Menguatkan Konsep Diri & Self Esteem Saat BDR

Redaksi 28 Juni 2020

Hidup Guruku -- Membangun konsep diri dan self esteem.

Keberadaan makhluk Covid-19 telah mengajarkan banyak hal kepada manusia. Pengaruh yang luar biasa dirasakan oleh hampir semua Negara. Dunia pendidikan juga, mau tidak mau harus melakukan revolusi sistem pembelajaran, khususnya metode pembelajaran yang “terpaksa” menggunakan alat komunikasi yang awalnya bagi beberapa pihak malah harus dihindari. Ya, gadget menjadi benda yang harus diajak diskusi dengan ramah di masa pandemi ini.

*BDR: Belajar Dari Rumah

Program pelatihan leadership telah menjadi program pilihan favorit di masa liburan semester atau liburan akhir tahun pelajaran. Beberapa sekolah juga melaksanakan kegiatan outdoor, baik berupa outbound, MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa), atau LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) untuk melatih kemampuan kepemimpinan anak didiknya. Tujuan utama dari kegiatan-kegiatan leadership semacam itu adalah agar siswa memiliki kemampuan manajemen diri yang baik. Dengan kemampuan manajemen diri yang baik, maka konsep diri mereka juga akan terbangun dengan baik.

Konsep Diri, Verderber (dalam Sober-2013) mendefinisikan konsep diri sebagai koleksi persepsi individu dari setiap aspek, penampilan diri, kemampuan fisik dan mental, potensial kejujuran, ukuran kekuatan, aspek sosial dan psikologis. Dan konsep diri ini akan mendukung self esteem setiap individu. (Santrock-1998), self esteem merupakan kemampuan seseorang melakukan evaluasi diri tentang dirinya, baik sisi positif maupun negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya, diakui kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya, dan akhirnya mereka mampu menerima keberadaan dan keberartian dirinya sendiri apa adanya.

*Baca juga: Belajar dari Rumah dengan Keterbatasan TeknologiMereka Bukan Anak-anak Kita, Tapi Anak-anak ZamanDesain Bangunan Sekolah Kreatif, Investasi Masa DepanGuru Penggerak Diciptakan, Bukan DilahirkanMengangkat Profesi Guru ke Level yang Lebih TinggiCorona Seharusnya Tak Membunuh Kreativitas GuruMari Jadikan Rumah Sebagai Pusat Gerakan Literasi & Memoles Ulang Wajah Pendidikan Kita

Rangkuman definisi konsep diri dan self esteem dalam bahasa saya sebagai guru adalah, “Bagaimana peran pendidik (orangtua & guru) mampu menciptakan sebuah proses yang membangun kepribadian siswa yang saat ia mengetahui kelemahan dirinya, ia tidak mudah lemah, dan saat ia paham bahwa dirinya bisa ia tidak mudah puas, kemudian berhenti berusaha karena merasa cukup dengan kesuksesannya saat itu saja”. Artinya, pendidikan seharusnya menjadi sebuah proses latihan menjadi manusia yang lebih baik hingga kita tutup usia.

Nah, bukankah saat ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk membangun konsep diri dan self esteem anak-anak saat sebagian besar proses pembelajaran dilakukan bersama keluarga? Dengan mengaktifkan fungsi keluarga sebagai tempat utama anak berproses melihat, merasakan, dan bersiap diri menghadapi kehidupan nyata dengan nilai-nilai luhur yang ada dalam keluarga masing-masing. Pendidikan keluarga akan berdampak luar biasa, karena yang bertutur adalah sang tauladan, ayah dan bunda. Kelekatan anak dan keluarga akan memudahkan kolaborasi, saling memahami kepribadian, menguatkan yang lemah, dan menghormati yang lebih tua.

Mendesain kurikulum rumah

Desain pembelajaran yang asyik dan menyenangkan untuk menumbuhkan konsep diri dan self esteem khususnya bagi anak usia Sekolah Dasar (SD) mutlak diperlukan. Merasa bahagia dalam belajar adalah pintu utama untuk menyukai ilmu pengetahuan, meningkatkan rasa ingin tahu, dan berani mencoba dan belajar menerima resiko dan tanggung jawab. Bagaimanakah desain pembelajaran yang asyik dan menyenangkan saat siswa #belajardarirumah?

Target kompetensi dari program sekolah perlu diramu menjadi desain kurikulum rumah. Oleh karena itu, sekolah wajib memberikan panduan (target pembelajaran, pilihan tugas/proyek, dan bentuk hasil pembelajaran). Orangtua dan anak duduk bersama, berdiskusi, dan mempelajari panduan dari sekolah untuk mendesain kurikulum rumah. Empat langkah yang bisa dilakukan untuk mendesain kurikulum rumah, sebagai berikut:

Pertama; menentukan prioritas tujuan. Orangtua perlu bertanya kepada anak, di mana tingkat kesulitan dan kemudahan (bisa mandiri atau butuh bantuan), butuh waktu lebih pendek atau butuh waktu lama, dan lainnya. Pada kondisi ini, orangtua tidak bisa duduk di kursi orangtua, tetapi orangtua perlu menikmati kursi masa seusia anak-anaknya, tentu dalam ruang waktu yang berbeda. Artinya, karena menikmati kursi masa seusia anak, kemudian tuntutan dan membandingkan kecerdasan orangtua pada masanya dan kecerdasan anak saat ini juga WAJIB sama. Itu yang perlu DIHINDARI.

Kedua; menentukan desain pembelajaran. RPP (Rencana Proses Pembelajaran) juga dibutuhkan dalam mendesain kurikulum rumah, minimal menentukan jadwal kegiatan. Kapan waktunya asah kemampuan motorik, afektif, dan kognitif. Artinya tetap ada waktu berolah raga, bermain, kegiatan literasi, dan menyelesaikan tugas sesuai target. Kebanyakan dari kita “menyepelekan agenda membuat jadwal bersama”. Efek tidak ada jadwal membuat anak merasa ini waktunya libur, jadi suka-suka saya di rumah, dan akhirnya orangtua kesulitan membangun energi #belajardarirumah.

Ketiga; menentukan konsekuensi. Pembelajaran tanpa konsekuensi seperti kita makan dan minum sepuasnya, tapi tidak memahami efek dari makanan yang kita konsumsi. Konsekuensi atau bertanggung jawab merupakan karakter yang dibangun dari kedisiplinan dan memahami akibat dari pilihan sikap. Anak tidak membutuhkan hukuman, tapi mereka butuh belajar menghargai diri dengan usaha dan kemampuannya.

Keempat; merayakan dengan penghargaan. Memuji sesama orang dewasa kadang menimbulkan rasa curiga. Memuji anak-anak sebagai sebuah perghargaan usaha mereka sama dengan membangun kepribadian positif, percaya diri, dihargai, dipercaya potensinya, dan ia memiliki arti penting dalam keluarga.

Jika disain kurikulum rumah dan sekolah kita cantik, maka ketercapaian tujuan pendidikan akan sangat mudah. Dalam dunia belajar, jika anak sudah mencintai gurunya (orangtua di rumah dan guru di sekolah), maka separuh tugas guru sudah selesai. Anak akan mampu menciptakan solusi bukan menciptakan sesak di hati. Dan … jangan-jangan karena itu berawal dari desain kita sendiri. (Hamdiyatur Rohmah, Guru SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya & nara sumber Program MOZAIK di Radio Suara Muslim Surabaya/Judul asli opini/gagasan: Menguatkan Konsep Diri dan Self-Esteem Saat Belajar dari Rumah/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tulisan di atas juga telah dimuat di Harian (Koran) Jawa Pos, Kamis, 14 Mei 2020 dengan judul: Momentum Bangun Konsep Diri dan Self-esteem Anak, versi online dapat dilihat di: https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20200514/282351156960396

Tags: