Mengajar Menulis melalui Lukisan

Redaksi 18 Oktober 2021

Global Knowledge - Ketika siswa fokus pada apa yang bisa mereka lihat, dengar, sentuh, cicipi, dan cium dalam sebuah karya seni, imajinasi mereka dan keterampilan menulis esainya akan berkembang.
 
 
 
Berikut transkrip dalam bahasa Indonesia:
 
Setiap tahun Lori Brenneise, guru budaya dunia di KIPP Schools di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat, melakukan latihan bersama siswanya yang dapat membantu keterampilan menulis esai dan kreativitas mereka. Mereka menyebutnya, ”Melukis dengan Kata-kata.”
 
Ini adalah langkah awal untuk membangun penulis yang lebih baik. Sebab, jika seorang siswa merasa takut setiap kali mulai menulis, maka mereka akan selalu bergelut dengan perasaan takut itu.
 
 
Namun, kalau melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan, mereka justru tidak sabar lagi untuk memulai menulis. Latihan ini memakan waktu sekitar 1 minggu. Lori mengaturnya dengan menggunakan panca inderanya.
 
Hari pertama:
 
Lori membagikan beberapa karya seni secara acak kepada siswa. Setiap orang mendapat satu lukisan pemandangan.
 
Lori meminta mereka menulis, “Apa yang bisa saya lihat di lukisan itu.” Biasanya, ini dimulai dengan kalimat yang sangat sederhana. Saya meminta siswa untuk menjelaskan sedikit lebih detail.
 
Begitu mereka mendapatkan ide untuk menggunakan kata sifat sederhana, di sinilah Lori mulai membahas tentang perumpamaan dan metafora. Lori tidak mengoreksi kalimat siswa pada saat itu, karena ingin mendorong kreativitas mereka. Jika kalimatnya canggung tetapi deskriptif, ikuti saja ide mereka ini.
 
Hari kedua:
 
Pertanyaan untuk hari kedua adalah, ”Apa yang bisa saya dengarkan dalam lukisan itu.” Pada saat itu juga, siswa akan melihat anda seolah-olah telah kehilangan akal sehat.
 
Lori kemudian menyuruh mereka menutup mata, dan membayangkan apa kira-kira yang akan didengar siswa saat melihat sekeliling lukisan itu. Lalu, Lori melakukan hal yang sama seperti sehari sebelumnya. Dia meminta siswa mengembangkan kalimat-kalimat yang disusunnya dan menjelaskan sedikit lebih detail.
 
Hari ketiga:
 
Lori memberitahu siswa untuk bergerak mengelilingi lukisan dalam pikirannya. Mereka menulis, “Apa yang bisa saya sentuh.” Pada hari ketiga ini, Lori sangat jarang memberitahu siswa untuk mengembangkan kalimat-kalimatnya. Pikiran dan imajinasi mereka bergerak liar, bebas.
 
Hari keempat:
 
Pertanyaan hari keempat adalah “Apa yang bisa saya cicipi dan cium dalam lukisan itu.” Lori merasa segalanya berjalan lebih baik ketika menggabungkan indera perasa dan penciuman, sebab kedua indera ini sangat terkait erat.
 
Hari kelima:
 
Hari kelima adalah hari terakhir menyusun draft tulisan, yaitu satu paragraf untuk masing-masing indera mereka. Siswa tidak diharuskan menggunakan semua kalimat yang sudah ditulis sebelumnya, hanya yang dirasa terbaik saja.
 
Lori menggunakan tulisan esai siswa ini untuk membuat sebuah buku. Secara langsung, tindakan ini membuat siswa merasa seperti seorang penulis sejati, karena karyanya akan diterbitkan. Tentu, ini membangun kepercayaan diri mereka sebagai penulis dan sekarang mereka tidak sabar untuk tugas menulis berikutnya.
 
Menggunakan lukisan pemandangan, guru Lori Brenneise mengubah menulis esai menjadi kegiatan yang menyenangkan. Setiap hari, siswa menyusun tulisan esainya, dipandu oleh panca indera mereka.
 
Brenneise telah menerapkan kegiatan ini untuk semua tingkatan kelas. Dia menjelaskan cara ini sebagai langkah terbaik untuk memperkenalkan siswa kelas 2 dan 3 SD menyusun tulisan mereka dalam bentuk paragraf.
 
Lori juga telah mengaplikasikan kegiatan ini untuk siswa SMP dan SMA dengan tujuan mendorong kemampuan penulisan deskriptifnya. Bahkan, diterapkan pula untuk siswa kelas Bahasa Inggris yang membantu “mengembangkan kosa kata mereka karena memicu untuk mempelajari kata-kata baru, serta mengatasi rasa takut siswa menulis dalam bahasa kedua mereka.”
 
Banyak museum besar memiliki koleksi lukisan pemandangan dan lanskap perkotaan. Beberapa menyediakan akses secara online. Atau lebih baik lagi, bermitra dengan galeri seni lokal sekaligus bisa mengenal nama seniman daerah. (Bagus Priambodo/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: