Mungkinkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Berbantuan Media Audio Visual Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Redaksi 01 Oktober 2021

Perbaikan kualitas pembelajaran tidak terlepas dari peran guru dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai untuk terciptanya suasana belajar yang kondusif, sehingga dapat meningkatkan pemecahan masalah siswa dalam belajar, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Susanto (2013) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik sehingga perlu dirancang sedemikian serius.
 
Beberapa hal yang dapat menyebabkan rendahnya aktivitas belajar dan hasil belajar siswa diantaranya: (1) dalam proses pembelajaran guru lebih banyak menggunakan metode ceramah, tidak menerapkan model pembelajaran yang inovatif sehingga pembelajaran menjadi pasif; (2) dalam pembelajaran siswa hanya mendengar, mencatat, dan menghafal materi yang disampaikan oleh guru. Kurangnya pemahaman guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan aktivitas siswa, hal ini dilihat dari RPP yang telah dibuat oleh guru langkah pembelajaran cenderung sama dalam satu gugus, dalam RPP yang dibuat oleh guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga dalam proses pembelajaran siswa kurang aktif serta sering merasa bosan dalam mengikuti pelajaran; (3) kurangnya antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran; siswa kurang diberi kesempatan mengemukakan pendapat serta siswa tidak mendapat kesempatan secara merata untuk menjawab pertanyaan dari guru; (4) kurang adanya kesempatan kerjasama siswa dalam kelompok dan; (5) guru kurang memanfaatkan media pembelajaran guru cenderung menggunakan satu buku dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran seperti yang di atas kurang mengaktifkan siswa sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa (Gading & Kharisna, 2017).
 
 
Seorang guru dituntut untuk memiliki kemahiran dalam mendesain model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpartisipasi aktif secara fisik maupun mental, kreatif dalam meningkatkan aktivitas siswa terhadap materi yang disampaikan. Selain itu, guru harus dapat meningkatkan kompetensi profesinya sebagai seorang pengarah dan fasilitator dalam proses belajar sekaligus berperan sebagai penilai hasil belajar. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa “kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Artinya sebagai guru harus memiliki kemampuan dan kompeten dalam bidangnya dan menguasai dengan baik bahan yang akan diajarkan.
 
Memperhatikan tuntutan permasalahan tersebut, perlu dilakukan perubahan dalam kegiatan pembelajaran agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan bagi siswa. Dalam hal ini, sangat diperlukan penggunaan suatu model pembelajaran yang inovatif, sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dengan adanya model pembelajaran inovatif diharapkan siswa semakin aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa diharapkan mampu melakukan kerja sama dalam kelompok, menghargai pendapat orang lain, mampu berkomunikasi dengan orang lain, dan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan sebagai salah satu ciri manusia sebagai makhluk sosial.
 
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Model pembelajaran ini merupakan salah satu model pembelajaran aktif. Model ini menekankan pada pembelajaran dalam kelompok yang saling membantu satu sama lainnya, bekerja sama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik secara berkelompok maupun individual (Rusman, 2012). Keunggulan dari model ini menurut Lie (2008) adalah “siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan”. Guru lebih berperan sebagai fasilitator, tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa namun guru juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri, sehingga dapat membuat siswa aktif, kreatif dan cerdas.
 
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match “siswa diajak mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan” (Rusman, 2012). Menurut Huda dalam (Riadi, 2015), model pembelajaran kooperatif tipe make a match merupakan model pembelajaran yang melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman siswa mengenai isi pelajaran dengan memberikan masing-masing siswa sebuah kuis yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe make a match: 1) Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan. 2) Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa. 3) Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran. 4) Kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis. 5) Munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa. Keunggulan dari model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topic dalam suasana yang menyenangkan (Lie, 2008).
 
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match sangat berbeda dengan model pembelajaran yang biasa diterapkan oleh guru-guru di sekolah (model konvensional). Perbedaan ini terlihat dari sintaks dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran konvensional lebih cenderung guru yang aktif dalam proses pembelajaran, guru mentransfer begitu saja pengetahuan yang dimiliki kepada peserta didik tanpa memperhitungkan mental peserta didik (Rasana, 2009). Kondisi seperti ini, mengakibatkan siswa pasif dalam pembelajaran di kelas dan cenderung akan cepat merasa bosan. Berbeda halnya dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match, dalam proses pembelajarannya siswa diberikan kesempatan untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran melaui permainan mencari pasangan.
 
Telah banyak hasil penelitian terkait model pembelajaran kooperatif tipe make a match diantaranya penelitian yang dilakukan Suatnaya (2015) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian lain oleh Johnson D.W, Roger T, dan Stanne Mary Beth (2000) menemukan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian Ebrahim Ali (2012) menemukan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil penelitian Alabekee E. C., Samuel A., Dkk (2015), menemukan bahwa pembelajaran kooperatif memungkinkan peserta didik untuk menerima umpan balik positif dan meningkatkan hasil prestasi akademik siswa. Dan masih banyak lagi hasil-hasil penelitian lainnya.
 
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match akan lebih optimal jika di padukan dengan media pembelajaran dalam proses implementasinya. Salah satu media yang dapat diperbantukan adalah media audio visual. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match berbantuan media audio visual memungkinkan siswa dapat bekerja sama dengan pasangannya dimana siswa saling berbagi informasi secara kebersamaan. Dalam pembelajaran ini siswa dilatih untuk mengembangkan kerjasama untuk dapat pemecahan permasalahan materi yang diberikan oleh guru dalam pembelajaran. Selain itu kehadiran media audio visual (video) menambah beragamnya sumber belajar siswa.
 
Media audio visual merupakan media yang dapat menampilkan unsur gambar dan suara secara bersamaan pada saat mengkomunikasikan pesan atau informasi (Wati, 2016). Menurut Anderson (1994), media audio visual adalah merupakan rangkaian gambar elektronis yang disertai oleh unsur suara audio juga mempunyai unsur gambar yang dituangkan melalui pita video. Rangkaian gambar elektronis tersebut kemudian diputar dengan suatu alat yaitu video cassette recorder atau video player . Sedangkan Barbara (dalam Anderson, 1994) mengemukakan bahwa media audio visual adalah cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesan-pesan audio visual.
 
Sesuai dengan namanya, media audio visual merupakan kombinasi atau perpaduan audio dan visual. Sudah barang tentu apabila menggunakan media ini akan semakin lengkap dan optimal untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan penyajian bahan ajar kepada peserta didik, selain itu dengan media ini dalam batasan tertentu dapat menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi tetapi karena penyajian materi bisa digantikan oleh media, maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk belajar.
 
Anderson (1994) mengemukakan tentang beberapa tujuan dari pembelajaraan mengunakan media audio visual, antara lain: Untuk tujuan kognitif adalah (a) dapat mengembangkan mitra kognitif yang menyangkut kemampuan mengenal kembali dan kemampuan memberikan rangsangan gerak dan serasi, (b) dapat menunjaukan serangkaian gambar diam tanpa suara sebagai media foto dan film bingkai meskipun kurang ekominis, (c) melalui media audio visual dapat pula diajarkan pengetahuaan tentang hukum-hukum dan prinsip-prinsip tertentu. (d) media audio visual dapat digunakan untuk menunjukan contoh dan cara bersikap atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang menyangkut interaksi siswa. Untuk tujuan afektif (a) media audio visual merupakan media yang baik sekali untuk menyampaikan informasi dalam matra afektif, (b) dapat menggunakan efek dan teknik, media audio visual dapat menjadi media yang sangat baik dalam mempengaruhi sikap dan emosi. Untuk tujuan psikomotorik (a) media audio visual merupakan media yang tepat untuk memperlihatkan contoh ketrampilan yang menyangkut gerak. (b) dengan alat ini dijelaskan, baik dengan cara memperlambat maupun mempercepat gerakan yang ditampilkan.
 
Dari beberapa definisi dan tujuan media audio visual dalam pembelajaran tersebut, tentu akan klop jika media ini diperbantukan dalam implementasi model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Hipotesisnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match berbantuan media audio visual dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran siswa. Selanjutnya adalah bagaimana menjawab atau membuktikan hipotesis ini? Tentu perlu adanya riset yang metodologis semisal action reseacrh (penelitian terapan) atau experimen research untuk membuktikan keefektifannya.
 
Referensi 
 
Alabekee E. C., Samuel A., Dkk. (2015). Effect Of Cooperative Learning Strategy On Students Learning Experience And Achievements In Mathematics. International Journal of Education Learning and Development. 3(4): 67-75
 
Anderson, Ronald (1994). Pemilihan dan Pengembangan Media Audio Visual (Penerjemah; Yusuf Hadi Miarso). Jakarta: Grafindo Pers
 
Ebrahim, Ali (2012). The Effect Of Cooperative Learning Strategies On Elementary Students Science Achievement and Social Skill in Kuwait. International Journal of Science and Mathematics Education. Vol. 10 (2):293-314
 
Gading, I Ketut & Kharisma, Kadek Dian (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a match Berbantuan Media Audio Visual Terhadap Hasil Belajar Ips Sekolah Dasar. International Journal of Elementary Education. Vol.1 (2):153-160
 
Johnson D.W., Roger T., Stanne M.B. (2000). “Cooperative Learning Methods: A Meta-Analisis”. Tersedia Pada: https://pdfs.semanticscholar.org/93e9/97fd0e883cf7cceb3b1b612096c27aa40f90.pdf
 
Lie, Anita (2008). Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
 
Rasana, Raka (2009). Model-model Pembelajaran. Singaraja: DIPA PNBP FIP Undiksha.
 
Riadi, Muchlisin (2015). “Model Pembelajaran Tipe Make a match”. Tersedia Pada: http://www.kajianpustaka.com/2015/03/model-pembelajaran-tipe-make-match.html.
 
Rusman (2012). Model-model Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafinda Persada
 
Suatnaya, I Putu Mas (2015). “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Make a match Berbantuan Media Benda Asli Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri Pemaron Tahun Pelajaran 2014/2015”. Jurnal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha. Vol. 3(1). Tersedia Pada: http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/download/5677/4130
 
Susanto, Ahmad (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Pustaka Belajar
 
Wati, Ega Rima (2016). Ragam Media Pembelajaran. Yogyakarta: Kata Pena 
 
(Dr. Wahsun, Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Muda LPMP Provinsi Jawa Timur, web: https://www.celotehpendidikan.com/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: