Optimalkan Chromebook untuk Pelajar, Google Ingin Kolaborasi dengan BBPMP Jatim

Redaksi 12 September 2022

Google for Education Indonesia mengharapkan kolaborasi dengan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui digitalisasi.
 
Hal tersebut diawali dengan kunjungan Tim Google for Education Indonesia ke BBPMP Jatim pada hari Rabu, 7/9/2022 lalu yang diterima langsung oleh Kepala Bagian Umum, Dr. Rizqi
 
Kolaborasi ini terkait dengan pemanfaatan penggunaan Chrome Book yang telah diadakan Kemendikbud Ristek untuk kemudian disalurkan ke sekolah-sekolah.
 
Saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh pengelola situs atau website BBPMP Jatim beberapa waktu lalu (Kamis, 8/9/2022), Arija Rose Wanodya, Education Specialist dan perwakilan dari Google for Education Indonesia mengatakan, Google for Education ingin membantu pengoptimalan penggunaan Chrome Book yang telah diberikan Kemendikbud Ristek ke sekolah-sekolah.
 
Dengarkan Podcast MSG (Mikir Sing Genah) untuk Pendidikan di sini
 
Akses juga berita-berita dan siaran pers dari Kemendikbudristek
 
Sebab berdasarkan fakta di lapangan, ternyata fasilitas itu selama ini hanya digunakan untuk kegiatan ANBK. Padahal, perangkat itu bsia digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
 
“Kami butuh pemetaan, sekolah mana saja yang punya Chrome Book. Kami ingin kolaborasi. Pemetaan tahap awalnya, baru menyasar mana dulu yang bisa jadi percontohan," sampai Arija.
 
Selain pemetaan, Google for Education juga berharap bisa berkolaborasi melakukan pelatihan pengoptimalan penggunaan Chrome Book di Jawa Timur.
 
“Kami berharap ada pelatihan hibrid yang bisa difasilitasi bersama untuk guru-guru di Jawa Timur, untuk pengembangan SDM,” imbuhnya.
 
Natalia Mardiningtias, perwakilan Tim Adoption Google for Education Indonesia di Jakarta menyampaikan, di Jawa Timur sudah ada kabupaten yang 100 persen menerapkan 1 Chrome Book untuk 1 siswa.
 
Kabupaten itu adalah kabupaten Situbondo.
 
“Ada di SMPN 1 Situbondo, SMP 1 Asembagus, dan SMPN 3 Besuki. Sudah one on one Chrome book. Tugas-tugasnya, baik guru maupun siswa, memakai Chrome Book. Guru mengajar lewat Chrome Book, lalu diintegrasikan di ruang kelas. Jadi paperless atau meminimalisir penggunaan buku tulis. Orangtua siswa pun lebih hemat,” tuturnya.
 
Pandu Nugroho, yang juga perwakilan Tim Adoption Google for Education Indonesia di Jakarta menambahkan, Chrome Book sebenarnya hanyalah alat atau perangkat. Namun tools yang tersedia di dalamnya, dapat mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka.
 
“Dalam kaitannya dengan kurikulum merdeka, Chrome Book bisa memfasilitasi siswa untuk berkolaborasi dan menjadi kreatif,” kata Pandu.
 
Dilanjutkan Arija, selama ini banyak penerima Chrome Book yang merasa barang tersebut adalah barang baru. Mereka yang telah menerimanya juga tak banyak memanfaatkannya karena kurang pemahaman.
 
Untuk Itu, Google for Education Indonesia berjanji bisa menyiapkan support system yang membantu optimalisasi penggunaan Chrome Book.
 
“Perubahan perlu proses. Makanya kami dari Google for Education Indonesia, tidak hanya punya produknya saja, ada support system. Kami punya komunitas guru. Kami bisa hubungakan para edukator ke BBPMP,” kata dia.
 
“Kalau bingung gunakan Chrome book seperti apa, itu kita bisa kita bantu. Selain komunitas kita juga punya sertifikasi, di pusat sudah ada sertifikasi L1 dan L2. Sertifikasi ini memang belum diakui di Indonesia, tapi Direktorat-direktorat di Kemdikbud sudah kenal. Dimiliki google dan diakui google secara internasional," tambah Arija
 
Perlu diketahui, Kemendikbud Ristek memang telah menggenjot program digitalisasi sekolah. Salah satunya melalui penyediaan Chromebook untuk pelajar.
 
Chromebook bukanlah laptop. Salah satu perbedaan mencolok antara Chromebook dengan Laptop adalah pada sistem operasi yang digunakan. Perangkat ini menggunakan sistem operasi Chrome OS. 
 
Dikutip dari Kumparan.com, Chrome OS sudah diluncurkan sejak 2009 dan terus mengalami perkembangan. Google membuat Chrome OS sebagai sistem operasi cepat dan ringan berbasis Linux yang open source. Sistem ini juga tidak wajib memerlukan spesifikasi yang tinggi untuk menjalankannya.
 
"Chromebook juga sama dengan laptop lain, kita bisa pilih spesifikasinya. Biasanya memang tidak butuh prosesor kencang. Memori internal juga banyak pilihan. Kemudian, bisa menggunakan memory card, dan ada slot USB untuk disambung ke eksternal HDD atau flashdisk sebagai alternatifnya," kata Pengamat Gadget, Lucky Sebastian kepada kumparan, Jumat (30/7/2021) silam.
 
Laptop Chromebook yang dedicated menggunakan Chrome OS sudah pasti memiliki desain agar bisa bekerja secara maksimal untuk sistem operasi tersebut dan mampu menjalankan berbagai aplikasi Google, seperti browser Chrome, Gmail, Google Drive, Calendar, dan lainnya.
 
Menariknya, Chromebook juga dapat digunakan saat tak ada akses internet.
 
Pengguna Chromebook dapat menggunakan aplikasi yang siap digunakan saat offline atau ketika tidak ada sambungan internet. Meski begitu, untuk penggunaan yang optimal harus terkoneksi internet.
 
Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan oleh pengguna laptop Chromebook ketika offline, di antaranya membaca dan menulis email dengan Gmail, menulis catatan atau membuat daftar dengan Google Keep, membuat dan mengedit dokumen, slide, atau spreadsheet menggunakan aplikasi Google Drive (Google Dokumen, Spreadsheet, dan Slide).
 
Jika dibandingkan dengan laptop lain, memang Chromebook dengan Chrome OS memiliki keterbatasan. Ada banyak software yang tidak bisa di-install di Chromebook, karena keterbatasan sistem dan spesifikasi.
 
Chromebook tidak bisa di-install software Microsoft Office, namun pengguna bisa membuka dan mengedit file Office dengan aplikasi milik Google. Kemudian, soal pengeditan, laptop Chrome tidak bisa install Adobe, tapi bisa memakai aplikasi edit milik (yang disediakan) Google. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Optimalisasi Penggunaan Chromebook untuk Pelajar, Google Ingin Kolaborasi dengan BBPMP Jatim/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: