Mendigitalisasi Konten Bahan Bacaan

Redaksi 18 Oktober 2020

Liputan Khusus - Kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan dan terdiri dari ribuan pulau, salah satunya berdampak dalam hal tingkat pemerataan pendidikan. Yang turut menjadi bagian dari upaya pemerataan pendidikan itu ialah percepatan pertumbuhan tingkat literasi di kawasan-kawasan 3T melalui penyediaan bahan bacaan berkualitas bagi anak-anak didik.
 
Reza Syarief dari Let’s Read the Asia Foundation mengatakan, kondisi geografis Indonesia sangat luas sehingga menyebabkan biasa distribusi buku menjadi mahal. Padahal, sebagai organisasi yang memiliki concern terhadap upaya meningkatkan kemampuan literasi, Let’s Read merupakan jembatan untuk menyambungkan para donatur buku dengan anak-anak maupun masyarakat yang membutuhkan buku.
 
“Itu salah satu alasan mengapa kemudian Let’s Read hadir dengan menyediakan bahan bacaan berformat digital yang dapat diunduh secara gratis lalu dicetak sendiri,” ujar Reza Syarief.
 
Persoalan lain yang mendorong kehadiran Let’s Read adalah masih rendahnya tingkat keterampilan anak-anak Indonesia dalam berbahasa Inggris. Padahal, kebanyak buku yang diterima dari para donatur Let’s Read adalah buku berbahasa Inggris.
 
“Selain itu, persoalan lainnya adalah cerita bergambar untuk anak yang masih langka dan mahal, serta kontennya belum beragam,” sambungnya.
 
Reza menerangkan, bahan bacaan untuk anak yang diterbitkan secara digital oleh Let’s Read didesain untuk penggunaan rumahan. Mereka percaya, pendidikan anak seharusnya dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga.
 
“Karena itu aplikasi Let’s Read ini ringan, hanya 4 megabyte. Kontennya berbahasa daerah, berjenjang, bertema, interaktif, dan multiformat,” imbuh Reza.
 
Terkait sumber koleksi, Reza mengatakan bahwa bacaan yang mereka distribusikan secara digital, bersumber dari koleksi BookLab yang menyelenggarakan lokakarya dan memberdayakan penulis serta para ilustrator lokal.
 
Sumber koleksi berikutnya adalah donasi. Reza mengatakan bahwa Let’s Read juga menerima sumbangan buku dari berbagai lembaga serta penerbit. Tak hanya itu, juga ada buku-buku terjemahan yang diperoleh dari kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
 
Secara keseluruhan, saat ini Let’s Read memiliki koleksi lebih dari 700 judul buku yang 150 diantaranya diterbitkan dalam BookLab. Kemudian, ada 3.200 buku, termasuk buku yang diterjemahkan ke 27 bahasa.
 
“Penggunanya ada lebih dari 134 negara,” tuturnya.
 
Kolaborasi yang diinisiasi Let’s Read pun terbilang besar. Saat ini mereka telah melibatkan 120 kreator yang terdiri dari penulis dan ilustrator, kemudian 370 penerjemah serta 1.600 duta baca.
 
“Duta baca ini salah satu tugasnya membaca nyaring yang audionya didistribusikan secara digital juga,” urainya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Mengurangi Hambatan Geografis Dengan Digitalisasi Konten Bahan Bacaan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari https://reader.letsreadasia.org/)

Tags: