Mereduksi Prokrastinasi Siswa dengan Memanfaatkan Hypermedia Google Site dalam Pembelajaran Jarak Jauh PJJ

Redaksi 05 Oktober 2021

Kedisiplinan dan prokrastinasi selama belajar dari rumah
 
Pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020 telah berdampak pada semua sektor termasuk pendidikan. Belajar Dari Rumah (BDR) merupakan salah satu kebijakan yang telah diambil untuk mencegah perluasan pandemi COVID-19. Untuk mendukung pelaksanaan BDR, Kemendikbud telah mengeluarkan berbagai inisiatif kebijakan seperti Surat Edaran Mendikbud No. 4/2020, Surat Edaran Sekretaris Jenderal No. 15/2020, Permendikbud No. 19/2020 tentang perubahan Juknis BOS, program Belajar dari Rumah TVRI, dan laman guruberbagi.kemdikbud.go.id.
 
Salah satu kelebihan dari BDR adalah siswa dapat belajar melalui akses materi dan sumber belajar tanpa batasan tempat dan waktu (Kurniasari, 2020). Dengan kata lain, siswa dapat mengakses bahan pembelajaran di mana pun dan kapan pun secara fleksibel. Dengan sistem BDR, guru dapat memanfaatkan berbagai platform pembelajaran online untuk menyajikan bahan pembelajaran maupun kegiatan pembelajaran melalui media yang mudah diakses oleh siswa.
 
Akan tetapi, banyak laporan pengaduan dan hasil temuan penelitian yang menunjukkan problematika selama BDR saat pandemi. Salah satunya penelitian dengan pendekatan survei yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak) Kemdikbud untuk merekam proses pelaksanaan BDR di lapangan pada tahun 2020. Hasil survei menemukan tiga masalah besar yang harus diwaspadai dalam pelaksanaan BDR yaitu (1)  menurunnya intensitas belajar mengajar, (2) adanya kesenjangan pembelajaran, dan (3) banyak munculnya berbagai hambatan pembelajaran baik fisik maupun psikis. Berbagai masalah tersebut jika tidak ditangani berisiko jangka panjang pada hilangnya pengalaman belajar, menurunnya kemampuan belajar, meningkatnya kesenjangan akses dan mutu pembelajaran, serta ancaman putus sekolah (Zamjani dkk., 2020).
 
 
Dari sisi rutinitas, banyak siswa tidak setiap hari dapat melakukan BDR. Umumnya siswa belajar 2 sampai 4 hari seminggu, khususnya siswa pada tingkat SMP, SMA, dan SMK. Sedangkan sebagian besar siswa SD masih belajar setiap hari. Siswa SMK merupakan yang paling rentan karena hampir 20% dari mereka melakukan pembelajaran seminggu sekali atau tidak menentu. Hal ini terutama karena siswa SMK membutuhkan kegiatan praktik yang sarananya ada di sekolah. Masalah intensitas belajar ini juga diperparah oleh kesenjangan antar wilayah. Siswa di daerah tertinggal umumnya lebih sedikit menggunakan opsi-opsi cara belajar yang ada dibandingkan siswa bukan di daerah tertinggal. Siswa di daerah tertinggal kepada buku cetak sebagai sumber belajar sangat tinggi (64% untuk buku pelajaran, dan 15% untuk buku pengayaan) melebihi siswa bukan di daerah tertinggal (42% dan 11%). Selain itu, masih banyak temuan permasalahan yang menjadi hambatan selama BDR yang dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu: fasilitas, kapasitas, komunikasi, dan psikologi. Keempat hambatan ini diakui baik oleh guru,siswa maupun orang tua sebagai hambatan-hambatan utama BDR (Zamjani dkk., 2020).
 
Hambatan yang perlu juga digarisbawahi dalam pelaksanaan BDR adalah hambatan psikologis. Hambatan psikologis terkait dengan konsentrasi (guru, orang tua, dan siswa), rasa bosan (siswa), dan kelelahan psikis (orang tua). Konsentrasi adalah masalah umum karena distraksi belajar di rumah sangat tinggi mengingat rumah tidak dirancang sebagai tempat belajar mengajar. Selain itu, rasa bosan dialami oleh hampir separuh siswa (47%) karena energi aktif mereka tidak tersalurkan selama BDR. Hal ini diperkuat oleh persepsi sebagian besar siswa (67,5%) yang tidak senang dengan BDR. Sementara itu, 33% orang tua secara rata-rata mengaku mengalami kelelahan luar biasa (burnout), terutama orang tua siswa SD (yang paling terlibat aktif dalam pembelajaran anak-anak mereka (Zamjani dkk., 2020).
 
Selain beberapa dapak psikologis tersebut. Dampak psikologi lain yang muncul adalah rasa berat untuk mengerjakan tugas. Hal ini sebagaimana hasil survei KPAI pada tahun 2020 terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dari survei tersebut diperoleh data sebanyak 73,2% siswa menyatakan merasa berat mengerjakan tugas dari para guru. Sementara 26,8 persen mengaku tidak berat dengan penugasan yang diberikan para guru. Tugas yang paling tidak disukai siswa antara lain, membuat video sebanyak 55,5%, menjawab soal dalam jumlah banyak 44,5%, merangkum bab materi 39,4%, dan harus menuliskan soal yang ada di dalam buku cetak sebanyak 25,6% (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200427160228-20-497716/survei-kpai-guru-tak-interaktif-selama-belajar-dari-rumah). Beratnya pengerjaan tugas membuat siswa selalu menunda-nunda (bahasa Jawa; aras-arasen) untuk mengerjakan yang berakibat tugas semakin menumpuk. Dalam keilmuan psikologi pendidikan, istilah menunda-nunda untuk mengerjakan tugas akademik disebut prokrastinasi (Fibrianti, 2009; Burka & Yuen, 2008).
 
Ferrari dan kawan-kawan (1995) serta  Burka dan Yuen (2008) menyebut bahwa perilaku prokrastinasi bisa jadi dilakukan oleh siswa tanpa alasan atau bisa juga dengan niat baik namun tidak terwujud. Penundaan yang sering terjadi dan dilakukan oleh pelajar adalah penundaan yang dilakukan oleh siswa sebagai bentuk bahwa siswa tidak mempunyai perencanaan penggunaan waktu yang efektif. Dan perilaku prokrastinasi berkorelasi positif dengan perilaku disiplin siswa yang rendah baik di rumah maupun di sekolah (Boice, 1996). Dengan kata lain, perilaku disiplin menjadi trigger terbentuknya perilaku prokrastinasi siswa.
 
Sikap disiplin dalam belajar merupakan kunci keberhasilan pada kegiatan pembelajaran (Sugiarto, 2019). Sikap disiplin belajar inilah yang nantinya memperkuat pendidikan karakter pada peserta didik sebagai bekal kelak di masa depan. Bentuk kedisiplinan yang harus dilakukan peserta didik adalah mengikuti pembelajaran dengan baik, melakukan presensi tepat waktu, menyimak materi yang disajikan oleh guru, serta melakukan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru yang harus diselesaikan tepat waktu. Melalui sikap disiplin belajar yang konsisten hasil belajar diharapkan akan lebih optimal, sehingga tujuan pembelajaran yang dirumuskan di kelas akan tercapai. Sebaliknya, jika perilaku prokrastinasi yang merupakan imbas dari ketidakdisiplinan dibiarkan akan berdampak terhadap perkembangan kompetensi akademik siswa. Yang lebih berbahaya lagi jika perilaku prokrastinasi menjadi karakter yang melekat pada siswa.
 
Melihat dampak buruk dari prokrastinasi, pihak sekolah dalam hal ini guru dituntut harus mampu membuat desain pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi pengetahuan (kognitif) sekaligus dapat memotivasi dan meningkatkan kedisiplinan siswa (kompetensi sikap dan perilaku/afektif dan psikomotorik). Dalam hal ini diperlukan inovasi dalam memdesain atau menerapkan suatu pendekatan, metode, model, atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kedisiplinan belajar peserta didik sekaligus tidak menimbulkan kejenuhan dan lebih menyenangkan selama pelaksanaan BDR. Salah satu caranya adalah melalui pemanfaatan hypermedia pembelajaran Google Sites yang tersedia di Google Workspace for Education.
 
Google Sites merupakan salah satu media pembelajaran berbasis websites yang dapat menggabungkan berbagai informasi seperti teks, gambar, presentasi, video, lampiran link dan lain sebagainya. Dengan penggabungan beberapa media tersebut maka Google Site layak disebut sebagai suatu hypermedia. Menu pada Google Sites dapat diolah sedemikian rupa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pemanfaatan Google Sites untuk meningkatkan kedisiplinan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan mencantumkan jadwal pembelajaran serta mengkombinasikan menu yang berada pada Google Sites untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga peserta didik lebih memahami tentang disiplin waktu dan tanggung jawab atas apa yang harus dilakukan dan dikerjakan dalam pembelajaran.
 
Mereduksi prokrastinasi siswa dengan memanfaatkan Hypermedia Google Sites
 
Media pembelajaran yaitu sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan pembelajaran yang dapat merangsang pikiran, perhatian, perasaan, serta kemampuan peserta didik (Wahid, 2018). Media pembelajaran dapat berupa text, grafik, gambar animasi, bunyi (audio), musik, video, dan lain sebagainya yang tersaji secara parsial atau terpisah dalam suatu proses pembelajaran. Sedangkan hypermedia adalah perluasan dari hypertext  yang menggabungkan media lain kedalam teks. Dengan sistem hypermedia pengembang dapat membuat suatu korpus materi yang kait mengkait meliputi teks, grafik, gambar animasi, bunyi, video, musik dan lain-lain (Blanchard dan Rotenberg dalam Munir, 2009:66). Hypermedia adalah gabungan berbagai media yang diatur oleh hyperteks. Hypermedia meliputi berbagai media seperti video/visual, audio/music, teks, animasi, film, grafik, dan gambar. Dapat dikatakan juga hypermedia adalah perpanjangan dari Hypertext dan Multimedia yaitu suatu media di mana informasi itu tidak hanya jenis teks, tetapi juga dari jenis gambar, suara, video, atau multimedia. Suatu hypermedia pembelajaran dimaksudkan untuk menyajikan informasi yang interaktif yang dapat berhubungan dengan banyak media yang lebih luas yang tujuan penggunaannya adalah dalam suatu proses pembelajaran.
 
Hypermedia pembelajaran Google Sites merupakan salah satu fitur pembelajaran dalam Google Workspace for Education yang disediakan oleh google. Mukti (2020) menjelaskan hypermedia pembelajaran Google Sites merupakan hypermedia pembelajaran berbasis website yang dapat dimanfaatkan untuk memadukan banyak informasi. Guru sebagai fasilitator pembelajaran sangat mungkin mengembangkan Google Sites untuk dimanfaatkan sesuai dengan jenis kebutuhan dalam pembelajaran.
 
Beberapa kelebihan daripada Google Sites jika digunakan sebagai hypermedia pembelajaran antara lain: (1) Fitur dalam Google Sites sangat lengkap. Fitur lengkap yang dapat dimanfaatkan dalam Google Sites antara lain: (a) Menu penulisan teks untuk menjelaskan materi pembelajaran, menuliskan jadwal pembelajaran, serta menuliskan petunjuk dalam pembelajaran; (b) Menu penyisipan gambar untuk menarik peserta didik; (c) Menu untuk menyisipkan video youtube untuk materi berupa video; (d) Menu untuk menyisipkan google form yang dimanfaatkan untuk presensi, LKPD, dan evaluasi; (e) Menu untuk menyisipkan link google meet untuk pertemuan online; (f) Menu menyisipkan power point untuk menyisipkan materi pembelajaran yang disajikan pada slide; (g) Menu menyematkan excel untuk menambahkan tabel dalam Google Sites; serta masih banyak menu lain yang dapat dikembangkan pemanfaatannya; (h) Dan yang terpenting adalah adanya menu kalender untuk menyematkan            agenda dan tanggal dalam pembelajaran; (2) Google Sites mudah digunakan di mana pun dan kapan pun. Media pembelajaran Google Sites dapat diakses peserta didik baik di rumah maupun di luar rumah dan peserta didik bebas mengakses materi setiap saat; (3) Karya peserta didik juga dapat ditampilkan pada Google Sites; (4) Google Site dapat diakses secara gratis oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan akun pembelajaran (belajar.id) yang telah disediakan oleh Kemdikbud.
 
Sementara kekurangan Google Sites adalah harus memerlukan akses internet. Namun, permasalahan tersebut dapat diatasi karena adanya bantuan kuota secara berkala oleh Kemdikbud. Peserta didik yang sedang tidak memiliki kuota internet juga dapat bergabung dengan teman terdekat untuk mengikuti pembelajaran melalui Google Sites.
 
Terdapat beberapa aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa selama sesi pembelajaran menggunakan Google Site yang secara konseptual hipotetik dianggap dapat meningkatkan tingkat kedisiplinan siswa guna mereduksi perilaku prokrastinasi yaitu: (1) Kedisiplinan waktu kehadiran pembelajaran siswa diukur dengan melihat kehadiran siswa pada salah satu fitur Google Workspace for Education yang terkoneksi dengan Google Sites yaitu google meet pembuka pembelajaran, inti pembelajaran, dan penutup pembelajaran; (2) Kedisiplinan melakukan presensi dapat ditingkatkan dengan menyisipkan google form secara terbuka pada Google Sites; (3) Untuk meningkatkan kedisiplinan peserta didik mengikuti pembelajaran sesuai dengan jam pembelajaran yang ditetapkan, jadwal pembelajaran yang terdiri atas kegiatan serta waktu pembelajaran dapat dicantumkan pada Google Sites; (4) Kedisiplinan peserta didik mengikuti pembelajaran hingga selesai dapat diketahui dengan rekap akhir dari presensi kehadiran, daftar hadir google meet, peserta didik yang menyimak materi, mengerjakan tugas, serta soal evaluasi yang tercantum semua pada Google Sites; (5) Kedisiplinan peserta didik memanfaatkan fasilitas pembelajaran berupa materi pembelajaran dapat dilihat dari banyaknya viewers dan komentar youtube materi pembelajaran yang disajikan pada Google Sites; (6) Kedisiplinan mengumpulkan tugas dapat ditingkatkan melalui penyisipan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) online yang berbentuk seperti word wall, live work sheet, bahkan google form yang dimodifikasi sebagai LKPD. Kedisiplinan peserta didik dilihat dari rekap LKPD online yang dapat mendeteksi, ketepatan peserta didik memahami perintah tugas yang berpengaruh pada ketepatan jawaban peserta didik dan ketepatan waktu pengumpulan tugas; (7) Kedisiplinan mengerjakan soal evaluasi ditingkatkan dengan memanfaatkan jenis-jenis alat evaluasi digital seperti google form, quizizz, kahoot, mentimeter, dan lain sebagainya. Alat evaluasi online tersebut dapat mendeteksi tingkat kepahaman peserta didik terhadap soal yang diberikan yang dapat dilihat dari ketepatan jawaban serta mendeteksi ketepatan waktu peserta didik dalam mengerjakan soal evaluasi.
 
Epilog
 
Kondisi pandemi Covid-19 telah berdampak pada semua aspek termasuk pendidikan. Kebijakan BDR adalah suatu keharusan meskipun berdampak terhadap kondisi psikologis siswa. Salah satu dampak BDR adalah terbentuknya perilaku siswa yang tidak disiplin yang pada akhirnya berwujud pada perilaku prokrastinasi atau perilaku menunda-nunda untuk menyelesaikan suatu penugasan.
 
Guru dituntut untuk jeli dan bijak dalam mengatasi prokrastinasi siswa salah satunya dengan cara mendesain pembelajaran yang inovatif dengan suatu pendekatan, metode, model, atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kedisiplinan belajar peserta didik sekaligus tidak menimbulkan kejenuhan dan lebih menyenangkan selama pelaksanaan program belajar dari rumah. Salah satu hypermedia yang dapat dimanfaatkan oleh guru adalah hypermedia Google Site pada Google Workspace for Education. Hypermedia Google Site dapat diakses secara gratis oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan akun pembelajaran belajar.id yang telah disediakan oleh Kemdikbud.
 
Secara konseptual hipotetik, pembelajaran dengan memanfaatkan hypermedia Google Sites yang tersedia di Google Workspace for Education dapat meningkatkan kedisiplinan siswa. Dan dengan kedisiplinan yang meningkat diharapkan perilaku prokrastinasi dapat menurun. Akan tetapi ini adalah suatu gagasan konseptual yang baru bersifat hipotetik sehingga masih perlu adanya pembuktian secara ilmiah.
 
Referensi
 
Boice, R. (1996). Procrastination and Blocking: A Novel, Practical Approach. USA: Praeger Publishers.
 
Burka & Yuen (2008). Procrastination: Why You Do It, What To Do About It Now. Cambridge: Da Capo Press.
 
Ferrari, J. R, dkk. (1995). Procrastination and Task Avoidance. New York: Plenum Press.
 
Fibrianti, I. D. (2009). Hubungan Antara Dukungan Sosial Orangtua Dengan Prokrastinasi Akademik Dalam Menyelesaikan Skripsi Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Tesis. Universitas  Diponegoro Semarang.
 
Kurniasari (2020). Analisis Efektivitas Pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) Selama Pandemi Covid-19 Surabaya. Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian. Vol. 6 (). 76-82.
 
Mukti, W.M. (2020). Optimalisasi Pendidikan dalam Rekonstruksi Pembelajaran Berbasis Sains dan Teknologi Era New Normal. Surakarta. Jurnal UNEJ. Vol. 1 (1). 1002-109
 
Munir (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: CV ALFABETA.
 
Zamjani, Irisyad., dkk. (2020). Mengatasi Risiko Belajar Dari Rumah. Jakarta: Puslitjak - Kemdikbud
 
Sugiharto  (2019). Faktor Kedisiplinan Belajar pada Siswa Kelas X SMK Larenda Brebes. Semarang. Jurnal Mimbar Ilmu. Vol 24 (2). 232-238
 
Wahid, A. (2018). Pentingnya Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Prestasi Belajar. Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Iistira'. Vol. 8 (2), 211-219
 
KPAI. (2020). Survei KPAI: Guru Tak Interaktif selama Belajar dari Rumah. Tersedia Online di https://www.cnnindonesia.com/nasional/2020042716028-20-497716/survei-kpai-guru-tak-interaktif-selama-belajar-dari-rumah 
 
(Dr. Wahsun, Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Muda LPMP Provinsi Jawa Timur, web: https://www.celotehpendidikan.com/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)
 
 

 

 

Tags: