Mengenal Prinsip-prinsip Pembelajaran Paradigma Baru

Redaksi 17 Februari 2022

Pemerintah pusat melalui Kemendikbudristek berkeinginan mewujudkan profil Pelajar Pancasila yang tertuang dalam 6 dimensi.
 
Dimensi-dimensi tersebut, menjadi penuntun arah untuk memandu segala kebijakan dan pembaruan dalam sistem pendidikan Indonesia, termasuk pembelajaran dan asesmen.
 
Upaya mewujudkan profil Pelajar Pancasila ini merupakan paradigma pendidikan kita yang baru.
 
Dr. Amiruddin, Widyaprada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Timur, dalam sesi Sharing Knowledge yang digelar beberapa waktu lalu (Kamis, 13/1/2022), mengatakan bahwa setidaknya terdapat 5 prinsip pembelajaran paradigma baru. Prinsip-prinsip ini berfungsi sebagai nilai-nilai yang mendasari pelaksanaan pembelajaran dan asesmen.
 
Simak berbagai kegiatan kami melalui Kanal You Tube LPMP Provinsi Jawa Timur
 
 
Yang pertama, pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan.
 
Prinsip kedua, pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
 
Ketiga, proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik.
 
Keempat, pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya peserta didik, serta melibatkan orangtua dan masyarakat sebagai mitra.
 
“Dan yang kelima, pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan,” sambungnya.
 
Amiruddin menjabarkan, dalam setiap prinsip tersebut, ada hal-hal yang menjadi kewajiban satuan pendidikan untuk dilakukan.
 
Sebagai contoh, dalam mengimplementasikan prinsip pertama, satuan pendidikan harus melakukan analisis terhadap kondisi, latar belakang, tahap perkembangan dan pencapaian peserta didik sebelumnya dan melakukan pemetaan.
 
Kemudian, satuan pendidikan juga harus melihat tahap perkembangan sebagai kontinum yang berkelanjutan sebagai dasar merancang pembelajaran dan asesmen.
 
“Satuan pendidikan juga bertugas menganalisis lingkungan sekolah, sarana dan prasarana yang dimiliki peserta didik, pendidik, dan sekolah, untuk mendukung kegiatan pembelajaran,” imbuhnya.
 
Berikutnya, satuan pendidikan, harus menurunkan alur tujuan pembelajaran sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
 
“Yang tidak kalah penting, satuan pendidikan harus melihat segala sesuatu dari sudut pandang peserta didik. Karena ini adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, maka segala sesuatu yang dipertanyakan pertama adalah, bagaimana dengan peserta didik kita?" tambahnya.
 
Amiruddin mengingatkan, berbicara tentang paradigma pembelajaran, pasti tak lepas dari membicarakan kurikulum sekolah.
 
Nah, dalam mewujudkan paradigma pembelajaran yang baru, Kemendikbudristek telah menyiapkan struktur kurikulum, yakni penjabaran mata pelajaran beserta alokasi jam pembelajaran, serta menyiapkan capaian pembelajaran yang merupakan kompetensi dan karakter yang ingin dicapai setelah menyelesaikan pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.
 
“itu yang disiapkan oleh pemerintah. Selanjutnya tugas satuan pendidikan ialah membuat kurikulum operasional dan perangkat ajar. Prinsipnya, di sini satuan pendidikan diberikan kemerdekaan untuk memilih atau memodifikasi contoh kurikulum operasional dan perangkat ajar  yang tersedia, atau membuat sendiri sesuai dengan konteks, karakteristik, serta kebutuhan peserta didik," pungkasnya. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan LPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: