Menuju Pendidikan Bermutu, SDM LPMP Jatim Didorong Kuasai Asesmen Nasional

Redaksi 16 Januari 2022

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Timur, Dr. Rizqi, menegaskan bahwa di tahun 2022, terdapat tugas utama yang dimiliki oleh LPMP.
 
Tugas utama yang dimaksudnya, di antaranya adalah terkait dengan asesmen nasional.
 
Hal itu dia sampaikan ketika membuka kegiatan Sharing Knowledge Assessment Nasional dan Assesment Kompetensi Minimum yang digelar melalui zoom beberapa waktu lalu (Senin, 10/1/2022).
 
“Tugas utama LPMP ke depan ada 3 hal. Pertama terkait dengan asesmen nasional dan dapodik, kedua, pengembangan program Sekolah Penggerak, dan yang ketiga, pendampingan dana transfer daerah,” kata Kepala LPMP Provinsi Jawa Timur.
 
“Mengingat asesmen nasional termasuk di dalam tugas utama LPMP, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memahaminya,” imbuhnya.
 
 
 
Dia menyebutkan, Asesmen nasional pada hakikatnya merupakan bagian dari evaluasi pendidikan yang bertujuan untuk mengetahui apakah setiap satuan pendidikan telah melakukan layanan pembelajaran yang sesuai dengan standar nasional pendidikan.
 
Ditambahkannya, asesmen nasional tersebut juga bertujuan untuk mengetahui tingkat capaian perkembangan anak serta untuk mengetahui tingkat pemerataan akses dan kualitas layanan pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 
 
Ditegaskannya, asesmen nasional ini menjadi hal yang sangat penting karena dari hasil evaluasi yang dilakukan, nanti akan diperoleh profil pendidikan dasar.
 
“Profil pendidikan tersebut, baik daerah ataupun nasional, digunakan sebagai laporan komprehensif terkait layanan pendidikan usia dini, dasar, maupun menengah yang jadi landasan untuk peningkatan mutu layanan pendidikan. Kedua, profil pendidikan ini juga dibutuhkan untuk penetapan rapor pendidikan, baik daerah maupun nasional. Jadi, dari assesment nasional itu nanti akan diberikan rapor pendidikan kepada pemerintah daerah,” tuturnya,
 
“Semuanya itu, tujuannya sama yaitu peningkatan mutu layanan pendidikan,” sambungnya.
 
Sementara itu, dalam sharing knowledge tersebut, Junie Darmaningrum, Widyaprada yang didapuk sebagai salah satu narasumber untuk menjelaskan mengenai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), menjabarkan bahwa AKM adalah penilaian kompetensi yang datanya dapat dimanfaatkan untuk peningkatan mutu pendidikan.
 
Dia menjelaskan, data yang didapat dari AKM, nanti akan menentukan pencapaian-pencapaian apa saja yang telah dibuat, dan pencapaian apa yang belum dibuat serta harus diwujudkan.
 
“Selain itu, asesmen ini juga untuk memantau dan mengevaluasi,” katanya.
 
Tak hanya itu, menurut dia,  asesmen nasional juga dirancang agar dapat menghasilkan informasi untuk perbaikan kualitas pembelajaran.
 
“Pada gilirannya adalah untuk memperbaiki hasil belajar murid,” ujar Junie.
 
Bagi siswa, kata Junie, AKM penting untuk memonitor tingkat kompetensi minimum mereka yang meliputi literasi dan numerasi.
 
Sedangkan bagi guru, AKM penting untuk menilai efektivitas pembelajaran yang mereka lakukan.
 
Sementara bagi sekolah, AKM juga penting untuk menilai kualitas sekolah, dan mengukur bagaimana layanan pendidikan yang diberikan sekolah.
 
“Sedangkan bagi pemerintah, AKM untuk mengecek sehat tidaknya sistem pendidikan kita,” imbuhnya.
 
Dikatakan Junie, adanya AKM ini juga terkait dengan harapan pemerintah untuk mewujudkan generasi yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21.
 
“Kalau kita bicara AKM, kita harus juga mengaitkan dengan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan setiap siswa, karena inti dari penyelenggaraan pendidikan adalah membekali siswa didik agar memiliki keterampilan abad ke-21 yang meliputi literasi dasar, kompetensi, kualitas karakter. Dengan keterampilan-keterampilan itu, anak-anak didik kita nantinya akan siap menjadi warga negara global,” kata Junie.
 
Perlu diketahui, literasi dasar yang dimaksudkan oleh Junie meliputi literasi membaca, numerasi, literasi sains, literasi ICT, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewarganegaraan.
 
Sedangkan kompetensi terkait dengan bagaimana siswa memecahkan masalah kompleks. Untuk dapat memecahkan masalah kompleks tersebut, kompetensi yang harus dimiliki adalah kompetensi berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi.
 
Sedangkan yang dimaksud dengan kualitas karakter adalah, diharapkan siswa dapat beradaptasi pada lingkungan yang dinamis dengan berbekal sejumlah karakter penting, yaitu rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, kemampuan adaptasi, kepemimpinan, serta kesadaran sosial dan budaya.  (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Demi Mewujudkan Pendidikan Bermutu, Personel LPMP Jatim Didorong Menguasai Asesmen Nasional/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan LPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: