siswa dalam proses pembelajaran selanjutnya. Proses diagnosis ini dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh peserta didik, mencari berbagai informasi seperi latar belakang siswa, pola belajar, dan minat siswa, yang diperkirakan akan menjadi faktor penyebab kesulitan belajar siswa,” urainya.
 
Ilham membeberkan, asesmen diagnostik terdiri dari kognistif dan non kognitif. Asesmen kognitif bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan atau capaian kompetensi peserta didik. Caranya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan kompetensi yang dikuasai peserta didik.
 
Sedangkan non kognitif bertujuan untuk mengetahui perkembangan psikologi dan sosial emosi peserta didik yang mempengaruhi kesiapan belajar. Caranya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang aktivitas di rumah, harapan peserta didik, atau meminta peserta didik bercerita tentang perasaannya.
 
"Ini dilakukan setahun sekali dengan melibatkan para ahli. Kalau kognitif, Kemdikbud telah menyiapkan modul asesmen diagnostik," ujarnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita Mengenal Pembelajaran Berdiferensiasi dan Cara Menerapkannya Dalam Pembelajaran Paradigma Baru/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: