Meski Praktis, Publikasi Online Tetap Butuh Strategi

19 Agustus 2020

Berani Belajar Berubah - Revolusi digital 4.0 yang selalu digaungkan para petinggi negara, pesohor dunia dan pemangku jabatan memang benar adanya. Apalagi di tengah kondisi sekarang yang sedang tidak pasti karena adanya pandemi. Internet dianggap menjadi senjata paling ampuh untuk berkomunikasi saat ini. Bagi humas, internet bisa dijadikan alat membangun citra baik (bukan politik pencitraan) di hadapan publik.

Internet menjadi sumber menciptakan ekosistem yang baik untuk menyebarkan informasi positif kepada masyarakat. Tentunya tak terbatas ruang dan waktu.

Berkomunikasi kepada masyarakat luas di masa kini terlebih di tengah pandemi sudah tak lagi seperti dulu, pasang baliho, papan reklame iklan hingga televisi. Usapan di layar ponsel, tablet, atau laptop dibarengi koneksi internet yang berkualitas bisa menjadi "jalan tol" agar konten-konten yang disampaikan berhasil memperoleh perhatian publik lebih massif.

Meski pendistribusian konten kreatif berpotensi besar berhasil (sukses) dengan memanfaatkan internet, pemilihan atau penentuan platform media sosial yang sesuai dengan jenis konten kreatif yang akan dipubish (ditayangkan) tetaplah penting dan menentukan.

Dengan kata lain, penyebaran informasi melalui internet dengan berbagai platform, seperti media sosial (medsos) tetap membutuhkan strategi karena wajib memikirkan sasaran yang dituju atau penerima informasi. Berapa usianya, apa pekerjaannya, hingga jenis konten menarik apa yang mereka suka (populer bagi mereka).

Hal tersebut disampaikan Primasari, pembicara (nara sumber) dari Lembaga Pendidikan Jurnalistik (LPJ) ANTARA di acara Konsolidasi  Strategi Pencitraan Publik bertema ‘Berani Belajar Berubah’ via daring (online) yang diselenggarakan oleh bagian kehumasan Dirjen PAUD Dikdasmen Kemdikbud yang diikuti oleh LPMP se-Indonesia dan unit-unit terkait lain di bawahnya beberapa waktu lalu (Kamis, 13 Agustus 2020)

"Internet memiliki kapasitas paling baik untuk menyebarkan semua konten karena memiliki pengguna yang sangat aktif," ungkapnya.

"Tetapi juga jangan lupa memikirkan strategi bagaimana menyasar masyarakat sesuai usia, sesuai pekerjaan orang, sesuai dengan gaya hidup sasaran yang diinginkan. Bicara soal usia, 13 sampai 34 tahun itu usia yang paling erat dengan device (alat) guna mengakses informasi melalui internet baik di web, blog, hingga platform aplikasi," tambahnya.

Berbicara soal pembentukan opini dan pembuatan persepsi publik, sejatinya harus dijadikan landasan utama para pembuat konten kreatif. Utamanya yang ada di lingkungan pemerintah.

Koridor pertama yang harus diperhatikan adalah memperkuat identitas, mempertajam visi dan misi institusi dan meningkatkan brand awarness (kepedulian publik). Tentu dengan mengacu kepada keselarasan, dan kebijakan optimis yang ramah (tidak kaku/menyulitkan).

Para pelaku (kreator/penyebar luas) konten kreatif juga penting mengetahui tujuan akhir dari pengemasan dan penyebaran konten-konten tadi yakni, memperlakukan sasaran (audiens) agar menjadi pihak-pihak yang awalnya tidak tahu (unaware) lalu akan lebih mengenal dan mampu menyelesaikan masalah dengan berasaskan peduli atau aware.

Para penggiat konten internet juga harus menimbang apa yang disebut algoritma. Praktisi profesional di bidangnya tak akan menampik soal algoritma, diantaranya mengenai besaran kuantitas pengikut, dan sasaran audiens. Hal tersebut disampaikan oleh Praktisi Profesional bidang Sosial Media, Keenan Pearce yang turut pula diundang sebagai pembicara dalam konsolidasi virtual yang sama.

"Dalam tumbuh kembang konten digital ada yang namanya algoritma, makin sering sebuah konten diluncurkan maka harus makin konsisten publikasinya. Itu mempengaruhi intensitas bertambahnya jumlah followers dan audiens kita, mau semakin tinggi atau turun, dan sekali lagi bila ingin makin meninggi, butuh publikasi yang konsisten alias jangan sampai audiens menunggu terlalu lama kelanjutan konten-konten berikutnya," ungkap Keenan.

Sementara itu feedback juga penting. Untuk menandai terwujudnya komunikasi dua arah di medsos, feedback (balasan) audiens ke konten-konten yang terpublish menjadi indikator utama. Tetapi permasalahan yang sering terjadi adalah minimnya pihak-pihak yang kompeten dalam menggunakan tools untuk mengetahui indikator tersebut secara mendalam.

"Sehingga sering lambat dalam merespon atau membalas feedback dari audiens, padahal respon yang cepat akan menambah kepercayaan audiens ke konten-konten yang kita sampaikan ke mereka," tambah Keenan 

Primasari dari LPJ ANTARA memberikan saran soal evaluasi dan monitoring konten yang ternyata bisa dilakukan dengan mengamati (memanfaatkan) beberapa tools parameter (alat parameter) yang tersebar luas di internet. Contoh populer adalah penggunaan parameter ALEXA hingga Google Trends.

“Asal kita mau berlangganan, kita pasti dapat memanfaatkannya dengan maksimal tools (parameter media sosial) tadi,” imbuhnya

"Dengan berlangganan tools parameter tadi, kita bisa masuk ke dalam interaksi audiens agar mengerti benar sudut pandang masyarakat ke konten-konten yang kita lempar di media sosial. Parameternya bisa berupa klasifikasi insight (pengamatan), misal seperti likes-nya berapa, share-nya berapa, dan juga dilihat dari berbagai komentar publik terhadap konten kita," tegasnya. (Bagus Priambodo)

Tags: