Moda Penting Penggerak Inovasi Pendidikan

Redaksi 31 Desember 2019

Globalisasi & Strategi - Pada kesempatan memberikan kuliah umum di acara Musyawarah Nasional ke-5 Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (16/12/2019), Mendikbud Nadiem Makarim berdiskusi langsung dengan para peserta. Sang Menteri menginginkan diskusi dua arah untuk membahas rencana kerjanya hingga masa depan pendidikan bangsa Indonesia. Beberapa pertanyaan yang dilemparkan adalah soal ekonomi yang digerakkan dari dunia pendidikan.

Perekonomian bangsa dari sektor pendidikan mengacu pada indikator inovasi yang dihasilkan. Pemahaman awam menyiratkan ada perbedaan antara universitas luar negeri dan dalam negeri. Banyak anggapan bahwa prodi dan jurusan di Indonesia tidak lebih baik daripada universitas luar.

Pada kenyataannya, hal itu salah besar, perubahan yang dilakukan hingga kini sudah memperlihatkan hasil baik. Banyak prodi dan jurusan di universitas Indonesia lebih mumpuni ketimbang universitas luar negeri. Persaingan itu memicu inovasi harus lebih dinamis lagi.

Perubahan lain yang ditekankan lagi-lagi soal para pelaku dunia pendidikan.

Pertama, perubahan paradigma dosen-mahasiswa, guru-murid sebagai mitra, saling belajar satu sama lain dan melebur menjadi satu.

Kedua, anggapan bahwa tidak akan ada universitas di Indonesia yang bertaraf dunia jika tidak ada peleburan. Peleburan antara dunia sosial, dunia penelitian (research), dunia industri. Kolaborasi yang dilakukan itulah yang menjadi MODA utama penggerak perubahan.

Pernahkah membayangkan pendidikan Tanah Air 10 tahun ke depan? Tenaga pendidik penggerak menjadi kunci perubahan. Mereka harus paham betul MODA utama perubahan yakni kolaborasi.

Yang terjadi di lapangan saat ini masih banyak keluhan datang terutama dari para tenaga pendidik tersebut. Bagaimana mereka mampu melakukan perubahan jika masih memikirkan kesejahteraan hidupnya? Permasalahan itu lalu menjadi PR Kemendikbud RI.

Isu yang muncul misalnya tentang status para guru honorer yang penghasilannya baru didapatkan 3 bulan sekali. Bagaimana mereka mengatasi diri untuk mengabdi demi pendidikan tetapi kesejahteraannya sendiri belum terpenuhi?

Kemendikbud yang diwakili oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan alasan di balik isu yang berkembang tersebut. Bahwa rupanya kewenangan tidak hanya dimiliki oleh Kemendikbud sebagai instansi tertinggi. Beberapa sekolah di daerah terpencil adalah milik pemerintah daerah. Penting untuk merumuskan masalah itu dengan kolaborasi dari berbagai pihak. Isu yang dimunculkan tidak simpel tetapi bersifat sangat komplek sehingga harus berangkat dari kolaborasi diskusi berbagai instansi terkait lebih dulu.

Masih bicara soal tenaga pendidik, dalam niatnya untuk memajukan dunia pendidikan, sudahkah mereka mendapatkan kesejahteraan dalam karirnya? Hal itu dianggap Nadiem Makarim sebagai prioritas utama. Karir para tenaga pendidik terbelenggu dengan regulasi dan syarat khusus yang ribet. Sudah menjadi keinginan besar Nadiem agar bisa menyelesaikan masalah tersebut satu per satu. Nadiem menyinggung kembali soal filsafat pendidikan yang ia pahami, yakni bahwa menggerakkan masa depan pendidikan Indonesia harus berasaskan ‘Merdeka Untuk Belajar’.

Dalam sambutannya, Nadiem Makarim meminta agar para peserta terutama dosen-dosen dan alumni UII bersedia membantunya mewujudkan asas merdeka dalam belajar dengan menyampaikan aspirasi lewat media sosial. (Bagus Priambodo/Sumber narasi “You Tube Channel” Kemendikbud RI: https://www.youtube.com/watch?v=oN9D22yd0Y4/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google image)

Tags: