Mengenal HOTS & Rencana Pembelajarannya

Redaksi 26 Juni 2020

Surabaya - High Order Thinking Skills (HOTS) atau Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi adalah salah satu kemampuan yang perlu dimiliki oleh anak-anak didik. Menurut Dr. Budi Winasis MM, Widyaiswara LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Jatim, untuk mewujudkan kemampuan ini pada anak, diperlukan perencanaan yang matang oleh para guru.

Dalam Bimtek Perencanaan Pembelajaran Berbasis HOTS yang digelar oleh LPMP Jatim secara daring beberapa waktu lalu (Selasa, 16/6/2020), Budi mengatakan bahwa HOTS adalah level berikutnya setelah anak didik menguasai kemampuan berpikir tingkat rendah atau LOTS (Low Order Thinking Skills) dan MOTS atau Middle Order Thinking Skills atau kemampuan berpikir tingkat menengah.

*Info & berita terkait: Ikhtiar Membuat Guru SD Makin HOTSBimtek Perencanaan Pembelajaran yang HOTS5 Kompetensi Wajib Guru di Pembelajaran New NormalGuru Tidak Mengajar Sendiri di Kala Pandemi Mengembangkan Karakter Anak lewat Penilaian Sikap

*Silahkan unduh (download) materi 1, materi 2 & materi 3

“Bedanya, LOST mengarahkan pada kemampuan mengingat dan memahami. Kemudian MOTS menekankan para penerapan,” kata Budi Winasis.

Sedangkan HOTS, lanjut Budi, tidak lagi sekadar mengajar anak untuk mengingat atau recall, menyatakan kembali atau restate, atau merujuk tanpa pengolahan.

“Tapi pada prinsipnya berpikir tingkat tinggi adalah cara berpikir logis, atau proses penalaran dalam menyelesaikan sebuah masalah atau soal. Perlu diingat bahwa soal yang sulit bukan soal yang HOTS. Atau soal HOTS tidak selalu sulit. Ada tingkatan-tingkatannya.

Dalam HOTS, proses kognitifnya meliputi analisis, evaluasi, dan mencipta. Dengan kegiatan-kegiatan itu, anak didik akan diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, mampu memecahkan masalah, serta mampu membuat kesimpulan.

Untuk menerapkan pembelajaran berbasis HOTS, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh oleh guru. Pertama, guru harus menganalisis kompetensi dasar (KD) dari berbagai mata pelajaran dan menentukan apakah kompetensi dasar itu sudah pada kemampuan HOTS atau belum.

“Kedua, kompetensi dasar itu dikembangkan melalui kisi-kisi soal. Sehingga, guru memang harus juga menyiapkan format kisi-kisi soal,” lanjut dia.

Ketiga, guru juga dapat menggunakan stimulus yang menarik dan kontekstual. Stimulus tersebut bisa berupa teks atau bacaan, cerita, gambar, diagram, peta, dan sebagainya.

Serta, yang tidak kalah penting adalah membuat pedoman penilaian atau kunci jawaban. Yang harus kita ketahui juga, dalam HOTS, soal-soalnya harus berbasis pada permasalahan yang nyata atau kontekstual,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Mengenal HOTS dan Implementasinya Dalam Perencanaan Pembelajaran/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Foto Dokumentasi Kegiatan LPMP Jawa Timur) 

Tags: