Menumbuhkan Literasi ke Anak Sejak Dini

Redaksi 24 Oktober 2020

Liputan Khusus - Memberikan sebanyak-banyaknya bahan bacaan untuk anak memang sangat baik. Namun hal tersebut tak dapat dilakukan secara sembarangan. Menurut Setiawati Intan Savitri, doktor bidang ilmu Psikologi yang juga anggota Satgas GLS Kemdikbud, pemberian bahan bacaan untuk anak harus mempertimbangkan beberapa tahap perkembangan, salah satunya perkembangan kognitif.
 
Dalam webinar sarasehan Literasi #8, Intan yang didapuk menjadi salah satu panelis mengatakan bahwa dalam mendorong minat baca anak-anak, stimulus yang diberikan harus berbeda tergantung pada usianya.
 
Dalam hal perkembangan kognitif anak, Intan meyakinkan bahwa anak usia 0 hingga 2 tahun sekalipun sudah dapat diperkenalkan pada buku. Dia mengatakan, secara kognitif, anak usia 0 hingga 2 tahun, masih mengembangkan kemampuan sensori motor. Sehingga, stimulus yang diberikan harusnya merangsang panca indera.
 
“Ketika stimulus itu diberikan dengan baik, akan memberikan rangsangan pada sensori motor anak. Untuk bayi baru lahir hingga usia 2 tahun, bisa diberikan buku dari kain flanel atau buku yang dilengkapi suara. Jadi usia 0 sampai 2 tahun, sebenarnya anak bisa diajak beraktivitas dengan buku,” tuturnya.
 
Penulis buku yang juga ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta ini melanjutkan, untuk anak usia 2 tahun hingga 7 tahun, perkembangan kognitifnya kini mencapai tahapan kemampuan operasional konkrit.
 
Dalam hal ini, anak memandang segala sesuatu serba konkrit dan belum mampu berpikir secara abstrak atau simbolik. Sebagai contoh, anak di usia ini tidak akan mudah memahami angka 2 yang ditunjukkan lewat simbol angka 2. Tetapi mereka akan lebih memahami angka 2 dari melihat benda yang berjumlah 2.
 
Konsekuensinya, untuk menumbuhkan minat baca, maka rangsangan literasi yang diberikan harus bersifat konkrit.
 
“Misalnya kita ingin mengajarkan anak tentang angka 2, maka tunjukkan di buku angka dua, lalu tunjukkan juga konteks konkrit, misalnya benda yang berjumlah 2. Benda-benda ini bisa diraba, dimainkan, dan dipegang,” sambungnya. 
 
Selanjutnya, untuk anak berusia 7 hingga 11 tahun, tahap perkembagnan anak mencapai tahap operasional formal. Di tahapan ini, umumnya anak-anak sudah duduk di bangku sekolah dasar dan mulai bisa dikenalkan pada simbol-simbol formal seperti angka dan huruf.
 
Sedangkan anak usia 11 tahun ke atas, mereka sudah mencapai tahapan kemampuan simbolik. Di tahapan ini, anak-anak sudah mulai bisa dikenalkan dengan simbol-simbol dan konsep-konsep.
 
“Ini biasanya anak yang sudah kelas 5 SD. Mereka sudah mulai bisa dikenalkan dengan tulisan yang mengandung lebih banyak teks daripada gambar,” katanya lagi.
 
Dia menegaskan, perkembangan kognitif anak sifatnya bertahap. “Sehingga ketika kita menemani anak agar melek literasi, tahapan-tahapan tersebut harus dilewati. Artinya, ada rangsangan terus menerus,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Menumbuhkan Literasi Anak Bisa Dimulai Saat Bayi Baru Lahir/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: