‘Namu’ Bareng Gramedia & Mizan Bagian dari Ikhtiar Penjaminan Mutu Pendidikan

Redaksi 04 Juni 2018

Menulis & peradaban itu bak “ibu” & “anak”. Peradaban sebagai “anak kandung” budaya menulis. Dan menulis adalah “ibu” yang melahirkan peradaban. Dengan kata lain, tulisan hanya terdapat dalam peradaban, & peradaban tidak ada tanpa tulisan.

Tulisan atau buku merupakan syarat utama peradaban menggapai kemajuan & kejayaan. Dari tulisan, akan lahir berbagai pemikiran cerdas nan cemerlang pembawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Tengok saja sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Jerman, Korsel, India & Cina, semua berawal dari keakraban masyarakatnya dengan bacaan 

Kenyataan tersebut membuktikan bahwa buku yang lahir dari aktivitas baca & tulis menjadi kunci kemajuan masyarakat suatu bangsa. Namun di Indonesia aktivitas literasi kurang mendapat perhatian.

Lembaga pendidikan formal sebagai akar dari budaya baca-tulis dirasa masih kurang memberi porsi terhadap aktivitas baca-tulis. Oleh sebab itu, diperlukan dorongan & keterlibatan berbagai pihak untuk mewujudkan kesadaran akan pentingnya budaya baca-tulis

Fenomena tersebut menggelitik tim ‘Remaja’ (Redaksi Majalah) Median LPMP Jawa Timur turut meramaikan gerakan literasi dengan menyebarkan virus literasi di ruang publik melalui ‘Namu’ (Nambah Ilmu) Bareng Gramedia & Mizan di Semarak Hardiknas 2018 pada 22 April sampai 27 April lalu. PPPTK BOE (VEDC) Malang ketempatan sebagai “tuan rumah”

“Spirit utama” program tersebut: (1) Urgensi penjaminan mutu diri & pengembangan profesional berkelanjutan melalui publikasi ilmiah, (2) Buku & tradisi literasi yang unggul menjadi kunci kemajuan masyarakat suatu bangsa, (3) Memotivasi guru & siswa mengasah kemampuan menulis (include: menggagas, membaca, riset & analisa), (4) Menyemangati guru menerbitkan buku pengayaan (buku nonteks pelajaran), (5) Mengenalkan model penyajian buku yang longgar, kreatif & inovatif melalui ilustrasi yang menarik (6) Mengajak siswa untuk lebih kreatif & kaya imajinasi, (7) Mendorong lahirnya motivator literasi yang stratejik berbasis bukti, (8) Momentum uji coba program pengayaan literasi ‘Remaja’ (Redaksi Majalah) Median LPMP Jawa Timur

Unforgettable request

Publik sangat responsif terhadap ‘Namu’ Bareng. Hal tersebut dibuktikan dengan membludaknya jumlah peserta di 5 program yang terintegrasi di ‘Namu’ Bareng. Target peserta yang awalnya 25 orang tiap program, kenyataannya menjadi 40 orang lebih di tiap program. Bahkan di ‘Puisi Anak’ (Pusat Imajinasi Anak) pesertanya mencapai 60 orang lebih

Antusias mengikuti ‘Namu’ Bareng tidak hanya ditunjukkan oleh guru, ibu rumah tangga gemar menulis, mahasiswa/mahasiswi dan siswa/siswi, “internal tuan rumah” pun meminati genre literasi di ‘Namu’ Bareng Gramedia & Mizan.

Seorang ibu asal Depok melalui ‘medsos’ sempat bertanya, “Kl acara ‘Namu’ di Depok... Kpn yaa?” Sungguh ‘request’ yang menantang & tak terlupakan. Sang ibu tadi seolah menganggap  bahwa ‘Namu’ Bareng adalah program “Roadshow Literasi” yang telah terjadwal hadir ke berbagai daerah di Indonesia

Semoga dengan ‘Namu’ Bareng, makin banyak insan yang termotivasi & benar-benar menghasilkan buku pengayaan berkualitas sesuai standar/versi 2 penerbit mayor Indonesia tersukses: Gramedia & Mizan, selain berguna bagi diri sendiri, karya tulis tersebut dapat menjadi dokumen sejarah, sumber inspirasi & rujukan bagi pembacanya.

Korelasinya dengan Penjaminan Mutu Pendidikan

Dalam konteks penjaminan mutu pendidikan, gerakan literasi sendiri merupakan bagian dari penjaminan mutu pendidikan.

Proses pendidikan tidak lepas dari aktivitas membaca & menulis. Pengetahuan baru didapatkan melalui membaca berbagai referensi. Kegiatan menulis pun membutuhkan aktivitas membaca karena bahan yang ditulis tentunya hasil yang dibaca.

Pendidik (guru) & tenaga kependidikan yang rajin membaca & menulis adalah orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam proses penjaminan mutu pendidikan, minimal mereka menjamin untuk meningkatkan kompetensi dirinya sendiri.

Dari peningkatan kualitas pribadi diharapkan akan berimbas ke peningkatan kualitas pendidikan secara umum. Dengan dibangunnya semangat literasi di sekolah, maka setiap warga sekolah menjadi sosok pembelajar, otomatis telah berkontribusi dalam mewujudkan sekolah sebagai organisasi pembelajar (Bagus Priambodo)

 

 

Tags: