Mengintip Aplikasi Dapodik Versi 2021

Redaksi 17 Agustus 2020

Hal-hal baru di Aplikasi Dapodik versi 2021

Aplikasi Dapodik (Data Pokok Pendidikan) terus berkembang. Saat ini bahkan telah dirilis aplikasi Dapodik versi 2021 yang tentunya memiliki beberapa perubahan dibanding aplikasi Dapodik versi sebelumnya.

Lantas apa saja perubahan yang ada di dalam aplikasi Dapodik Versi 2021?

Lihat juga: Materi lengkap Bimbingan Teknis Data Pokok Pendidik Dapodik Tahun 2020 di Etalase New Normal

Berita terkait: Mewujudkan Dapodik yang Lebih Berkualitas Perlunya Sempurnakan Kualitas dan Kuantitas Dapodik

Salah satu anggota Tim Pengembang Aplikasi Dapodik (anggota Satgas (Satuan Tugas) Dapodik) dari Kemendikbud RI, Dadan Hamdani mengatakan bahwa dalam aplikasi dapodik versi terbaru terdapat sejumlah perubahan.

“Terdapat penyesuaian. Disesuaikan dengan kebijakan yang ada,” kata Dadan Hamdani dalam Bimtek Operator Dapodik Angkatan 3 yang digelar LPMP Jatim secara virtual beberapa waktu lalu.

“Aplikasi dapodik versi 2021 ini diharapkan dibarengi dengan ketersediaan data yang lebih baik di LPMP, dinas di kabupaten kota. Sehingga ketika akan dilakukan pengambilan kebijakan, yang dipergunakan adalah data yang terbaru,” sambungnya.

Dadan menyebutkan, salah satu perubahan signifikan yang muncul di dalam aplikasi Dapodik versi 2021 adalah terkait sarana dan prasarana.

“Format penghitungannya kami ubah dan sesuaikan. Tapi formatnya sudah tersedia di aplikasi. Sekolah tinggal mengisi berapa persen kerusakannya, berapa persen penurunan pondasi, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Kedua, apabila di semester 2 tahun ajaran 2019/2020, dalam aplikasi dapodik sebelumnya terdapat 2 database yang berbeda, yakni database Paud dan Dikmas serta database Dikdas dan Dikmen, maka di aplikasi Dapodik versi 2021, semua database tersebut dilebur menjadi satu.

“Itu kami jadikan satu, kami gabungkan. Jadi tidak ada lagi dapodik paud, dapodik dikmas, atau dapodik dikdas. Semua jadi satu aplikasi, yaitu aplikasi dapodik. Sehingga dinas pendidikan di kabupaten kota punya kewenangan yang bertambah,” urainya.

Peleburan ini berimplikasi pada jumlah sekolah yang masuk data dapodik. Kalau sebelumnya jumlah sekolah dalam dapodik adalah sekitar 220 ribu sekolah, kini angkanya berubah menjadi sekitar 400 ribu sekolah.

“Nanti dinas pendidikan di kabupaten kota punya kewenangan untuk mengontrol sekolah-sekolah yang jenjangnya paud dan dikmas atau TKBM dan SKB. Maka ini harus dikelola dengan baik agar jenjang-jenjang yang baru bergabung ini bisa menginput dapodik secara maksimal dan datanya berkualitas,” tambah Dadan.

Sementara itu, Dadan mengapresiasi kinerja para admin dan operator dapodik sehingga pada 2019 lalu persentase data yang masuk dapodik telah mencapai 99,10 persen.

“Kami berterimakasih untuk partisipasi aktifnya dalam mengisi dapodik sehingga kami di pusat bisa merekap dan mempunyai data hampir 100 persen. Tentu, dari 99 persen itu, belum tentu kualitasnya baik. Makanya akan ada rapor dapodik dan validasi data dapodik,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Mengintip Hal-hal Baru di Aplikasi Dapodik Versi 2021)

Tags: