Mengangkat Profesi Guru ke Level yang Lebih Tinggi

Redaksi 14 Maret 2020

Kebijakan Merdeka Belajar yang dicetuskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI di bawah kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim menempatkan guru sebagai ujung tombak dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Dasar pertimbangannya, guru adalah sosok yang paling tahu perkembangan dan kemampuan para siswa (anak didik) karena sehari-hari berinteraksi dengan mereka. Karena itu pula, guru diharapkan mampu membuat terobosan-terobosan untuk memastikan anak didiknya mendapatkan ilmu yang terbaik dan termotivasi meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya. Oleh Mendikbud, guru-guru diharapkan bisa menjadi guru penggerak.

Nyatanya, melahirkan sosok-sosok guru penggerak tidak semudah membalik telapak tangan. Setidaknya, bila merujuk pada Patricia Miller dalam Ten Characteristics of a Good Teacher (1987), ada 10 karakter yang harus dimiliki oleh guru untuk memastikan kegiatan belajar dan mengajar dapat melahirkan generasi-generasi yang cerdas sekaligus bermoral.

Menurut Miller, sepuluh karakter  yang harus dimiliki oleh guru adalah antusias mengajar, kreatif, bisa menciptakan suasana kelas yang lebih menyenangkan, bisa membuat anak merasa tertantang, sabar dan bisa mendorong anak menjadi lebih berani serta tidak mudah menyerah terhadap anak didik.

Karakter lainnya, guru harus mengenal anak-anak didiknya dan tahu apa yang membuat mereka tertarik, selalu bisa memberikan penjelasan-penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan dari para siswa, bersedia meluangkan lebih banyak waktu untuk menjawab pertanyaan dari para siswa bahkan ketika tidak dalam kelas sekalipun, serta bisa memperlakukan siswa-siswanya secara setara dan tidak membawa emosi-emosi atau problem pribadinya ke dalam kelas.

Sepuluh karakter tersebut, oleh Miller dirangkum dalam empat kompetensi utama yakni kemampuan afektif, keterampilan, teknik manajemen kelas, dan pengetahuan akademik.

Mewujudkan karakter-karakter seperti yang disebutkan oleh Miller bukanlah upaya yang mudah. Namun, Kemendikbud tentu sudah punya strategi yang mesti didukung bersama. Salah satunya, dalam rangka kebijakan Merdeka Belajar, saat ini Kemendikbud mulai melibatkan organisasi-organisasi penggerak untuk mendongkrak kualitas guru dan kepala sekolah.

Dikutip dari artikel Jawa Pos edisi 11 Maret 2020, Plt Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Suprianto menyebutkan bahwa organisasi-organisasi penggerak yang dimaksud harus memiliki rekam jejak yang baik dalam implementasi program pelatihan guru dan kepala sekolah. Harapannya, model-model pelatihan yang diterapkan, nantinya dapat meningkatkan kemampuan profesional para pendidik. Tentu saja, semua itu nantinya akan bermuara pada peningkatan kualitas proses belajar serta hasil belajar para siswa.

Terkait organisasi penggerak itu, Kemendikbud memberi kesempatan kepada organisasi-organisasi masyarakat yang ingin berpartisipasi. Pendaftarannya pun telah dibuka pada 2 Maret 2020 lalu dan akan berakhir pada 16 April 2020 mendatang.

Kualifikasi

Meski batas akhir pendaftaran organisasi penggerak masih terbilang lama, namun hingga pekan kedua sejak awal pendaftaran, Suprianto menyebut sudah ada 3.300 organisasi penggerak dan 12 ribu individu yang mendaftar. Nantinya, dari sekian banyak pendaftar akan dipilih sejumlah proposal yang paling menarik dan sesuai dengan kebutuhan.

Lantas, kira-kira organisasi penggerak seperti apa yang dibutuhkan oleh Kemendikbud? Kualifikasi apa yang kita butuhkan dari mereka?

Dalam benak penulis, selain harus dapat menjawab tantangan seperti yang dijabarkan oleh Miller di atas, organisasi-organisasi penggerak ini setidaknya bisa mencontoh dari sejumlah organisasi atau lembaga di negara-negara maju yang terbukti sukses menciptakan terobosan dalam program pendidikan untuk guru.

Kalau boleh memberi contoh, setidaknya ada beberapa contoh yang bisa dibeberkan di sini. Pertama, adalah terobosan yang dilakukan oleh TEACH-NOW Graduate School of Education, sebuah lembaga di Amerika Serikat yang sejak 2011 berfokus menyiapkan para calon pendidik melalui program-program yang melibatkan pemanfaatan teknologi dengan tujuan untuk memberdayakan guru-guru masa depan untuk siswa-siswa di masa depan pula. Pemanfaatan teknologi ini menjadi sangat penting karena di masa kini dan di masa mendatang, anak-anak sudah dan akan menjadi lebih akrab dengan perkembangan teknologi. Karena itu, para guru pun semestinya harus mengakrabi dan senantiasa update dengan perkembangan teknologi terkini.

Contoh lainnya adalah Houghton College di New York, Amerika Serikat. Lembaga ini menerapkan proses mentoring yang sangat intens dan sangat dekat terhadap para calon guru yang mereka bina. Proses mentoring ini dilakukan di semua aspek, baik dalam praktik maupun dalam pembelajaran di kelas. Dengan komunikasi yang sangat intens ini, diharapkan perkembangan para calon guru dapat terpantau dengan baik hingga pada akhirnya dapat menjalankan tugas-tugasnya sebagai guru dengan sangat baik.

Berikutnya, di Kean University yang terletak di New Jersey, Amerika Serikat, calon-calon guru tidak hanya dididik untuk mampu memberikan pengalaman belajar terbaik bagi para siswanya kelak di kelas. Di sini, para calon guru juga dibekali kemampuan untuk menjadi administrator yang mahir mengelola sekolah, termasuk membuat kebijakan-kebijakan penting. Harapannya, calon guru ini tidak hanya berkembang secara personal, namun juga secara profesional.

Tak kalah menarik adalah praktik yang dijalankan oleh Peabody College of Education and Human Development yang berada di bawah Vanderbilt University, juga di Amerika Serikat. Di sini, para calon guru didorong untuk aktif membuat riset-riset ilmiah dan memaparkannya di berbagai konferensi. Lewat konferensi-konferensi inilah, para calon guru yang mereka didik dapat bertemu dengan orang-orang yang kompeten di dunia pendidikan yang datang dari berbagai negara. Di konferensi itulah, para calon guru mereka dapat belajar dan meniru praktik-praktik baik yang telah dijalankan di negara lainnya.

Semua contoh di atas hanyalah sebagian dari praktik-praktik baik yang telah dijalankan lembaga-lembaga pendidikan yang fokus untuk menciptakan guru-guru yang profesional, visioner, serta inovatif. Tentunya, masih ada lebih banyak lagi praktik-praktik baik yang dapat ditiru oleh lembaga-lembaga pencetak calon guru di Indonesia, termasuk organisasi-organisasi penggerak yang akan bersinergi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tentu kita juga berharap organisasi-organisasi penggerak yang nantinya akan digandeng oleh Kemendikbud RI dapat melahirkan inovasi yang jauh lebih baik ketimbang contoh-contoh yang sudah ada di berbagai tempat. Ketika semua itu dapat diimplementasikan dengan efektif, mimpi kita bukan lagi hanya untuk mencetak generasi-generasi cemerlang untuk Indonesia di masa depan, namun sekaligus juga dapat mengangkat profesi guru ke level yang lebih tinggi. Seiring dengan itu, kita berani meyakinkan diri kita bahwa kelak tak akan ada lagi terdengar cerita-cerita viral tentang guru yang disepelekan oleh anak didiknya sendiri.  Sebaliknya, yang lebih banyak kita dengar adalah kisah tentang sosok-sosok guru berprestasi yang mampu mengubah peradaban. (BagusPriambodo/ Foto atau ilustrasi dipenuhi dari file dokumentasi sekolah-sekolah yang keunggulan/keunikannya pernah dimuat di rubrik inside school LPMP Jatim)

Tags: