Pandemi, Momen Usung Literasi ke Rumah

Redaksi 07 Oktober 2020

Liputan Khusus - Pandemi covid-19 memang telah membuat banyak aktivitas bergeser ke rumah-rumah. Para karyawan kantoran misalnya, dipaksa untuk bekerja dari rumah. Demikian pula para murid sekolah, juga harus belajar dari rumah masing-masing.
 
Namun situasi ini tak semestinya menyusutkan semangat untuk mendongkrak kemampuan literasi anak-anak Indonesia. Sebaliknya, semangat mendongkrak literasi ini juga harus diusung ke rumah.
 
Seperti diketahui, jauh sebelum pandemi covid-19 berlangsung, sejak 2015, sesuai dengan desain induk Gerakan Literasi Sekolah (GLS), terdapat enam kemampuan literasi dasar yang ingin didongkrak, yaitu kemampuan baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta budaya dan kewargaan.
 
Hal ini seperti dikatakan Katman, Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, saat menjadi salah satu narasumber dalam webinar bertajuk Sarasehan Literasi Sekolah #8.
 
“Mengusung literasi ke rumah relevan dengan kondisi saat ini di mana kegiatan masyarakat dipusatkan di rumah dan ada pembatasan kegiatan masyarakat di luar rumah,” ujar Katman di awal penyampaian materinya.
 
Namun, terdapat sejumlah tantangan untuk mewujudkan semangat mengusung literasi ke rumah ini. Salah satunya ialah ketersediaan bahan bacaan. Dia mengatakan, idealnya, satu buku seharusnya habis dibaca dalam waktu satu minggu atau kurang. Apabila ini bisa dilakukan, maka dalam satu tahun saja, setidaknya dibutuhkan minimal 48 buku bacaan. Pertanyaannya, apakah jumlah ideal itu tersedia di setiap rumah?
 
“Jadi ada beberapa kendala terkait dengan penguatan literasi. Salah satu yang perlu ditingkatkan adalah hak akses terhadap bacaan,” imbuhnya.
 
Dia menegaskan, apabila hak membaca dianggap sebagai sebuah hak asasi, maka akses terhadap bahan bacaan harus dijamin.
 
“Maka di sini peran individu, sekolah, LPMP, serta semua unsur yang punya kepentingan terhadap peningkatan literasi siswa, harus bergerak bersama-sama,” katanya lagi.
 
Selain akses terhadap bahan bacaan, persoalan lain yang mendesak dicarikan solusinya adalah bagaimana membaca efektif dan bagaimana membangun budaya membaca.
 
“Jadi, kira-kira ada 3 usulan yang bersama-sama mari kita tindaklanjuti untuk meningkatkan daya baca peserta didik dan masyarakat pada umumnya,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Pandemi, Momen Usung Literasi ke Rumah/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image) 

Tags: