Mengajar Bukan Sekadar Penerapan Praktik-Praktik Mengajar

06 Januari 2023

Global Knowledge - Mengajar bukan sekadar perihal mengikuti “serangkaian sarana dan strategi evidence-based saja,” kata guru veteran bahasa Inggris SMA Renee Moore pada Kristina Rizga dalam sesi wawancara bersama majalah The Atlantic seri “On Teaching”. Menurut Moore, sarana mengajar yang paling efektif adalah karakteristik yang secara tidak langsung bisa memenuhi kebutuhan dasar manusia dari komunitas kelas yang beragam—seperti empati, kebaikan hati, menghormati kehidupan dan minat masing-masing siswa.
 
Maksud dari bukan sekedar perihal mengikuti “serangkaian sarana dan strategi evidence-based saja” di paragraf 1 di atas: bukan hanya menerapkan “strategi pengajaran berbasis bukti saja”
 
Berangkat dari kepedulian, Rizga mengungkapkan, guru yang baik membangun hubungan yang mendalam dengan siswa terlebih dahulu sebelum kemudian “berkomitmen menerapkan praktik mengajar yang penuh pertimbangan dan bermanfaat serta memahami setiap siswa. Sedangkan untuk master teacher (individual yang ahli dalam kurikulum pendidikan dan mendukung staf pendidik lain dalam pengembangan program, rencana pelajaran mingguan, dll.) harus menjadi pelopor pedagogi yang akan diterapkan-yang mana dalam menemukan kombinasi praktik yang tepat, master teacher harus mengetahui kebutuhan setiap siswa.
 
Rizga melakukan perjalanan ke seluruh penjuru negeri selama dua tahun demi seri “On Teaching” ini dan mewawancarai beberapa guru veteran yang paling berprestasi di Amerika untuk menggabungkan pengetahuan atau wawasan mereka dan mencari tahu “apa saja yang membantu para guru veteran ini memaksimalkan potensi siswa mereka.” Hasilnya adalah sekumpulan cerita menginspirasi yang menyinggung berbagai masalah mulai dari ras dan budaya hingga tips mengajar secara remote.
 
 
Kami menyimpulkan beberapa pemikiran paling penting dan konstruktif yang menjelaskan pola pikir guru selama puluhan tahun mengajar di kelas dan yang membantu mereka menginspirasi siswa yang paling pendiam untuk tumbuh dan belajar.
 
Memahami setiap siswa
 
Menurut guru bahasa Inggris SMA Pirette McKamey, usaha mengenal siswa termasuk memerhatikan dan mendengarkan siswa saat mereka berbicara di kelas atau di lorong, dan mengamati bagaimana siswa mengekspresikan diri mereka melalui tugas mereka. “Setiap kali siswa mengerjakan tugas, mereka mengomunikasikan pemikiran mereka,” kata McKamey, yang sekarang menjadi kepala sekolah di Mission High School di San Francisco. “Ada banyak kemungkinan bagi guru untuk mengabaikan dan tidak memerhatikan siswa, tidak mendengarkan siswa, dan menolak siswa.”
 
Ini juga bisa berarti mendapat kesempatan untuk memahami siswa secara individu. Moore mengingat ada seorang siswa berusia 17 tahun yang, meskipun unggul di kelas matematika, kesulitan menulis di kelas bahasa Inggris. Setelah mengobrol dengan siswa tersebut, ia menyadari siswa tersebut bersemangat saat membahas tentang olahraga dan keluarga—topik penulisan yang ia sarankan untuk siswa tersebut, yang akhirnya membuat hasil tulisannya lebih kompleks dan hidup. Ia juga merekam percakapannya dengan siswa tersebut dan meminta sang siswa untuk menyalin rekaman itu tanpa perlu mencemaskan adanya kesalahan ejaan dan tata bahasa. Latihan yang seperti ini memungkinkan siswa tersebut sadar akan kemampuannya dalam “menghasilan ide-ide unik dan menganalisis” dan juga sebagai tanda bagi Moore untuk mulai mengajari siswa tersebut tata bahasa dan menulis. Siswa tersebut menjadi anak pertama dari enam bersaudara yang lulus dengan ijazah SMA.
 
 
Pengalaman tersebut “mengajarkan saya betapa efektifnya praktik mengajar kita jika sudah mengenal siswa,” kata Moore sambil menjelaskan hubungan yang erat antara membangun hubungan dengan siswa dan meningkatkan hasil akademik siswa. Alih-alih merancang pedagogi sesuai kebutuhan individu siswa, “kami mengajari siswa dengan sistem pengajaran konvensional dan itu membuat kami sering menyerah terlalu cepat karena siswa tidak mampu mencapai target yang diharuskan oleh sistem tersebut. Saat mereka gagal, kami berkata mereka tidak siap untuk belajar atau mereka kurang kompeten. Tapi sebenarnya mereka hanya tidak ada dalam rencana mengajar kita: tidak ada hubungannya dengan potensi atau kemampuan bawaan mereka”.
 
Saat Moore melakukan survei pada siswanya untuk proyek penelitian pada tahun 2000 tentang praktik mengajar bahasa Inggris yang baik, prediksinya terbukti: Siswa belajar dengan baik saat guru “memperhatikan dan mendengarkan mereka sebagai seorang individu, membantu mereka memahami kelebihan mereka, dan menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan impian masa depan mereka.” Alih-alih mengakui dan mendukung usaha siswa, guru malah fokus ke masalah sepele seperti terlambat masuk kelas atau tata bahasa yang buruk, siswa jadi merasa putus asa.
 
Merenungkan praktik mengajar di  kelas
 
Meluangkan waktu dan mengosongkan pikiran untuk merenungkan kembali praktik mengajar atau pengajaran di kelas—terutama setelah mengajar seharian, menilai tugas, menjawab pertanyaan siswa dan keluarga mereka, dan mempersiapkan pelajaran hari berikutnya—memang menantang tapi sangat penting demi mewujudkan pengajaran yang baik. Perenungan ini juga bukan sekadar merenungkan tentang pedagogi kita saja.
 
 
McKamey terbisa memanfaatkan waktunya untuk mempelajari apa saja yang dia amati tentang siswanya hari itu. “Misalnya, ia mencatat setiap bahasa tubuh yang mungkin menunjukkan ketidaktertarikan siswa seperti wajah tanpa ekspresi atau kepala yang ditaruh di atas meja,” tulis Rizga. Ia juga mencatat keterlibatan siswa, misalnya saat ia melihat siswa mengobrol secara spotan tentang tugas atau mengerjakan tugas tambahan. “Keesokan harinya, McKamey mengombinasikan apa saja yang sudah ia amati dan menyesuaikan rencana pelajarannya untuk hari berikutnya.”
 
Belajar dari rekan kerja 
 
Berbicara tentang hubungan produktif, guru juga harus bisa memecahkan masalah menggunakan solusi yang kreatif: mengakui dan memanfaatkan kemampuan rekan kerja adalah ciri seorang master teacherPeer networks (relasi dengan rekan) memungkinkan pendidik belajar dari satu sama lain, meningkatkan praktik mengajar mereka, dan mendapat relasi tambahan yang bisa membantu mereka tetap merasa terhubung dan tetap berada di bidangnya.
 
Bagi sebagian besar pendidik berpengalaman, peer networks adalah “mekanisme utama untuk mentransfer pengetahuan secara kolektif dan memperoleh pengetahuan yang tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca buku atau mendengarkan pelajaran, contohnya merancang rencana pelajaran sesuai dengan tempo dan ritme yang tepat untuk siswa serta fokus ysng jelas, atau membangun hubungan yang positif diantara siswa,” tulis Rizga dalam seri itu.
 
“Saat mereka dalam kesulitan—mereka semua mengakuinya—mereka berunding dengan rekan-rekan di sekolah, guru-guru di asosiasi profesional atau komunitas online. Dan kelompok guru ini bersama-sama mengidentifikasi tantangan yang dihadapi siswa dan membuat rencana yang pelajaran yang disesuaikan dengan masing-masing siswa,” lapor Rizga.
 
Pentingnya perencanaan tim
 
 
Saat guru berbagi pengatahuan atau wawasan mereka dan membuat rencana bersama-sama, mereka berkolaborasi lintas mata pelajaran akademik dengan cara yang baru dan kreatif, Rizga menulis, membuat pelajaran dan program yang bermanfaat “yang cenderung spesifik secara budaya dan menggambarkan realitas hidup siswa mereka.”
 
Contohnya guru bahasa Inggris Judith Harper yang berkolaborasi dengan rekan pengajarnya di Mesa, Arizona untuk membantu meningkatkan kemampuan public speaking, wawancara, dan menulis esai tingkat perguruan tinggi siswanya. Banyak dari siswanya berasal dari “kelas pekerja (buruh) dan keluarga Latin yang tidak menggunakan bahasa Inggris di rumah,” dan dengan mengembangkan kemampuan-kemampuan ini bisa membuka peluang baru untuk mereka. Rebecca Palacios, pendidik anak usia dini di Corpus Christi, Texas berkolaborasi dengan rekan pengajarnya untuk meluncurkan program pembinaan yang bisa membantu orang tua siswanya yang berasal dari bangsa Latin untuk belajar bagaimana cara mendukung kemampuan membaca anaknya di rumah. (Jelita (Jendela Literasi Kita)/Sumber terjemahan: Edutopia/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: