Menginisiasi Berbagai Kegiatan Sekolah Melalui Kearifan Lokal

Redaksi 13 Maret 2018

Asril Novian Alifi - Penulis Buku Rockstar Teacher (Bentang Pustaka 2017)

Di rumah saya, masing-masing penghuninya memegang kunci serep pintu rumah. Hal ini dikarenakan sebagian besar penghuni rumah kami memiliki aktivitas di luar rumah yang cukup padat setiap harinya. Tak jarang, rumah jadi sering kosong. Kami pun tak bisa menebak kapan di antara kami yang akan pulang duluan dari aktivitasnya masing-masing. Maka, menggandakan kunci adalah solusi terbaik agar setiap penghuni rumah tidak saling tunggu untuk hanya sekedar ingin masuk rumah.

Untuk urusan memperlakukan kunci rumah ini, saya yakin masing-masing keluarga punya cara yang berbeda-beda. Ada keluarga yang tak perlu menggandakan kunci. Ketika rumah kosong, para penghuni cukup menyimpan kunci di atas kusen pintu, di bawah keset, atau juga di dalam pot tanaman. Tentu dengan diadakan briefing terlebih dulu oleh semua penghuni rumah terkait tempat menyembunyikan kunci, sehingga semua anggota keluarga sudah paham ke mana mereka akan mencari kunci jika saat pulang ke rumah dan melihat pintu rumah masih terkunci.

Hal-hal seperti ini yang sering saya sebut dengan kearifan lokal (local wisdom), sebuah kearifan atau kekhasan yang ada pada ekosistem tertentu, salah satunya adalah ekosistem keluarga. Ya, semua keluarga punya kearifan lokalnya sendiri-sendiri untuk mengatasi berbagai problem yang ditemukan. Selain perihal kunci pintu rumah, mungkin kearifan lokal lain di keluarga yang biasa kita lihat seputar cara menjaga kesehatan. Ada keluarga yang begitu sakit ringan langsung berobat ke dokter, tapi ada juga yang mencoba mengatasinya dengan terlebih dulu memberikan obat-obat tradisional, dan baru ke dokter jika kondisinya tak membaik dari sebelumnya.

Setiap ekosistem, mulai dari yang terkecil, seperti keluarga, sampai yang terbesar, yaitu bangsa dan  negara, pasti punya kearifan lokalnya masing-masing. Biasanya,  kearifan lokal dalam sebuah ekosistem terbentuk dari kebutuhan untuk menyesuaikan dengan kondisi dan karakter tiap-tiap anggota dalam ekosistem tersebut. Karena kondisi dan karakter tiap-tiap ekosistem berbeda, maka kearifan lokal yang terlihat pun jadi sangat beragam.

 

Begitu pula dalam ekosistem sekolah. Setiap sekolah pasti punya kondisi dan karakter yang berbeda-beda, tergantung kondisi alam dan sosio kultural di mana sekolah itu berdiri. Oleh karena itu, masing-masing sekolah tentu memiliki kearifan lokalnya masing-masing. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu memaksimalkan kearifan lokal yang ada disekitarnya. Ia mampu memunculkan kegiatan-kegiatan positif dengan memberdayakan kearifan lokal yang ada, baik itu kegiatan yang bersifat akademik ataupun yang non akademik.

Memaksimalkan kearifan lokal bisa dengan melakukan ‘scanning’ pada lingkungan internal dan eksternal sekolah. Di lingkungan internal, misalnya kita bisa memetakan potensi-potensi apa saja yang dimiliki oleh sumber daya manusia yang ada di sekolah, mulai dari siswa, guru, sampai kepala sekolah. Misalkan jika siswa atau guru-guru kita banyak memiliki potensi kesenian yang baik, maka sekolah bisa membuat program-program untuk memberdayakan keseniannya dengan lebih maksimal.

Atau jika sumber daya manusia yang ada di sekolah mempunyai potensi yang baik di bidang-bidang lain, seperti teknologi, olahraga, akademik dan sebagainya, sekolah juga bisa memberdayakan potensi-potensi itu dengan berbagai jenis program. Sungguh, membuat program berdasarkan kelebihan potensi kita akan jauh lebih terasa ringan dan biasanya juga akan lebih menghemat biaya, karena kita bisa memaksimalkan kelebihan yang kita memiliki untuk memunculkan kreativitas kita.

Kita juga perlu memunculkan kearifan lokal berupa potensi-potensi yang ada di lingkungan eksternal sekolah seperti wali murid, tempat-tempat publik, atau tokoh-tokoh masyarakat di sekitar sekolah kita. Kita bisa memetakan profesi-profesi wali murid yang ada di sekolah kita untuk berkolaborasi menyukseskan satu program tertentu. Misal, jika ternyata kita memiliki wali murid yang banyak bergerak di bidang kesehatan, seperti dokter atau perawat, kita bisa berkolaborasi untuk program-program kesehatan sekolah. Jika kita memiliki banyak wali murid yang bergerak di paguyuban pertanian, kita bisa mengadakan ‘outing’ untuk sharing tentang bagaimana proses pengelolaan hasil pertanian sampai bisa sampai ke tangan konsumen. Akan lebih asik lagi kalau itu dihubungkan dengan materi-materi pelajaran di kelas.

Kita juga bisa memetakan ruang-ruang publik atau tokoh-tokoh masyarakat sekitar sekolah yang bisa kita ajak untuk berkolabrasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Di buku saya yang berjudul: “Rockstar Teacher” (Menciptakan Kelas yang Bahagia dan Menyenangkan ala Rockstar), saya menuliskan beberapa contoh kolaborasi yang bisa dilakukan oleh sekolah dengan ruang publik, seperti belajar tentang kedisiplinan di kantor polisi, belajar tentang jual beli di supermarket, dan lain-lain. Belajar bersama tokoh-tokoh masyarakat pun juga bisa menjadi kegiatan yang menarik. Teknisnya, bisa siswa-siswa yang berkunjung di tokoh tersebut, atau tokoh tersebut yang diundang ke sekolah untuk memberikan inspirasi. Sekali lagi, semua kegiatan kolaborasi itu bisa dihubungkan dengan kegiatan kurikuler atau ekstrakulikuler di sekolah.

Dengan menyadari kearifan lokal yang ada di dalam maupun di lingkungan sekitar sekolah, lantas kemudian memberdayakannya dengan maksimal, peserta didik di sekolah kita akan lebih memahami substansi materi-materi yang dihadirkan di sekolah, baik materi akademik maupun non akademik. Materi-materi tersebut jauh lebih mudah ditangkap oleh peserta didik karena bersifat kontekstual dengan terjun langsung ke tempat yang berhubungan dengan materi atau juga langsung diampu oleh ‘para expert’. Suasana belajar di sekolah pun jadi lebih variatif karena siswa tidak hanya monoton duduk di kelas mendengarkan guru mengajar, tapi mereka juga bisa berinteraksi dengan berbagai banyak pihak dan juga mendapatkan inspirasi proses interaksi itu. Masyarakat pun juga jadi lebih dekat dengan sekolah, lantaran sering terlibat kolaborasi dengan sekolah.

Jika semua sekolah berhasil menciptakan kondisi yang demikian, maka tiap-tiap sekolah akan memiliki warna masing-masing, karena saya yakin kearifan lokal (local wisdom) yang ada di setiap daerah tempat sekolah itu berdiri pasti akan menjadi ciri khas sekolah tersebut. Dengan demikian, sekolah tidak hanya melakukan tugas untuk mencerdaskan siswa didiknya, tapi juga sudah menciptakan lingkungan sosial yang lebih berdaya. 

 

Tags: