Menuju ke Aplikasi Komputer Tes Gaya Belajar Siswa Kita

Redaksi 03 Maret 2020

Perbedaan individual adalah hal yang sangat wajar, bahkan mungkin merupakan suatu keharusan. Perbedaan ini dapat ditemui hampir dalam setiap segi kehidupan, mulai dari tampilan fisik, cara berpakaian, selera makanan, hobby, cara berpikir dan juga gaya belajar. Perbedaan inilah yang membuat kehidupan terlihat beraneka warna.

Adanya perbedaan membuat individu bereaksi dengan cara yang berbeda bahkan terhadap stimulus yang sama pada waktu dan tempat yang sama. Seseorang siswa melihat nilai rapor merah dan menyerah, sedangkan siswa yang lain menjadi bersemangat dan tergugah. Seseorang siswa menyukai belajar dengan membaca buku, sedangkan siswa yang lain lebih senang belajar dengan menonton video-video pembelajaran. Secara alamiah ataupun melalui suatu proses belajar, setiap individu bereaksi berbeda terhadap realita.

Hal yang sama terjadi pula pada proses (termasuk waktu dan suasana) belajar. Seorang siswa mungkin terbiasa belajar dengan suasana tenang, sedangkan siswa yang lain selalu belajar dengan musik yang dibunyikan keras. Siswa yang lain lagi mungkin suka belajar pada dini (pagi) hari, yang lain suka belajar di malam hari. Setiap siswa memiliki preferensi tersendiri dalam belajar, sesuatu yang dinilai paling sesuai dengan pribadinya. Ketika minat tersebut berlangsung terus-menerus, minat tersebut akan membentuk suatu kebiasaan, kebiasaan tersebut akhirnya menjadi suatu gaya, yang biasa disebut dengan istilah gaya belajar (learning style).

Gaya belajar

Sekalipun telah dikaji selama hampir tiga dekade, pengertian gaya belajar belum memiliki definisi resmi. Setiap tokoh memiliki konsep dan pengertian sendiri.

Seiring dengan makin bertambahnya teori gaya belajar, berbagai pemikiran dan pendekatan telah diungkapkan untuk menjawab pertanyaan sehubungan dengan pengertian gaya belajar. Sekitar tahun 1991, Dunn dan Dunn (1998) pernah menjelaskan gaya belajar sebagai cara seorang pelajar berkonsentrasi, memproses dan mempertahankan informasi baru dan sulit.

DePotter dan Hernacki (2002) mendefinisikan gaya belajar sebagai suatu kombinasi dari bagaimana individu menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Bogod (2002) mendefinisikan gaya belajar sebagai perbedaan pendekatan atau cara belajar.

Pada 1992, Litzinger dan Osif pernah mendeskripsikan gaya belajar sebagai suatu perbedaan cara yang digunakan oleh anak-anak dan orang dewasa dalam berfikir dan belajar yang merupakan suatu perilaku yang diminati dan konsisten (dalam Blackmore, 1996).

Selain deskripsi di atas, Kolb juga pernah mendefinisikan gaya belajar sebagai suatu kontinum psikologis yang bergerak antara pengalaman konkret, observasi reflektif, konseptualitasi abstrak, dan eksperimentasi aktif (dalam Blackmore, 1996).

Tipe gaya belajar menurut Fleming dan Mills

Pada awalnya, Fleming mendasarkan konsep gaya belajar dari teori yang diajukan oleh Stirling pada tahun 1987 (Fleming, 2002) yang mencakup tiga kategori yaitu Visual, Aural, dan Kinesthetic, namun setelah ditemui bahwa ketiga kategori ini masih kurang mencukupi untuk menerangkan perbedaan modalitas/gaya belajar sensoris para pelajar secara detail maka dikembangkanlah kategori keempat, yaitu kategori Read/Write yang selanjutnya diakronimkan menjadi VARK (Visual, Aural, Read/Write, Kinesthetic).

Keempat kategori VARK sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep-konsep sebelumnya tentang modalitas/gaya belajar, seperti tulisan Dr Kusnohadi di website ini, 'Memerdekakan Gaya Belajar & Bakat Minat Siswa'. Perbedaan paling menonjol hanya terdapat pada kategori ketiga yaitu Read/Write.

Sekalipun mata merupakan alat indera yang digunakan untuk menerima semua informasi visual, namun informasi tersebut amat bervariasi. Jenis informasi pertama berupa simbol-simbol (gambar, diagram, skema, tanda panah). Jenis informasi visual kedua adalah kata-kata tercetak/tertulis. Hal itulah yang dijadikan alasan mendasar munculnya tipe gaya belajar Read/Write (Fleming dan Mills, 1992).

Alternatif pembelajaran berbasis gaya belajar VARK

Dalam lingkup teori gaya belajar VARK, alternatif pembelajaran yang disesuaikan untuk setiap modalitas belajar seperti yang telah disebutkan sebelumnya (di atas), yaitu: Visual, Aural, Read/Write dan Kinesthetic (Fleming, 2002)

Siswa dengan gaya belajar ‘Visual’ lebih mudah menerima informasi yang disampaikan melalui gambar, video, poster, slide, grafik, simbol (garis bawah, penebalan dengan warna berbeda, modifikasi bentuk huruf). Begitu pula saat menyajikan atau menjelaskan informasi. Metode peta pikiran (mind-mapping) merupakan salah satu contoh tekhnik mengingat dan berfikir yang sangat dinikmati para individu dengan gaya belajar visual. Ketika lupa akan suatu informasi, individu ini kerap kali memejamkan mata dan membayangkan hal tersebut dalam benaknya.

Bagi siswa bergaya belajar ‘Aural’ berbeda. Mereka dapat menerima informasi dengan lebih mudah dan lebih jelas ketika mendengarkan penjelasan orang lain (metode kuliah, ceramah, kaset rekaman), berdiskusi, menderitakan kembali apa yang telah dipelajari kepada orang lain. Individu tipe ini terkadang membiarkan ruang kosong dalam catatannya unuk dilengkapi di lain waktu. Mereka seringkali kurang “pandai” mencatat, dan mencoba melengkapi catatannya melalui teman atau pengajar tentang suatu materi. Metode penyajian informasi terbaik bagi mereka adalah dengan wawancara (secara lisan bukan tulisan). Individu ini dapat memunculkan ingatan dengan baik saat berada di ruang sepi sambil mengucapkan kembali apa yang pernah dipelajarinya.

Tipe gaya belajar ketiga adalah 'Read/Write'. Siswa di tipe ini acap kali membuat ringkasan (dalam bentuk paragraf ataupun butir-butir yang dianggap penting), membaca buku acuan/handout. Di kesehariannya mereka memiliki catatan terlengkap di kelas, sekalipun bukan yang paling rapi. Untuk mengingat suatu materi, mereka seringkali tertolong dengan menuliskan kembali apa yang dipelajari, membayangkan tulisan yang pernah dibaca. Individu ini lebih mudah mengingat dan lihai menyajikan informasi melalui tulisan ketimbang gambar ataupun bagan. Mengingat kurangnya minat dan kemampuan menerjemahkan simbol-simbol visual, individu tipe ini kerap mencatat apa yang diterimanya di kelas kemudian pergi mencari buku acuan dan membacanya secara pribadi.

Terakhir, siswa bergaya belajar ‘Kinesthetic’. Individu tipe ini seringkali membutuhkan contoh nyata (aplikasi dalam pengalaman hidup sehari-hari) untuk mempelajari sesuatu. Tanpa adanya contoh nyata mereka agak kesulitan mempelajari suatu konsep, apalagi yang sifatnya abstrak. Mereka sangat menikmati kegiatan praktikum, dan berbagai aktivitas yang memungkinkan mereka menjalani sekaligus memperagakan sendiri konsep yang sedang atau telah dipelajari. Dalam memberi penjelasan atau memaparkan konsep atau informasi, penggunaan ilustrasi menjadi salah satu pilihannya.

Aplikasi komputer tes gaya belajar

Salah satu tuntutan kompetensi guru adalah memahami karakteristik siswa, diantara karakteristik peserta didik yang perlu diketahui oleh guru adalah gaya belajar siswa. Guru mempunyai kewajiban memahami berbagai ragam gaya belajar siswa, agar dapat menyesuaikan dengan gaya mengajarnya.

Guru tidak bisa memaksakan seorang siswa harus belajar dengan suasana dan cara yang diinginkan oleh guru karena masing-masing anak memiliki gaya belajarnya sendiri apakah itu tipe visual, aural, read/write, maupun kinesthetic. Kemampuan siswa dalam menangkap materi pelajaran salah satunya dipengaruhi oleh gaya/modalitas belajarnya tersebut. Bahkan tidak sedikit siswa yang menurun prestasi belajarnya karena baik di rumah maupun di sekolah siswa dipaksa belajar sesuai dengan gaya belajar orang tuanya dan gurunya bukan sesuai dengan gaya belajar siswa. Hal ini bertolak belakang dengan semangat merdeka belajar dimana salah satu aspeknya adalah pengukuran karakter siswa termasuk gaya belajarnya.

Untuk penentuan tipe gaya belajar, Fleming sudah mengembangkan instrumen tes pengukur tipe gaya belajar siswa yang dapat dicoba di www.vark-learn.com. Instrumen tes tersebut terdiri dari 4 jenis yaitu tes untuk penentuan gaya belajar orang dewasa, gaya belajar anak, gaya belajar guru/trainer, dan gaya belajar atlit. Setiap jenis tes terdiri dari 16 item pertanyaan dalam bahasa Inggris, akan tetapi item pertanyaan selalu berubah sehingga jika digunakan dua kali oleh testee maka akan muncul pertanyaan yang tidak sama dengan tes sebelumnya. Jenis tes bagi guru, jika hasil tipe gaya belajar telah diketahuai akan ada tes lanjutan untuk mengetahui cara/strategi mengajar yang cocok dengan gaya belajarnya. Tes bersifat gratis akan tetapi hanya sampai mengetahui kode tipe gaya belajar saja apakah kode V, A, R, atau K atau multimodal (jika seseorang memiliki beberapa tipe gaya belajar). Sedangkan jika ingin mengetahui penjelasan detail hasil tes akan dikenakan biaya.

Sayang, alat tes gaya belajar Fleming ini dikembangkan baru dalam 35 bahasa dan tidak termasuk bahasa Indonesia sehingga sulit jika akan diterapkan pada siswa-siswa di Indonesia yang tidak menguasai bahasa asing minimal bahasa Inggris. Selain itu, Fleming tidak menjelaskan peruntukan alat tes siswa untuk usia dan jenjang pendidikan sehingga jika tes diterapkan pada siswa SD akan sangat sulit. Juga faktor sosikultural masih belum menjadi bahan pertimbangan, apakah item pertanyaannya bisa dijawab oleh siswa-siswa di Indonesia.

Dari beberapa permasalahan tersebut, penulis selaku Pengembang Teknologi Pembelajaran akan coba mengembangkan alat tes gaya belajar berbasis aplikasi komputer yang diperuntukkan bagi siswa dan guru yang dapat diterapkan sesuai dengan sosiokultur pendidikan di Indonesia.

Referensi

Blackmore, J. (1996). Pedagogy: Learning styles. Diakses darihttp://granite.cyg.net/~jblackmo/diglib/styl-a.html

Bogod, L. (1998): An Explanation of Learning Styles and Multiple Intelligences. Diakses dari http://www.ldpride.net/learningstyles.MI.htm

Dunn, R., & Dunn, K. (1998). The Scheme of Learning Style. Diakses dari http://www.learningstyles.net/n3.html

DePotter, B., & Hernacki, M. (2002). Quantum Learning: Membiasakan Diri Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa

Fleming, N.D. VARK: A Guide to Learning Style. Diakses dari www.vark-learn.com

Fleming, N.D., & Mills, C. (1992). Not Another Inventory, Rather A Catalys For Reflection. To Improve The Academy, 11, 137.

(Dr. Wahsun, Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda LPMP Jawa Timur, email: wahsunlpmpjatim@gmail.com/Judul lengkap artikel: Gaya Belajar VARK, Suatu Tulisan Pengantar Dalam Pengembangan Apilkasi Komputer Tes Gaya Belajar Siswa/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari file dokumentasi sekolah-sekolah yang keunggulan/keunikannya pernah dimuat di rubrik inside school LPMP Jatim)

Tags: